Summertime

Senin, 31 Maret 2014

A Letter to Twenty Five.

Tahu kah kamu? Dulu, sebelum aku mengenalimu, sungguh aku remaja polos yang sama seperti yang lain, pada umumnya. Aku remaja yang bisa dikendalikan oleh siapa saja, pada saat itu. Aku masih terlihat bodoh, sama seperti yang lain. Remaja yang masih saja berpikir bahwa cinta itu perlu dikejar habis-habisan. Memang benar, tetapi tidak seperti itu lebih lengkapnya.
Kamu datang, memulai perbincangan tentang apa yang saling aku dan kamu pahami. Bodoh memang, aku masih saja tidak mengerti bagaimana ciri-ciri 'pdkt' itu. Aku hanya membalas, menanyakan, dan mendebatkan hal yang sangat aku dan kamu pahami. Hanya itu, aku tak merangkum lebih.
Saat itu, aku melihat fotomu. Jantungku terasa berlomba-lomba dengan lengkungan senyumanku. Sejak saat itulah, ada perasaan yang lain mencampuri perbincangan aku dan kamu.
Kamu mengatakan, kamu menyukai aku. Saat itu, kamar tidurku berubah menjadi pesta perang bantal semalam, hanya aku dan hatikulah yang menjadi pesertanya.
Aku bersamamu. Kamu tak pernah bertindak gegabah, sedangkan aku gemar bertindak gegabah. Aku selalu menganggap segalanya akan mudah dan baik-baik saja, tetapi tak semudah itu yang kamu pikirkan. Kamu tak pernah mau menyiram kebakaran dengan minyak tanah, malah kamu selalu memadamkannya. Aku selalu ingin menjadi pemimpin, dalam segala hal. Dan memamerkan kelihaianku dalam apa yang aku ketahui. Tetapi kamu lebih memilih menjadi anggota, dan diam tak menonjolkan diri. Kamu menemaniku. Seiring waktu, kegegabahanku memiliki level dewa-nya. Aku memilih meninggalkanmu, meskipun kamu telah bersumpah atas penjelasanmu. Aku berpikir, kamu akan kembali lagi. Tetapi pada faktanya, kamu tidak akan pernah kembali.
Saat itu, aku berpikir kamu tak pernah merindu dan merasa hancur pada bagian hati setelah tak bersamaku. Pada kenyataannya, semua manusia akan merasakannya saat mengalami perpisahan. Betapa bodohnya aku berpikir bahwa kamu yang salah. Pada faktanya akulah yang salah. Aku sangat bodoh saat menuduhnya salah.
Sekarang, rasanya semua sudah terbaca. Sudah sangat terlambat untuk memolesnya dengan permohonan. Aku rasa, semuanya sudah baik-baik saja. Kamu, sudah bersama remaja lain. Yang lebih pintar. Aku juga sudah mengalami pahit manisnya bertindak tolol.
Sekarang, rasanya aku sudah menjadi pemberontak. Aku tak mudah dikendalikan, aku sudah memiliki jalanku sendiri. Jalanku legal karena itu milikku sendiri, dan jalanku memakai peraturanku, dan dikendalikan oleh diriku sendiri. Aku sudah merasa kuat sekarang. Aku lebih bisa memilih dengan otak yang jernih. Aku menjalankan seisi otakku, dan bukan dengan seluruh egoku.

Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar