1. Malam Yang Menghancurkan Pikiranku
"Aku mencintaimu, tapi aku
sungguh minta maaf, kita tak bisa bersama lagi." Aku mendengar suara papa
berkata seperti itu di dalam kamar.
Aku baru saja pulang dari kedai kopi bersama sahabatku. Aku mendengar suara papaku saat aku berjalan menuju kamarku dan melewati kamar Papa dan Mama. Rasa penasaran memaksaku untuk menguping demi mengetahui apa yang sedang terjadi diantara mereka.
"Tapi bagaimana dengan Helena!?" aku mendengar suara Mama membalas perkataan Papa.
Tunggu, mengapa mereka membawa-bawa namaku!? Aku semakin memfokuskan telingaku agar tak ketinggalan satu katapun dari mereka.
"Biar dia tinggal bersamaku disini." kata Papa.
"Apa!? Lalu kau pikir aku akan setuju bila Helena kau pisahkan dariku!? Kau pikir aku akan rela!? Aku yang melahirkannya! Aku Ibunya!" Nada bicara Mama semakin meninggi, dan aku merasakan bahwa emosi Mama semakin memuncak.
Aku tak mengerti, apa yang mereka maksud? Aku semakin melekatkan telingaku didepan pintu kamar mereka sehingga kini mungkin kepalaku telah bersatu dengan pintu.
"Aku ayahnya! Sudah tidak ada jalan lain lagi, kita akan bercerai, aku akan mengurus segalanya besok pagi." Papa membalas dengan suara yang sangat kutakuti jika Papa sedang marah.
Dan akhirnya kata kunci yang bisa kucerna dan kupahami keluar melalui suara Papa, bercerai.... Cerai. Apa aku hanya bermimpi? Katakan padaku ini hanya mimpi, kumohon. Aku tak sanggup bergerak, aku merasakan airmata mengalir di pipiku. Sesak, sakit, seketika menghujam jantungku. Sulit kupercaya.
Kudengar suara pintu terbuka didepanku, aku tak tahu siapa yang membukakannya, bahkan aku tak mau melihatnya. Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku, dan membiarkannya basah karena air mataku.
"Sayangku," aku mendengar suara Papa dihadapanku. "Jangan menagis, aku mohon." Papa memelukku dan mencium ubun-ubunku
Aku memberanikan diri untuk melihat wajah mereka, aku mendongkakkan wajahku, dan melihat Papa berlinang air mata. Aku melihat Mamaku sedang duduk dikursi meja riasnya, di sudut ruangan kamar, sedang menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Katakan padaku itu tidak benar." Aku berkata sambil terisak-isak, dan melepaskan pelukkan Papa.
Tak satupun dari mereka yang menjawabku. Papa melirik ke arah Mama, begitupun dengan Mama yang kini tak lagi menutupi wajahnya.
"Jika saja Papamu tak melakukannya esok pagi, kau tak akan terguncang seperti sekarang." Mama berjalan menghampiriku, dan mengusap air mataku.
Aku menatap tajam mata Papa, aku sangat marah padanya, atau mungkin pada mereka.
"Baik, aku tak akan mengurus perceraian ini besok pagi, aku akan melakukannya minggu depan." Papa memutuskan untuk tetap bercerai dengan Mama, dihadapanku. Mama memelukku, aku tak sanggup menahan air mataku, aku membenamkan wajahku kedalam pelukannya. []
Aku baru saja pulang dari kedai kopi bersama sahabatku. Aku mendengar suara papaku saat aku berjalan menuju kamarku dan melewati kamar Papa dan Mama. Rasa penasaran memaksaku untuk menguping demi mengetahui apa yang sedang terjadi diantara mereka.
"Tapi bagaimana dengan Helena!?" aku mendengar suara Mama membalas perkataan Papa.
Tunggu, mengapa mereka membawa-bawa namaku!? Aku semakin memfokuskan telingaku agar tak ketinggalan satu katapun dari mereka.
"Biar dia tinggal bersamaku disini." kata Papa.
"Apa!? Lalu kau pikir aku akan setuju bila Helena kau pisahkan dariku!? Kau pikir aku akan rela!? Aku yang melahirkannya! Aku Ibunya!" Nada bicara Mama semakin meninggi, dan aku merasakan bahwa emosi Mama semakin memuncak.
Aku tak mengerti, apa yang mereka maksud? Aku semakin melekatkan telingaku didepan pintu kamar mereka sehingga kini mungkin kepalaku telah bersatu dengan pintu.
"Aku ayahnya! Sudah tidak ada jalan lain lagi, kita akan bercerai, aku akan mengurus segalanya besok pagi." Papa membalas dengan suara yang sangat kutakuti jika Papa sedang marah.
Dan akhirnya kata kunci yang bisa kucerna dan kupahami keluar melalui suara Papa, bercerai.... Cerai. Apa aku hanya bermimpi? Katakan padaku ini hanya mimpi, kumohon. Aku tak sanggup bergerak, aku merasakan airmata mengalir di pipiku. Sesak, sakit, seketika menghujam jantungku. Sulit kupercaya.
Kudengar suara pintu terbuka didepanku, aku tak tahu siapa yang membukakannya, bahkan aku tak mau melihatnya. Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku, dan membiarkannya basah karena air mataku.
"Sayangku," aku mendengar suara Papa dihadapanku. "Jangan menagis, aku mohon." Papa memelukku dan mencium ubun-ubunku
Aku memberanikan diri untuk melihat wajah mereka, aku mendongkakkan wajahku, dan melihat Papa berlinang air mata. Aku melihat Mamaku sedang duduk dikursi meja riasnya, di sudut ruangan kamar, sedang menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Katakan padaku itu tidak benar." Aku berkata sambil terisak-isak, dan melepaskan pelukkan Papa.
Tak satupun dari mereka yang menjawabku. Papa melirik ke arah Mama, begitupun dengan Mama yang kini tak lagi menutupi wajahnya.
"Jika saja Papamu tak melakukannya esok pagi, kau tak akan terguncang seperti sekarang." Mama berjalan menghampiriku, dan mengusap air mataku.
Aku menatap tajam mata Papa, aku sangat marah padanya, atau mungkin pada mereka.
"Baik, aku tak akan mengurus perceraian ini besok pagi, aku akan melakukannya minggu depan." Papa memutuskan untuk tetap bercerai dengan Mama, dihadapanku. Mama memelukku, aku tak sanggup menahan air mataku, aku membenamkan wajahku kedalam pelukannya. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar