2.Sahabatku
Hari ini
aku tak naik bis sekolah, Papa ingin mengantarku sekolah. Kemarin malam, Papa
mengatakan bahwa enam bulan terakhir ini Papa dan Mama mengalami masa-masa yang
sulit dalam rumah tangga. Perbedaan pendapat, pikiran, sudut pandang, dan
kurangnya pengertian dari Mama. Tetapi mama mengatakan bahwa yang sebenarnya
adalah Mama tak mau mengganti status warga negaranya menjadi berkebangsaan Los
Akirema, sedangkan Papa menginginkannya. Papa mengelak tudingan itu, dan dia
mengatakan bahwa itu hanya alasan agar Mama bisa pulang kembali ke Swiss dan
membawaku. Mereka kembali bertengkar dan saling mengelak, aku putuskan untuk
pergi ke kamarku dan tak mendengarkan penjelasan dari mereka lagi.
Selama perjalanan, aku tak mengeluarkan
kata sedikitpun. Aku hanya melihat keluar jendela. Aku tahu Papa melirik kaca
spion untuk melihatku sesekali, tetapi aku tak memperdulikannya. Setelah sampai
di sekolah, aku cepat-cepat turun dari mobil, walaupun Papa sempat mengatakan
"papa menyayangimu Helena." tetapi aku lebih memilih untuk
membalasnya dengan menutup pintu mobil dengan cukup keras.
"Helena!" aku
membalikkan badanku dan langsung mencari siapa yang berteriak memanggilku
ketika aku sedang berjalan menaiki anak tangga memasuki gedung sekolah.
Ternyata seorang lelaki tengah berlari menghampiriku dan berteriak memanggil-manggil namaku. Dia berkacamata seperti Harry Potter, rambutnya sedikit bergelombang seperti Harry Styles, dan berwarna blonde. Bola matanya berwarna biru langit, berhidung mancung, bibirnya tipis, berkulit putih, badannya tidak kurus, dan tidak gemuk. Tingginya sekitar 170cm. Dia tampan, idealis, tapi menurutku, dia sedikit idiot. Thomas Henderson, dia suka dipanggil Tom. Dia konyol, dia pintar, dia baik, dia rajin mentraktirku di kantin sekolah, dia juga suka mengerjakan PR-PRku. Dan dia adalah sahabatku.
Ternyata seorang lelaki tengah berlari menghampiriku dan berteriak memanggil-manggil namaku. Dia berkacamata seperti Harry Potter, rambutnya sedikit bergelombang seperti Harry Styles, dan berwarna blonde. Bola matanya berwarna biru langit, berhidung mancung, bibirnya tipis, berkulit putih, badannya tidak kurus, dan tidak gemuk. Tingginya sekitar 170cm. Dia tampan, idealis, tapi menurutku, dia sedikit idiot. Thomas Henderson, dia suka dipanggil Tom. Dia konyol, dia pintar, dia baik, dia rajin mentraktirku di kantin sekolah, dia juga suka mengerjakan PR-PRku. Dan dia adalah sahabatku.
Aku mengenal Tom saat aku kelas 8
SMP, sejak aku berpindah tempat tinggal ke negara ini, dan saat aku belum
mempunyai satu temanpun saat itu. Dia adalah teman pertamaku di negara ini.
"Hey!" Aku menyapanya dengan senyuman geliku.
Tom berhenti berlari. "Kenapa kau tidak pergi naik bis? Kupikir kau tidak akan masuk hari ini." Dia berkata sambil terengah-engah.
Aku melanjutkan langkah kakiku menaiki anak tangga sambil merangkul lehernya. Aku tertawa, "aku tak mungkin membiarkanmu sendirian dan digodai oleh penggemarmu itu."
Tom tampak tersiksa oleh rangkulanku yang erat ini, aku sudah terbiasa dengannya, jadi aku takkan sungkan-sungkan dengannya.
"Hey bung," Dia berkata dengan suara tercekiknya. "Bisakah kau sedikit melonggarkan rangkulanmu? Aku merasa sangat tercekik saat ini, kau bisa lihat sendiri."
Aku melonggarkan rangkulanku dan tertawa geli.
"Begini lebih baik." Tom menaik-turunkan alisnya yang membuatku tertawa
Dalam sekejap aku berhenti tertawa karena tiba-tiba ada seseorang yang menarik lenganku dari leher Tom.
"Hey! Bisakah kau lebih bersikap normal?!" Katanya.
Ternyata dia adalah Ella Resnle anak kelas tetangga yang setengah mati mengejar-ngejar Tom. Berkacamata seperti Tom, Berambut lurus sampai bahu, dan berwarna coklat gelap. Dia memakai behel di giginya, dan memiliki tahi lalat di sebelah kanan bibirnya yang berjarak 2cm, kurang-lebih.
"Hai, Ella. Harusnya kau terbiasa melihat aku dengan Tom sedekat ini." Aku menggodanya dengan membuat dia kesal setengah mati sementara Tom hanya diam tak berbicara.
Ella mendorong bahu kananku dengan tangan kirinya, "Lebih baik kau pulang saja ke Swiss! Kau tak pantas disini! Hanya merepotkan saja!"
Tiba-tiba Tom menghalanginya, dia menutupiku dengan tubuhnya. "Santai, bung!”.
Aku tertawa melihatnya bersikap heroik seperti ini untuk kesekian kalinya.
"Bisakah kau menghilang saja dari hadapanku!?" Tom menarik tangan kiriku dan menuntunku ke kelas.
Aku menyempatkan diri melihat ekspresi Ella yang kesal bukan kepalang, dan melambaikan tangan padanya.
"Hey!" Aku menyapanya dengan senyuman geliku.
Tom berhenti berlari. "Kenapa kau tidak pergi naik bis? Kupikir kau tidak akan masuk hari ini." Dia berkata sambil terengah-engah.
Aku melanjutkan langkah kakiku menaiki anak tangga sambil merangkul lehernya. Aku tertawa, "aku tak mungkin membiarkanmu sendirian dan digodai oleh penggemarmu itu."
Tom tampak tersiksa oleh rangkulanku yang erat ini, aku sudah terbiasa dengannya, jadi aku takkan sungkan-sungkan dengannya.
"Hey bung," Dia berkata dengan suara tercekiknya. "Bisakah kau sedikit melonggarkan rangkulanmu? Aku merasa sangat tercekik saat ini, kau bisa lihat sendiri."
Aku melonggarkan rangkulanku dan tertawa geli.
"Begini lebih baik." Tom menaik-turunkan alisnya yang membuatku tertawa
Dalam sekejap aku berhenti tertawa karena tiba-tiba ada seseorang yang menarik lenganku dari leher Tom.
"Hey! Bisakah kau lebih bersikap normal?!" Katanya.
Ternyata dia adalah Ella Resnle anak kelas tetangga yang setengah mati mengejar-ngejar Tom. Berkacamata seperti Tom, Berambut lurus sampai bahu, dan berwarna coklat gelap. Dia memakai behel di giginya, dan memiliki tahi lalat di sebelah kanan bibirnya yang berjarak 2cm, kurang-lebih.
"Hai, Ella. Harusnya kau terbiasa melihat aku dengan Tom sedekat ini." Aku menggodanya dengan membuat dia kesal setengah mati sementara Tom hanya diam tak berbicara.
Ella mendorong bahu kananku dengan tangan kirinya, "Lebih baik kau pulang saja ke Swiss! Kau tak pantas disini! Hanya merepotkan saja!"
Tiba-tiba Tom menghalanginya, dia menutupiku dengan tubuhnya. "Santai, bung!”.
Aku tertawa melihatnya bersikap heroik seperti ini untuk kesekian kalinya.
"Bisakah kau menghilang saja dari hadapanku!?" Tom menarik tangan kiriku dan menuntunku ke kelas.
Aku menyempatkan diri melihat ekspresi Ella yang kesal bukan kepalang, dan melambaikan tangan padanya.
Aku tak
bisa berhenti memikirkan tentang apa yang terjadi kemarin malam, itu sangat
memukulku. Aku hanya mengoper-oper botol mineralku diatas meja dari tangan
kiriku ke tangan kananku yang hanya berjarak
5cm saat jam istirahat. Terbesat dalam pikiranku untuk menceritakannya
pada Tom. Aku melihat dia sedang menggigit beefburgernya. Aku memberanikan diri
untuk menceritakannya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan padamu." Aku memulai.
Tom masih asik mengunyah beefburgernya. "Ya, ceritakan saja." Dia berkata dengan satu gigitan penuh beefburger dimulutnya.
"Mama dan Papaku." Dia masih tak mengalihkan perhatiannya padaku.
Aku mulai gelisah dengan memegangi botol mineralku erat. Tom tiba-tiba meletakkan beefburgernya diatas nampannya dan menelan sisa dimulutnya.
Dia menatapku seperti ahli psikologi. "Ceritakan kepada saya, Nyonya Helena." Dia menggodaku dengan suara berat ala orang dewasanya itu hingga membuatku tertawa geli.
Aku mulai menarik nafasku dan menghembuskannya perlahan. Aku terdiam 5 detik kurang-lebih, menatap botol mineral yang sedang kupegang.
"Papa dan Mamaku..." Aku melihat Tom menungguku bercerita tanpa memotongnya. "Tom, kemarin malam sesudah pulang dari kedai kopi bersamamu, tepatnya saat aku tiba dirumahku dan berjalan melewati kamar Mama dan Papaku, aku mendengar mereka bertengkar dan mereka bilang mereka akan bercerai. Papa akan mengirim berkas gugatan cerainya minggu depan….." Tak sempat ku bereskan ceritaku bel masukpun berdering.
Semua orang mulai meninggalkan kantin.
Tom menarik tangan kananku, "kita harus masuk kelas."
"Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan padamu." Aku memulai.
Tom masih asik mengunyah beefburgernya. "Ya, ceritakan saja." Dia berkata dengan satu gigitan penuh beefburger dimulutnya.
"Mama dan Papaku." Dia masih tak mengalihkan perhatiannya padaku.
Aku mulai gelisah dengan memegangi botol mineralku erat. Tom tiba-tiba meletakkan beefburgernya diatas nampannya dan menelan sisa dimulutnya.
Dia menatapku seperti ahli psikologi. "Ceritakan kepada saya, Nyonya Helena." Dia menggodaku dengan suara berat ala orang dewasanya itu hingga membuatku tertawa geli.
Aku mulai menarik nafasku dan menghembuskannya perlahan. Aku terdiam 5 detik kurang-lebih, menatap botol mineral yang sedang kupegang.
"Papa dan Mamaku..." Aku melihat Tom menungguku bercerita tanpa memotongnya. "Tom, kemarin malam sesudah pulang dari kedai kopi bersamamu, tepatnya saat aku tiba dirumahku dan berjalan melewati kamar Mama dan Papaku, aku mendengar mereka bertengkar dan mereka bilang mereka akan bercerai. Papa akan mengirim berkas gugatan cerainya minggu depan….." Tak sempat ku bereskan ceritaku bel masukpun berdering.
Semua orang mulai meninggalkan kantin.
Tom menarik tangan kananku, "kita harus masuk kelas."
Aku
bergegas untuk pulang karena jam sekolah telah berakhir.
"Mampirlah kerumahku, Ibuku tadi pagi membuat pancake selai madu kesukaanmu, semoga saja Ibu masih menyisakannya untuk makan siang." Tom membersihkan kacamatanya dengan kaos bawahnya.
"Ide bagus." Aku sepakat.
Tom memakai kacamatanya kembali dan menarikku untuk lari mengejar bus yang sebentar lagi akan pergi.[]
"Mampirlah kerumahku, Ibuku tadi pagi membuat pancake selai madu kesukaanmu, semoga saja Ibu masih menyisakannya untuk makan siang." Tom membersihkan kacamatanya dengan kaos bawahnya.
"Ide bagus." Aku sepakat.
Tom memakai kacamatanya kembali dan menarikku untuk lari mengejar bus yang sebentar lagi akan pergi.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar