3. Aku Mendapat Mainan Trend 90-an
Aku
masih saja memikirkan tentang perceraian Mama dan Papaku, sungguh, aku
tersiksa. Aku tak percaya, sebagai anak satu-satunya dari mereka, aku tak mampu
menjadi alasan bagi mereka untuk bertahan untuk bersama selamanya.Aku menangis
momohon pada mereka agar tak melakukannya, tetapi Papa tetap saja keras kepala.
Minggu depan, aku takkan mungkin melihat Mama memakaikan dasi untuk Papa dipagi
hari, aku takkan pernah melihat mereka bersama-sama lagi, untuk selamanya.
Sebenarnya dimana hati dan otak mereka?Apa mereka tak berpikir bahwa aku bisa
saja menjadi gila karena memikirkan hal ini. Aku ingat ketika aku berumur
sembilan tahun, saat itu aku bersama Mama dan Papaku, sedang berlibur di Paris,
tepat saat aku berdiri di menara eiffel, Papa mengunci satu gembok berwarna
biru langit diantara ratusan ribu gembok lainnya, kurang-lebih, Papa
menuliskan:
“ John
Brockwilson
Jelena Brockwilson
Helena Brockwilson
Forever. "
di badan gembok dengan spidol hitam lalu menguncikannya di
menara bersama dengan gembok-gembok lainnya. Papa melemparkan kunci gemboknya
dengan harapan agar kami tetap bersama untuk selamanya. Tapi, kemarin malam,
harapan itu takkan berhasil terwujud, Mama dan Papa akan berpisah sebagai suami
dan istri, untuk selamanya. Menyedihkan mengingat saat itu Papa mengatakan pada
Mama bahwa jika mereka saling mencintai, mereka takkan pernah berpisah, dan
akan tetap bertahan bagaimanapun caranya. Itu semua hanya omong kosong. Aku
membenci cara mereka menyelesaikan masalah. Ini sangat menyiksaku.
Tak kusangka sedari aku menaiki
bus, aku hanya melihat keluar jendela dan mengabaikan Tom yang sedang duduk
disisiku. Aku terlalu memikirkan perceraian Mama dan Papaku. Aku melihat Tom
sedang memainkan gadgetnya, sebenarnya aku ingin mengajaknya untuk mengejek
Ella, tetapi Tom terlihat sangat asyik sendiri dengan gadgetnya, kuputuskan
untuk tak menggangunya. Bis berhenti, aku dan Tom turun dari Bis, Tom sama
sekali tak mengeluarkan kata-katanya. Apa dia marah padaku? Kuputuskan untuk
tak berkata juga.Rumah Tom berada di Jalan I No. 47. Memang di negara ini hanya
memilik 4 kota. Masing-masing kota hanya memiliki 6 wilayah, yaitu Jalan I,
Jalan II, Jalan III, Jalan IV, Jalan V, dan Jalan VI. Aku sendiri tinggal di
Jalan V No. 32.
Tom membuka pintu dan memimpinku
memasuki rumah.Aku memang sering berkunjung kemari, setiap tiga kali dalam
seminggu. Pada hari Sabtu, Tom yang berkunjung kerumahku, dan pada hari Minggu
aku dan Tom pergi bersama-sama, entah itu ke Mall, menonton film,
ataupun pergi ke ladang jagung untuk mencuri beberapa jagung dan kemudian
menjadikannya jagung bakar bersama-sama.
“Ibu, aku pulang.”Tom berteriak
memanggil ibunya.
“Hey, aku harap kau tak merasa marah padaku, karena sedari tadi kau hanya diam dan tak berkata apa-apa, seperti…”
“Mengabaikanmu.” Akumemotongnya, “Hey aku kira kau yang marah padaku, kau sibuk sekali dengan gadgetmu, aku tak berani mengganggumu.” Kataku.
Aku lega karena dia sama sekali tak marah padaku.
“Kukira kau yang marah, sudahlah.Aku tau kau sedang memikirkan mama dan papamu.” Tom tersenyum padaku.
Tom melemparkan tasnya di sofa.“Aku ingin kencing, kau mau ikut?”Dia menunjukan wajah sarkatisnya padaku.
Aku meninju lengan kanannya, “Itulah jawabanku.”
Tom tertawa dan kemudian berjalan meninggalkanku. Aku mendengar seseorang menuruni tangga, aku menengokkan kepalaku ke arah kiri sudut ruang tamu ini, Ibu Tom meuruni tangga dengan baju lengan panjang berbahan cardigannya yang berwarna merah, sepasang dengan rok sepanjang lututnya, dan dia memakai sepatu wedgess berwarna putih. Dia berusia 42 tahun, rambutnya bergelombang sebahu, berwarna blonde. Bola matanya berwarna biru langit, dia juga berkacamata sama seperti Tom. Dia sangat baik, bahkan dia pernah mengatakan bahwa dia sudah menganggapku sebagai anaknya.Aku sudah berkunjung kesini sejak aku kelas 9 SMP, jadi wajar saja jika aku sudah tak asing lagi dengan rumah dan orang-orang dirumah ini, ya, maksudku dengan Tom dan Ibunya. Tom hanya tinggal bersama Ibunya di rumah ini, karena Ayahnya adalh seorang nahkoda yang hanya akan pulang, entahlah, aku tidak tahu.
“Hey, aku harap kau tak merasa marah padaku, karena sedari tadi kau hanya diam dan tak berkata apa-apa, seperti…”
“Mengabaikanmu.” Akumemotongnya, “Hey aku kira kau yang marah padaku, kau sibuk sekali dengan gadgetmu, aku tak berani mengganggumu.” Kataku.
Aku lega karena dia sama sekali tak marah padaku.
“Kukira kau yang marah, sudahlah.Aku tau kau sedang memikirkan mama dan papamu.” Tom tersenyum padaku.
Tom melemparkan tasnya di sofa.“Aku ingin kencing, kau mau ikut?”Dia menunjukan wajah sarkatisnya padaku.
Aku meninju lengan kanannya, “Itulah jawabanku.”
Tom tertawa dan kemudian berjalan meninggalkanku. Aku mendengar seseorang menuruni tangga, aku menengokkan kepalaku ke arah kiri sudut ruang tamu ini, Ibu Tom meuruni tangga dengan baju lengan panjang berbahan cardigannya yang berwarna merah, sepasang dengan rok sepanjang lututnya, dan dia memakai sepatu wedgess berwarna putih. Dia berusia 42 tahun, rambutnya bergelombang sebahu, berwarna blonde. Bola matanya berwarna biru langit, dia juga berkacamata sama seperti Tom. Dia sangat baik, bahkan dia pernah mengatakan bahwa dia sudah menganggapku sebagai anaknya.Aku sudah berkunjung kesini sejak aku kelas 9 SMP, jadi wajar saja jika aku sudah tak asing lagi dengan rumah dan orang-orang dirumah ini, ya, maksudku dengan Tom dan Ibunya. Tom hanya tinggal bersama Ibunya di rumah ini, karena Ayahnya adalh seorang nahkoda yang hanya akan pulang, entahlah, aku tidak tahu.
“Hey Helena! Dimana Tom?” tanya
Ibu Tom yang masih menuruni tangga dengan santai.
“Dia sedang ke toilet, mungkin dia sedang diare.” Aku menjawabnya dengan menaikkan alis kiriku dan menaikkan bahuku seolah-olah aku tak tahu.
“Memang dasar anak itu ada-ada saja.Aku sudah tau kau akan kemari hari ini, maka aku akan membuatkan pancake selai madu untukmu dan Tom.” Ibu Tom menuruni anak tangga terakhirnya, dan berjalan menuju ruang makan.
“Ya, aku sudah tidak sabar, nih.”Kataku tersenyum sementara Ibu Tom memasuki ruang makan.
“Dia sedang ke toilet, mungkin dia sedang diare.” Aku menjawabnya dengan menaikkan alis kiriku dan menaikkan bahuku seolah-olah aku tak tahu.
“Memang dasar anak itu ada-ada saja.Aku sudah tau kau akan kemari hari ini, maka aku akan membuatkan pancake selai madu untukmu dan Tom.” Ibu Tom menuruni anak tangga terakhirnya, dan berjalan menuju ruang makan.
“Ya, aku sudah tidak sabar, nih.”Kataku tersenyum sementara Ibu Tom memasuki ruang makan.
Aku duduk di sofa panjang
bercorak bunga mawar dan melepaskan tasku lalu menaruhnya disebelah kananku.
“Aku kembali, apa kau
merindukanku?” Tom muncul dari balik pintu toilet, lalu duduk di sebelah
kiriku.
“Sama sekali tidak.”Aku tersenyum membalas, dan menyandarkan tubuhku pada sofa.
“Sama sekali tidak.”Aku tersenyum membalas, dan menyandarkan tubuhku pada sofa.
Aku menghembuskan nafasku, dan
mulai menceritakan beban pikiranku, “Tom, tentang mama dan papaku.”
Tom melirikku, “Ya, ceritakan saja kepadaku, semuanya, aku takkan memotongnya.” Dia menyerongkan duduknya dan menghadap padaku.
“Kau tahu,” Aku meliriknya lalu kembali menatap lantai. “Mama dan papa akan bercerai, minggu depan. Mereka bilang, ini adalah masa-masa sulit mereka dalam rumah tangga, Mama bilang dia hanya tidak ingin mengganti status warga negaranya menjadi warga negara Los Akirema, tetapi Papa memaksanya. Papa mengelak tudingan itu dan dia bilang bahwa itu hanya akal-akalan Mamaku saja supaya bisa kembali ke swiss, dan membawaku.Tetapi menurutku mereka sangat egois.Aku tak bisa menjadi alasan yang kuat agar mereka bertahan, aku adalah satu-satunya dari mereka.Kuharap kau bisa merasakan apa yang kurasakan.”Jelasku.
Tom masih menyimakku. Aku menunggunya berbicara.
Dia menepuk lututku, “Percayalah, kau takkan pernah kehilangaan orang-orang yang kau cintai, aku takkan membiarkan siapapun merampas cahaya dibalik matamu. Semuanya akan baik-baik saja.” Dia tersenyum padaku. Inilah alasanku menjadikannya sahabat terbaikku, dia selalu membuatku merasa lebih baik.
“Tom, kau memang sahabat terbaikku!” Aku memeluknya, tetapi dia tak membalas pelukanku, dia melepaskan pelukanku dan terlihat panik dengan nafas yang terengah-engah.
“Ada apa?Apa aku membuatmu sesak nafas?” Aku menaikkan alis kiriku.
“Tidak, aku hanya..”Mata Tom melirik kesana dan kemari entah sedang mencari apa.
Aku masih menunggunya melanjutkan perkataannya.
“Aku hanya baru ingat bahwa pancake-nya pasti sudah siap di meja makan!”Akhirnya Tom berkata, yang sebenarnya, sama sekali tidak nyambung.
Aku mengerutkan dahiku, “Kau ini aneh, sudahlah. Ayo kita ke ruang makan! Pancake, aku datang!” Aku berdiri dan meninggalkannya ke ruang makan terlebih dahulu.
Tom melirikku, “Ya, ceritakan saja kepadaku, semuanya, aku takkan memotongnya.” Dia menyerongkan duduknya dan menghadap padaku.
“Kau tahu,” Aku meliriknya lalu kembali menatap lantai. “Mama dan papa akan bercerai, minggu depan. Mereka bilang, ini adalah masa-masa sulit mereka dalam rumah tangga, Mama bilang dia hanya tidak ingin mengganti status warga negaranya menjadi warga negara Los Akirema, tetapi Papa memaksanya. Papa mengelak tudingan itu dan dia bilang bahwa itu hanya akal-akalan Mamaku saja supaya bisa kembali ke swiss, dan membawaku.Tetapi menurutku mereka sangat egois.Aku tak bisa menjadi alasan yang kuat agar mereka bertahan, aku adalah satu-satunya dari mereka.Kuharap kau bisa merasakan apa yang kurasakan.”Jelasku.
Tom masih menyimakku. Aku menunggunya berbicara.
Dia menepuk lututku, “Percayalah, kau takkan pernah kehilangaan orang-orang yang kau cintai, aku takkan membiarkan siapapun merampas cahaya dibalik matamu. Semuanya akan baik-baik saja.” Dia tersenyum padaku. Inilah alasanku menjadikannya sahabat terbaikku, dia selalu membuatku merasa lebih baik.
“Tom, kau memang sahabat terbaikku!” Aku memeluknya, tetapi dia tak membalas pelukanku, dia melepaskan pelukanku dan terlihat panik dengan nafas yang terengah-engah.
“Ada apa?Apa aku membuatmu sesak nafas?” Aku menaikkan alis kiriku.
“Tidak, aku hanya..”Mata Tom melirik kesana dan kemari entah sedang mencari apa.
Aku masih menunggunya melanjutkan perkataannya.
“Aku hanya baru ingat bahwa pancake-nya pasti sudah siap di meja makan!”Akhirnya Tom berkata, yang sebenarnya, sama sekali tidak nyambung.
Aku mengerutkan dahiku, “Kau ini aneh, sudahlah. Ayo kita ke ruang makan! Pancake, aku datang!” Aku berdiri dan meninggalkannya ke ruang makan terlebih dahulu.
“Bagaimana, enak bukan?” Tanya
Ibu Tom saat aku menyuapkan potongan pancake
selai madu terakhirku.
“Sama seperti biasanya, lezat.”Kataku sambil mengunyah pancakeku.
“Itu udah pasti, karena ibuku yang membuatnya.”Tom membalas perkataanku.
Ibu Tom tertawa, “Terimakasih, sayangku.”
Aku mengambil gelasku lalu berdiri dan berjalan menuju air keran di wastafel untuk mengambil minum, "Sama-sama."Aku tersenyum.
“Sama seperti biasanya, lezat.”Kataku sambil mengunyah pancakeku.
“Itu udah pasti, karena ibuku yang membuatnya.”Tom membalas perkataanku.
Ibu Tom tertawa, “Terimakasih, sayangku.”
Aku mengambil gelasku lalu berdiri dan berjalan menuju air keran di wastafel untuk mengambil minum, "Sama-sama."Aku tersenyum.
Saat aku menyalakan keran dan
mengisikan gelasku, aku tak sengaja melirik keranjang belanja diatas meja
disudut ruangan, aku melihat sebuah benda, seperti remot televisi terlihat
dalam keranjang.Aku mematikan keran, dan meminum air yang sudah kuambil dari
keran. Aku berjalan menghampiri keranjang tersebut dan mengambil benda asing
tersebut. Bentuknya persegi panjang seperti remot televisi, memiliki tiga
tomblo kecil berbentuk lingkaran sebesar chococip,
kurang-lebih, empat tombol lingkaran sebesar permen kacang coklat membentuk
empat arah mata angin di bawah ke-empat tombol kecil, dan satu tombol lingkaran
yang lebih besar disebelah kanannya, tombol-tombol itu berwarna kuning.
“Benda apa ini?”Aku bertanya.
Tom dan Ibunya melihat ke arahku, “Benda apa itu?” Tom balik bertanya.
Ibu Tom tertawa, “Itu Gamebot, sayang.Salah satu mainan trend dari tahun 90-an. Meskipun kau dan Tom adalah bayi 90-an, mungkin kau tak pernah memainkannya.Bahkan Tom sendiri belum tahu mainan itu. Tadi aku membelinya di toko mainan saat aku pulang dari pasar, mereka sedang menjual kembali mainan trend tahun 90-an.” Jelasnya.
Tom dan Ibunya melihat ke arahku, “Benda apa itu?” Tom balik bertanya.
Ibu Tom tertawa, “Itu Gamebot, sayang.Salah satu mainan trend dari tahun 90-an. Meskipun kau dan Tom adalah bayi 90-an, mungkin kau tak pernah memainkannya.Bahkan Tom sendiri belum tahu mainan itu. Tadi aku membelinya di toko mainan saat aku pulang dari pasar, mereka sedang menjual kembali mainan trend tahun 90-an.” Jelasnya.
Aku membawa benda yang disebut
Gamebot itu kembali ke meja makan.
“Permainan seperti apa?” Tom mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat benda itu semakin dekat.
“Permainan, ya ibu tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tetapi ada 26 permainan di dalamnya. Mungkin membosankan, tetapi ibu sangat menyukainya.” Kata Ibu Tom. “Kau menyukainya, Helena?” Ibu Tom menyuapkan potongan pancake selai madu terakhirnya.
“Ya, kurasa aku ingin mencobanya.” Aku melihat pada Ibu Tom berharap dia akan meminjamkan benda ini padaku.
“Jika kau menginginkannya, akan kuberikan untukmu.” Ibu Tom tersenyum.“Gamebot itu belum dipasang baterai, kau harus mempunyai dua baterai untuk memainkannya.”Dia menambahkan sambil membawa gelasnya dan berjalan menuju air keran di washtafel.
“Permainan seperti apa?” Tom mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat benda itu semakin dekat.
“Permainan, ya ibu tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tetapi ada 26 permainan di dalamnya. Mungkin membosankan, tetapi ibu sangat menyukainya.” Kata Ibu Tom. “Kau menyukainya, Helena?” Ibu Tom menyuapkan potongan pancake selai madu terakhirnya.
“Ya, kurasa aku ingin mencobanya.” Aku melihat pada Ibu Tom berharap dia akan meminjamkan benda ini padaku.
“Jika kau menginginkannya, akan kuberikan untukmu.” Ibu Tom tersenyum.“Gamebot itu belum dipasang baterai, kau harus mempunyai dua baterai untuk memainkannya.”Dia menambahkan sambil membawa gelasnya dan berjalan menuju air keran di washtafel.
Aku tertarik dan ingin mencoba
memainkan permainan ini dengan segera, kuputuskan untuk pamit pulang dan
memasangkannya baterai agar aku bisa memaikan permainan trend 90-an ini.
“Baiklah, aku pulang. Terimakasih
untuk Gamebotnya! Aku tak sabar ingin memainkannya, terimakasih banyak! Sampai
bertemu besok!”Aku berjalan cepat lalu mengambil tasku tanpa mendengar sahutan
mereka dan keluar dari rumah Tom untuk pulang. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar