Summertime

Selasa, 27 Mei 2014

The Magic of Gamebots


4. Gamebot Ajaib

           Aku tak mau memalingkan pandanganku dari Gamebot ini selama perjalanan di dalam taksi, seperti ada hal lain yang membuatku tertarik setengah mati. Sebenarnya tidak ada yang terlihat istimewa dari Gamebot ini, hanya video game dari tahun 90-an, berbentuk seperti remot tv, tetapi lebih besar.
Pada tombol lingkaran yang sebesar chococip yang pertama adalah tombol S/P, yang kedua tombol MUSIC, dan yang ketiga adalah ON/OFF. Dan ada 4 tombol yang lebih besar membentuk arah mata angi di bawahnya, tombol kiri adalah tombol LEFT LEVEL, tombol bawah adalah tombol DOWN GAME, tombol kanan adalah tombol RIGHT SPEED, dan tombol atas adalah tombol PAUSE START. Dan satu tombol yang lebih besar lagi adalah tombol ROTATE DIRECTION di sebelah kanan ke-empat tombol tadi. Sebenarnya, aku tak tahu apa fungsi tombol-tombol itu, tetapi.. biar kucoba saja.
                Aku langsung lari menuju ruangan kerja Papa saat aku tiba di rumah. Aku mengorek-ngorek isi laci barang-barang elektroniknya, berharap aku bisa mendapatkan dua baterai untuk menjalankan Gamebot ini. Papa sedang melakukan seminar di kota East Losakirema untuk 3 hari kedepan, jadi aku bisa bebas masuk ke ruang kerjanya, Papaku bekerja sebagai marketing di salah satu bank swasta.
Yap! Akhirnya aku menemukannya. Dua baterai. Aku menutup laci kembali dan berlari meninggalkan ruang kerja Papa menuju kamarku.
“Helena! Ada apa?” Aku mengerem langkah kakiku dan menengok sisi kiri ku, mama sedang berdiri memeluk tumpukan baju di depan pintu kamarnya.
               “Hey Ma, aku hanya ingin menuju kamarku saja, ko. Mama akan mencuci?” Aku tersenyum pada Mama.
                 Aku menyembunyikan Gamebot di balik badanku dengan tangan kananku, aku tak mau Mama melihatnya, dia pasti akan bertanya terus-menerus, itu akan menjadi percakapan yang panjang, dan aku malas untuk menjalaninya.
                 “Ya, tentu saja. Apakah kau tidak akan mencuci baju-baju kotormu?”  Tanya Mama dengan sikap dinginnya.
                  “Oh, tidak, Ma. Aku sudah mencucinya dua hari yang lalu.” Aku menyeringai. Jika kau mau tahu, faktanya adalah aku menggulung-gulung pakaian kotorku di dalam lemari, dan itu sudah tersimpan selama satu minggu dengan keadaan sama sekali belum dicuci.
                    Mama diam dan mengerutkan keningnya. Ya mungkin dia sedang mengingat kembali kegiatan 2 hari yang lalu di rumah ini.
                    Aku memutuskan untuk mengakhiri percakapan ini sebelum Mama menyadari bahwa 2 hari yang lalu aku pergi bersama Tom seharian. “Sudah dulu ya, Ma. Dah!” Aku tersenyum dan berjalan cepat menuju kamarku.
                Aku telah memasangkan baterai pada Gamebot dan akan menekan tombol ON/OFF. Tiba-tiba ponselku bergetar di dalam saku jeansku, aku mengambilnya, nama ‘Thomas’ tertera di layar ponselku,
“Ya, Tom.”
Helena, nama lain dari Gamebot itu adalah Brick Game.” Tom berbicara dengan santai dan terdengar parau.
“Oh begitu, baiklah. Aku akan menghubungimu jika aku perlu bantuanmu.”
Tidak, tidak! Jangan menutup teleponku! Aku sudah mencarinya di Google, sungguh.”  Tom berbicara dengan cepat.
“Sebenarnya, aku tak akan menutup teleponmu, tapi, mungkin sekarang, sudah ya, dah.” Aku mengakhiri teleponnya dan melemparkan ponselku kebelakang pada ranjangku.
Aku menekan tombol ON/OFF. “PROGRAM IS ACTIVATED” Itulah kata-kata pertama yang muncul pada layar monitor saat aku menyalakan Gamebot. Tunggu, aku rasa aku merasakan sesuatu yang aneh… aku merasa ada sesuatu di depanku. Aku mendongkakkan kepalaku secara perlahan untuk melihatnya. Aku meilhat ada lima pasang kaki, APA?. Aku menelan ludah,aku mencoba untuk bersikap tenang. Aku meneruskan pandanganku. Aku melihat secara perlahan, ugh, baiklah aku sekarang melihat ada seekor jaguar hitam, singa jantan, beruang kutub berwarna putih, serigala, dan komodo. Tolong! Aku tak bisa berkata-kata, aku tak bisa bergerak, mungkin jika aku memiliki penyakit jantung aku akan mati sekarang juga. Darimana mereka datang? Ini sama sekali tidak masuk akal, jantungku berdetak dengan cepat. Aku merasakan keringat mengalir di pelipisku. Aku menelan ludahku lagi. Aku memberanikan diri untuk mengambil ponselku, tanganku meraba-raba ranjangku, aku memberanikan diri berbalik badan mengambil ponselku. Aku menelepon Tom dengan tanganku yang bergemetar, aku berusaha untuk tidak menjerit dan berteriak minta tolong, aku tak mau rumah dan para tetanggaku panik dalam waktu seketika, tak harus menunggu lama, Tom langsung mengangkat telepon,
“Hey Helena! Aku tau kau pasti membutuhkan bantuanku!”
“Tom, aku sangat membutuhkanmu.” Aku berbicara dengan volume terkecil yang kubisa, tentunya, dengan keringat membasahi wajahku.
Helena, ada apa!?”
“Aku mohon, datangah kemari. Jika kau sudah sampai, masuklah saja, pergi menuju kamarku. Dan aku mohon, kau harus berjanji untuk tidak berteriak dan menjerit saat kau membuka pintu kamarku. Kau harus cepat kesini.”
“Baiklah, tunggu, aku sedang dalam perjalanan. Kau jangan kuatir.”
Aku menutup telepon. Aku menatap satu persatu lima binatang buas di hadapanku. Mereka menunduk dan menekukkan kaki mereka, sama sekali tak menggangguku. Aku tak berani menggerakkan kakiku.
“Darimana kalian berasal?” Aku menelan air ludahku memberanikan untuk bertanya, jantungku semakin berdetak dengan cepat.
Bodohnya aku bertanya kepada hewan. Mereka sama sekali tak menjawabku, mereka sama sekali tak bergerak. Aku menatap kembali Gamebot itu, apakah berasal dari benda ini? Aku tak berani menekan tombol yang lainnya, aku takut hal-hal menakutkan akan terjadi, maka aku biarkan saja untuk tetap bertuliskan “PROGRAM IS ACTIVATED” di layar monitor. Aku melihat jam di ponselku, lima belas menit sudah aku menunggu Tom, mengapa dia belum datang juga?
Akhirnya seseorang membuka pintu kamarku,
               “Helena apa yang a..a..a” Tom terkejut dan melangkah mundur. Dia terkejut dan kini wajahnya terlihat seperti seekor kera yang tiba-tiba di serang oleh buaya dipinggir danau.
               “Tom, aku mohon.” Aku menempelkan telunjuk kananku pada bibirku, dengan maksud agar dia menutup mulutnya. “Masuk, dan tutup pintunya.” Aku memerintah.
                Tom masuk dan menutup pintu dengan perlahan. Tom menghampiriku dengan sangat hati-hati, dia duduk di sampingku.
                “Apa binatang-binatang buas ini hidup?” Tom berbisik kepadaku.
                “Aku tidak tahu, sedari tadi mereka hanya membungkuk, tetapi kupikir mereka hidup.” Dengan tiba-tiba para binatang tersebut bangun dan hidup,mereka membuatku terkejut setengah mati seperti mengagetkanku dengan peluncuran roket di depan mata kepalaku tanpa pemberian aba-aba.
                 Aku memeluk Tom dan menjerit dalam dekapannya.
                 “Helena! Ibu tolong aku, Helena aku tidak siap untuk mati sekarang.”
                  Aku mendengar suara Tom yang kedengarannya merengek dan seperti sedang menangis.
Singa itu mengaum membuat level ketakutanku meningkat. Aku menjambak rambut Tom dan menjerit. Kacamatanya terlepas, dan dia tampak tersiksa dengan nafasnya yang tak karuan. Kemudian raungan seekor serigala menyusul.
                 Tom memelukku erat, “Helena aku sangat takut.”
                 Aku melepaskan pelukannya, “Kau ini bagaimana, sih! Harusnya kau melindungiku!”
                “Maafkan aku Helena, aku gugup karena kacamataku jatuh.” Tom menyipitkan matanya.
Aku mencari kacamatanya, ternyata ada di dekat kaki singa, bagaimana aku bisa mengambilnya!? Seseorang mengetuk pintu dengan keras.
               “Helena, suara apa itu?!” Mama berteriak dari luar pintu.
               “Tidak, Ma, itu hanya suara binatang dari film, aku mengeraskan volumenya!”.
                Tiba-Tiba Singa mengaum lebih keras. Aku meremas seprai ranjangku, Tom menutupi wajahnya dan terdiam seperti patung.
                “Apa kau yakin?” Mama bertanya dari balik pintu.
                “Ya, Ma! Jangan kuatir! Kami baik-baik saja!” Aku berteriak membalas.
Aku menunggu, ternyata tak ada sahutan lagi, sepertinya Mama sudah pergi.
“Tom, kacamatamu ada didepan kaki Singa, bagaimana bisa aku mengambilnya?” Aku berkata pada Tom yang kini tak menutupi wajahnya lagi.
              “Helena! Aku Tahu! Coba kau tekan tombol ON/OFF Gamebot itu!” Aku menatap Gamebot kembali dan menuruti perintah Tom, aku menekan tombol ON/OFF, dan ternyata benar, hewan-hewan tersebut tersedot oleh jaring spider-man berjenis matriks, kutebak. Hewan-hewan itu tersedot ke dalam kepala Gamebot yang terbuka. Aku memegangi Gamebot erat dengan kedua tanganku hingga kelima binatang buas itu tersedot masuk kedalam Gamebot, lalu kepala Gamebot tersebut kembali tertutup.
Aku menjatuhkan Gamebot dan menghembuskan nafas. “Tom, kau benar! Binatang-binatang itu berasal dari Gamebot ini!” Aku berdiri dan mengambil kacamata Tom lalu kemudian memasangkannya pada Tom.
               “Sungguh?”  Tom membuka tutup matanya.
               “Ya! Yang tadi itu sungguh aneh. Kupikir….” Aku melirik mata Tom.
               “Gamebot Ajaib” Dia membaca pikiranku.
               “Tom, sungguh tidak bisa dipercaya. Aku takkan memainkannya lagi.” Aku berdiri memungut Gamebot dibawah kakiku dan memasukkannya ke dalam laci bersama dengan barang-barang yang sudah tidak kupakai.
Aku menjatuhkan tubuhku pada ranjang. “Aku sangat terkejut, Tom. Kurasa aku akan tidur, dengan harapan aku hanya bermimpi untuk yang baru saja terjadi. Kau tahu..”
              “Tidurlah, aku akan meemanimu hingga kau terlelap.” Tom tersenyum dan membukakkan sepatuku juga meletakannya di bawah ranjang, lalu dia menyelimutiku.
             Aku memegang lengan Tom. “Aku mohon, jangan beritahu kepada siapa-siapa.”
            “Aku tidak akan memberitahukannya pada siapa-siapa. Tidurlah.” Tom menaikkan kakiknya keatas ranjang dan duduk di samping kepalaku.
            “Terimakasih, Tom.” Aku menghembuskan nafas dan memejamkan mataku.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar