4. Gamebot Ajaib
Aku tak mau
memalingkan pandanganku dari Gamebot ini selama perjalanan di dalam taksi,
seperti ada hal lain yang membuatku tertarik setengah mati. Sebenarnya tidak
ada yang terlihat istimewa dari Gamebot ini, hanya video game dari tahun 90-an,
berbentuk seperti remot tv, tetapi lebih besar.
Pada tombol lingkaran yang
sebesar chococip yang pertama adalah tombol S/P,
yang kedua tombol MUSIC, dan yang
ketiga adalah ON/OFF. Dan ada 4
tombol yang lebih besar membentuk arah mata angi di bawahnya, tombol kiri
adalah tombol LEFT LEVEL, tombol
bawah adalah tombol DOWN GAME, tombol
kanan adalah tombol RIGHT SPEED, dan
tombol atas adalah tombol PAUSE START.
Dan satu tombol yang lebih besar lagi adalah tombol ROTATE DIRECTION di sebelah kanan ke-empat tombol tadi. Sebenarnya,
aku tak tahu apa fungsi tombol-tombol itu, tetapi.. biar kucoba saja.
Aku langsung lari menuju ruangan
kerja Papa saat aku tiba di rumah. Aku mengorek-ngorek isi laci barang-barang
elektroniknya, berharap aku bisa mendapatkan dua baterai untuk menjalankan
Gamebot ini. Papa sedang melakukan seminar di kota East Losakirema untuk 3 hari
kedepan, jadi aku bisa bebas masuk ke ruang kerjanya, Papaku bekerja sebagai
marketing di salah satu bank swasta.
Yap! Akhirnya aku menemukannya. Dua baterai. Aku menutup laci
kembali dan berlari meninggalkan ruang kerja Papa menuju kamarku.
“Helena! Ada apa?” Aku mengerem
langkah kakiku dan menengok sisi kiri ku, mama sedang berdiri memeluk tumpukan
baju di depan pintu kamarnya.
“Hey Ma, aku hanya ingin menuju kamarku saja, ko. Mama akan mencuci?” Aku tersenyum pada Mama.
Aku menyembunyikan Gamebot di balik badanku dengan tangan kananku, aku tak mau Mama melihatnya, dia pasti akan bertanya terus-menerus, itu akan menjadi percakapan yang panjang, dan aku malas untuk menjalaninya.
“Ya, tentu saja. Apakah kau tidak akan mencuci baju-baju kotormu?” Tanya Mama dengan sikap dinginnya.
“Oh, tidak, Ma. Aku sudah mencucinya dua hari yang lalu.” Aku menyeringai. Jika kau mau tahu, faktanya adalah aku menggulung-gulung pakaian kotorku di dalam lemari, dan itu sudah tersimpan selama satu minggu dengan keadaan sama sekali belum dicuci.
Mama diam dan mengerutkan keningnya. Ya mungkin dia sedang mengingat kembali kegiatan 2 hari yang lalu di rumah ini.
Aku memutuskan untuk mengakhiri percakapan ini sebelum Mama menyadari bahwa 2 hari yang lalu aku pergi bersama Tom seharian. “Sudah dulu ya, Ma. Dah!” Aku tersenyum dan berjalan cepat menuju kamarku.
“Hey Ma, aku hanya ingin menuju kamarku saja, ko. Mama akan mencuci?” Aku tersenyum pada Mama.
Aku menyembunyikan Gamebot di balik badanku dengan tangan kananku, aku tak mau Mama melihatnya, dia pasti akan bertanya terus-menerus, itu akan menjadi percakapan yang panjang, dan aku malas untuk menjalaninya.
“Ya, tentu saja. Apakah kau tidak akan mencuci baju-baju kotormu?” Tanya Mama dengan sikap dinginnya.
“Oh, tidak, Ma. Aku sudah mencucinya dua hari yang lalu.” Aku menyeringai. Jika kau mau tahu, faktanya adalah aku menggulung-gulung pakaian kotorku di dalam lemari, dan itu sudah tersimpan selama satu minggu dengan keadaan sama sekali belum dicuci.
Mama diam dan mengerutkan keningnya. Ya mungkin dia sedang mengingat kembali kegiatan 2 hari yang lalu di rumah ini.
Aku memutuskan untuk mengakhiri percakapan ini sebelum Mama menyadari bahwa 2 hari yang lalu aku pergi bersama Tom seharian. “Sudah dulu ya, Ma. Dah!” Aku tersenyum dan berjalan cepat menuju kamarku.
Aku
telah memasangkan baterai pada Gamebot dan akan menekan tombol ON/OFF.
Tiba-tiba ponselku bergetar di dalam saku jeansku, aku mengambilnya, nama
‘Thomas’ tertera di layar ponselku,
“Ya, Tom.”
“Helena, nama lain
dari Gamebot itu adalah Brick Game.” Tom berbicara dengan santai dan terdengar
parau.
“Oh begitu, baiklah. Aku akan menghubungimu jika aku perlu
bantuanmu.”
“Tidak, tidak! Jangan
menutup teleponku! Aku sudah mencarinya di Google, sungguh.” Tom berbicara dengan cepat.
“Sebenarnya, aku tak akan menutup teleponmu, tapi, mungkin
sekarang, sudah ya, dah.” Aku mengakhiri teleponnya dan melemparkan ponselku
kebelakang pada ranjangku.
Aku menekan tombol ON/OFF.
“PROGRAM IS ACTIVATED” Itulah kata-kata pertama yang muncul pada layar monitor
saat aku menyalakan Gamebot. Tunggu,
aku rasa aku merasakan sesuatu yang aneh… aku merasa ada sesuatu di depanku. Aku
mendongkakkan kepalaku secara perlahan untuk melihatnya. Aku meilhat ada lima
pasang kaki, APA?. Aku menelan
ludah,aku mencoba untuk bersikap tenang. Aku meneruskan pandanganku. Aku melihat
secara perlahan, ugh, baiklah aku
sekarang melihat ada seekor jaguar hitam, singa jantan, beruang kutub berwarna
putih, serigala, dan komodo. Tolong! Aku
tak bisa berkata-kata, aku tak bisa bergerak, mungkin jika aku memiliki
penyakit jantung aku akan mati sekarang juga. Darimana mereka datang? Ini sama
sekali tidak masuk akal, jantungku berdetak dengan cepat. Aku merasakan
keringat mengalir di pelipisku. Aku menelan ludahku lagi. Aku memberanikan diri
untuk mengambil ponselku, tanganku meraba-raba ranjangku, aku memberanikan diri
berbalik badan mengambil ponselku. Aku menelepon Tom dengan tanganku yang
bergemetar, aku berusaha untuk tidak menjerit dan berteriak minta tolong, aku
tak mau rumah dan para tetanggaku panik dalam waktu seketika, tak harus menunggu
lama, Tom langsung mengangkat telepon,
“Hey Helena! Aku tau
kau pasti membutuhkan bantuanku!”
“Tom, aku sangat membutuhkanmu.” Aku berbicara dengan volume
terkecil yang kubisa, tentunya, dengan keringat membasahi wajahku.
“Helena, ada apa!?”
“Aku mohon, datangah kemari. Jika kau sudah sampai, masuklah
saja, pergi menuju kamarku. Dan aku mohon, kau harus berjanji untuk tidak
berteriak dan menjerit saat kau membuka pintu kamarku. Kau harus cepat kesini.”
“Baiklah, tunggu, aku
sedang dalam perjalanan. Kau jangan kuatir.”
Aku menutup telepon. Aku menatap
satu persatu lima binatang buas di hadapanku. Mereka menunduk dan menekukkan
kaki mereka, sama sekali tak menggangguku. Aku tak berani menggerakkan kakiku.
“Darimana kalian berasal?” Aku
menelan air ludahku memberanikan untuk bertanya, jantungku semakin berdetak
dengan cepat.
Bodohnya aku bertanya kepada
hewan. Mereka sama sekali tak menjawabku, mereka sama sekali tak bergerak. Aku
menatap kembali Gamebot itu, apakah berasal dari benda ini? Aku tak berani menekan
tombol yang lainnya, aku takut hal-hal menakutkan akan terjadi, maka aku
biarkan saja untuk tetap bertuliskan “PROGRAM
IS ACTIVATED” di layar monitor. Aku melihat jam di ponselku, lima belas
menit sudah aku menunggu Tom, mengapa dia belum datang juga?
Akhirnya seseorang membuka pintu
kamarku,
“Helena apa yang a..a..a” Tom terkejut dan melangkah mundur. Dia terkejut dan kini wajahnya terlihat seperti seekor kera yang tiba-tiba di serang oleh buaya dipinggir danau.
“Tom, aku mohon.” Aku menempelkan telunjuk kananku pada bibirku, dengan maksud agar dia menutup mulutnya. “Masuk, dan tutup pintunya.” Aku memerintah.
Tom masuk dan menutup pintu dengan perlahan. Tom menghampiriku dengan sangat hati-hati, dia duduk di sampingku.
“Apa binatang-binatang buas ini hidup?” Tom berbisik kepadaku.
“Aku tidak tahu, sedari tadi mereka hanya membungkuk, tetapi kupikir mereka hidup.” Dengan tiba-tiba para binatang tersebut bangun dan hidup,mereka membuatku terkejut setengah mati seperti mengagetkanku dengan peluncuran roket di depan mata kepalaku tanpa pemberian aba-aba.
Aku memeluk Tom dan menjerit dalam dekapannya.
“Helena! Ibu tolong aku, Helena aku tidak siap untuk mati sekarang.”
Aku mendengar suara Tom yang kedengarannya merengek dan seperti sedang menangis.
“Helena apa yang a..a..a” Tom terkejut dan melangkah mundur. Dia terkejut dan kini wajahnya terlihat seperti seekor kera yang tiba-tiba di serang oleh buaya dipinggir danau.
“Tom, aku mohon.” Aku menempelkan telunjuk kananku pada bibirku, dengan maksud agar dia menutup mulutnya. “Masuk, dan tutup pintunya.” Aku memerintah.
Tom masuk dan menutup pintu dengan perlahan. Tom menghampiriku dengan sangat hati-hati, dia duduk di sampingku.
“Apa binatang-binatang buas ini hidup?” Tom berbisik kepadaku.
“Aku tidak tahu, sedari tadi mereka hanya membungkuk, tetapi kupikir mereka hidup.” Dengan tiba-tiba para binatang tersebut bangun dan hidup,mereka membuatku terkejut setengah mati seperti mengagetkanku dengan peluncuran roket di depan mata kepalaku tanpa pemberian aba-aba.
Aku memeluk Tom dan menjerit dalam dekapannya.
“Helena! Ibu tolong aku, Helena aku tidak siap untuk mati sekarang.”
Aku mendengar suara Tom yang kedengarannya merengek dan seperti sedang menangis.
Singa itu mengaum membuat level
ketakutanku meningkat. Aku menjambak rambut Tom dan menjerit. Kacamatanya
terlepas, dan dia tampak tersiksa dengan nafasnya yang tak karuan. Kemudian
raungan seekor serigala menyusul.
Tom memelukku erat, “Helena aku sangat takut.”
Aku melepaskan pelukannya, “Kau ini bagaimana, sih! Harusnya kau melindungiku!”
“Maafkan aku Helena, aku gugup karena kacamataku jatuh.” Tom menyipitkan matanya.
Tom memelukku erat, “Helena aku sangat takut.”
Aku melepaskan pelukannya, “Kau ini bagaimana, sih! Harusnya kau melindungiku!”
“Maafkan aku Helena, aku gugup karena kacamataku jatuh.” Tom menyipitkan matanya.
Aku mencari kacamatanya, ternyata
ada di dekat kaki singa, bagaimana aku bisa mengambilnya!? Seseorang mengetuk
pintu dengan keras.
“Helena, suara apa itu?!” Mama berteriak dari luar pintu.
“Tidak, Ma, itu hanya suara binatang dari film, aku mengeraskan volumenya!”.
Tiba-Tiba Singa mengaum lebih keras. Aku meremas seprai ranjangku, Tom menutupi wajahnya dan terdiam seperti patung.
“Apa kau yakin?” Mama bertanya dari balik pintu.
“Ya, Ma! Jangan kuatir! Kami baik-baik saja!” Aku berteriak membalas.
“Helena, suara apa itu?!” Mama berteriak dari luar pintu.
“Tidak, Ma, itu hanya suara binatang dari film, aku mengeraskan volumenya!”.
Tiba-Tiba Singa mengaum lebih keras. Aku meremas seprai ranjangku, Tom menutupi wajahnya dan terdiam seperti patung.
“Apa kau yakin?” Mama bertanya dari balik pintu.
“Ya, Ma! Jangan kuatir! Kami baik-baik saja!” Aku berteriak membalas.
Aku menunggu, ternyata tak ada
sahutan lagi, sepertinya Mama sudah pergi.
“Tom, kacamatamu ada didepan kaki
Singa, bagaimana bisa aku mengambilnya?” Aku berkata pada Tom yang kini tak
menutupi wajahnya lagi.
“Helena! Aku Tahu! Coba kau tekan tombol ON/OFF Gamebot itu!” Aku menatap Gamebot kembali dan menuruti perintah Tom, aku menekan tombol ON/OFF, dan ternyata benar, hewan-hewan tersebut tersedot oleh jaring spider-man berjenis matriks, kutebak. Hewan-hewan itu tersedot ke dalam kepala Gamebot yang terbuka. Aku memegangi Gamebot erat dengan kedua tanganku hingga kelima binatang buas itu tersedot masuk kedalam Gamebot, lalu kepala Gamebot tersebut kembali tertutup.
“Helena! Aku Tahu! Coba kau tekan tombol ON/OFF Gamebot itu!” Aku menatap Gamebot kembali dan menuruti perintah Tom, aku menekan tombol ON/OFF, dan ternyata benar, hewan-hewan tersebut tersedot oleh jaring spider-man berjenis matriks, kutebak. Hewan-hewan itu tersedot ke dalam kepala Gamebot yang terbuka. Aku memegangi Gamebot erat dengan kedua tanganku hingga kelima binatang buas itu tersedot masuk kedalam Gamebot, lalu kepala Gamebot tersebut kembali tertutup.
Aku menjatuhkan Gamebot dan
menghembuskan nafas. “Tom, kau benar! Binatang-binatang itu berasal dari
Gamebot ini!” Aku berdiri dan mengambil kacamata Tom lalu kemudian
memasangkannya pada Tom.
“Sungguh?” Tom membuka tutup matanya.
“Ya! Yang tadi itu sungguh aneh. Kupikir….” Aku melirik mata Tom.
“Gamebot Ajaib” Dia membaca pikiranku.
“Tom, sungguh tidak bisa dipercaya. Aku takkan memainkannya lagi.” Aku berdiri memungut Gamebot dibawah kakiku dan memasukkannya ke dalam laci bersama dengan barang-barang yang sudah tidak kupakai.
“Sungguh?” Tom membuka tutup matanya.
“Ya! Yang tadi itu sungguh aneh. Kupikir….” Aku melirik mata Tom.
“Gamebot Ajaib” Dia membaca pikiranku.
“Tom, sungguh tidak bisa dipercaya. Aku takkan memainkannya lagi.” Aku berdiri memungut Gamebot dibawah kakiku dan memasukkannya ke dalam laci bersama dengan barang-barang yang sudah tidak kupakai.
Aku menjatuhkan tubuhku pada
ranjang. “Aku sangat terkejut, Tom. Kurasa aku akan tidur, dengan harapan aku
hanya bermimpi untuk yang baru saja terjadi. Kau tahu..”
“Tidurlah, aku akan meemanimu hingga kau terlelap.” Tom tersenyum dan membukakkan sepatuku juga meletakannya di bawah ranjang, lalu dia menyelimutiku.
Aku memegang lengan Tom. “Aku mohon, jangan beritahu kepada siapa-siapa.”
“Aku tidak akan memberitahukannya pada siapa-siapa. Tidurlah.” Tom menaikkan kakiknya keatas ranjang dan duduk di samping kepalaku.
“Terimakasih, Tom.” Aku menghembuskan nafas dan memejamkan mataku.[]
“Tidurlah, aku akan meemanimu hingga kau terlelap.” Tom tersenyum dan membukakkan sepatuku juga meletakannya di bawah ranjang, lalu dia menyelimutiku.
Aku memegang lengan Tom. “Aku mohon, jangan beritahu kepada siapa-siapa.”
“Aku tidak akan memberitahukannya pada siapa-siapa. Tidurlah.” Tom menaikkan kakiknya keatas ranjang dan duduk di samping kepalaku.
“Terimakasih, Tom.” Aku menghembuskan nafas dan memejamkan mataku.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar