Summertime

Selasa, 24 Juni 2014

The Magic of Gamebots


7.  Ella Si Gadis Mengesalkan
 

“Apa kau bercanda?! Kehidupan dalam mimpi? Itu hanya ada dalam kekonyolan film, Helena.”  Tom mencondongkan tubuhnya padaku dan bereaksi tak percaya setelah aku menceritakannya tentang binatang-bianatang darat yang berbicara dalam mimpi dan segala tentang gamebot ajaib pemberian Ibunya.
               “Entahlah Tom, aku sendiri ingin tak mempercayainya, tetapi itu memang benar-benar terjadi.” Aku mengehela nafas dan menggigit beefburgerku.
              
Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Tom bertanya padaku dengan tatapan penasarannya.
                “Maaf, apakah kau baru saja bertanya padaku? Karena aku sendiri sama sekali tidak tahu jawabannya.” Aku menaikkan bahuku.
                 Tom menarik badannya cepat dan menepuk dahinya, “Ya Tuhan, yang benar saja! Kau tahu, benda itu ‘ajaib’ dan mungkin suatu ‘keajaiban’ apakah kau tak pernah memikirnya?!” Tom mengambil botol orange juic enya dan meminumnya sampai habis.
                 “Ya, mungkin aku tak pernah memikirkan itu sebelumnya, tapi aku mengalaminya, dan kau tahu? Aku menyukai mereka! Dan juga hutan yang indah itu, disana, setidaknya aku bisa melupakan beban pikiranku sejenak. Itulah kelebihannya.” Aku menggigit lagi beefburgerku.
                  
Tom menyeringit bingung.
                 “Empat hari lagi Papa akan melayangkan gugatan cerai.” Aku mengingatkannya.
                 “Oh, ya, tentu saja, aku hampir lupa.” Dia mengehela nafasnya.
                  Aku meneguk orange juiceku selagi Tom mengunyah beefburgernya.
                 “Lagi pula aku sudah bilang pada mereka bahwa aku hanya akan memainkannya bersamamu.” Kataku.
                   Tom hanya memandangiku saja tanpa membalas, tapi menurutku, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
                  “Ya, TENTU SAJA!” Tom mengejutkanku dengan menggebrakan meja.
                    Orang-orang yang sedang lalu lalang berjalan dan duduk mengalihkan perhatiannya pada aku dan Tom. Aku masih meneguk minumanku, sementara Tom memakan beefburgernya lagi, berusaha agar terlihat biasa saja sampai orang-orang kembali tak peduli.
                  “Teruskan, tampan.” Aku memulai pembicaraan lagi.
                  “Helena,” Tom berkata pelan dan mencondongkan tubuhnya, “Bagaimana jika kita mainkan gamebot itu?” Dia menyeringai.
                  “Oh, Thomas, sungguh, apa kau sudah gila?!” Aku menolak.
                  “Tidak, tidak, aku bersungguh-sungguh. Ya, maksudku tidak di tempat umum,”
                   Aku menyeringit kebingungan, dan masih mencerna perkataanya, tidak di tempat umum?
                 
“Di hutan.” Tom tersenyum menjawab kebingunganku.
                   Aku menarik nafasku, “Tom! Kau jenius!” Aku menyeringai dan memeluknya.
                 “Ya! Aku memang jenius! Sekarang, lepaskan aku, ya?” Tom berbisik.
                  Aku baru menyadari bahwa setengah dari tubuhnya kini tertarik oleh pelukanku, dan kini dia terlihat sedang menungging. Aku tertawa dan segera melepaskan pelukanku.
                  Tom kembali duduk dan memegang dadanya panik. Aku tak mengerti, kenapa dia selalu terlihat panik setiap kali aku memeluknya. Aku pernah bertanya kenapa dia selalu terlihat panik seperti itu, tetapi jawabannya selalu sama ‘hanya sesak nafas.’ Dan dia selalu menjawabnya dengan gugup, sangat aneh.
“Baiklah, Tom, kita lakukan itu pada hari sabtu, setuju?” Aku meliriknya selagi aku menggigit potongan terakhir beefburgerku.
               “Setuju.” Tom menaikkan alis kanannya dan tersenyum.
                Bel pulang akhirnya berbunyi, setelah aku hamper mati oleh celotehan Ibu Fransisca, guru bahasa inggrisku.
              “Baik anak-anak, jangan lupa untuk membuat artikel tentang tempat liburan yang indah, bagi yang tak mengumpulkannya, tidak akan ada toleransi.”
               Sementara kami memasukkan buku-buku ke dalam tas, aku melirik Tom di belakangku dan menyeringai. “Tak ada satupun yang mempunyai waktu untuk hal semacam itu.”
               Tom tertawa kecil. “Jangan khawatir, aku akan membuatkannya untuk kita berdua.”  Dia tersenyum.
              “Selalu seperti itu.” Aku menyeringai dan berdiri menggandongkan tas ranselku, diikuti oleh Tom.
                Aku dan Tom berjalan di lorong loker untuk anak kelas 1 SMA, menuju loker milik kami masing-masing tentunya. Loker aku dan Tom saling bersebrangan, jadi aku dan dia selalu berjalan bersama-sama kemanapun, kecuali saat aku pergi ke toilet, dia selalu menungguku di luarnya.
“Tom, apakah kau akan mengerjakan karya ilmiah kimia yang dikumpulkan besok?” Aku meliriknya sementara matanya tertuju lurus.
                Tom tertawa, “Sudahlah tak perlu basa-basi, aku tahu kau khawatir aku tidak membuatkannya untukmu.”
                Aku mengerinyit, “Sebenarnya, tidak juga, sih,” (Aku selalu bergantung padanya untuk urusan PR setiap hari) Aku meliriknya lagi, kini dia juga melirikku, “Tapi, buatkan saja untukku.” Aku menyeringai.
              “Tanpa kau memintapun aku sudah melakukannya, Helena Brockwilson.” Dia tersenyum menggodaku.
              “Ya, karena itu memang pekerjaan yang bagus untukmu.” Aku tersenyum dan berbelok menuju lokerku.
GO FUCK YOUR SELF’ itulah hal pertama yang kulihat saat membuka loker. Aku menulisnya menggunakan spidol. Di bawahnya, ada tanda tangan aku dan Tom. Lokerku hanya di isi oleh buku-buku yang tebal saja, dan seragam cadanganku. Di balik pintu loker, aku menempelkan foto-foto saat aku bersama Mama dan Papaku saat di Paris, dan foto-fotoku bersama Tom.
Aku membuka tasku dan menutupnya kembali setelah mengeluarkan buku-buku yang memberatkan tasku dan menyimpannya dalam lokerku.
“Lagi-lagi.” Tom berkata.
                Aku membalikkan badanku selagi aku mengunci lokerku. Tom sedang memegang secarik kertas dan sebatang cokelat. Dan itu sudah pasti dari gadis bodoh yang bernama Ella.
               Aku tertawa dan menghampirinya, “Kau beruntung sekali bisa mendapatkan cokelat gratis setiap pagi.” Aku merebut cokelat dari tangannya.
              “Kali ini, apa puisi yang dia tulis untukmu?” Aku menyandarkan badanku pada loker di samping Tom.
            “Kau lihat saja sendiri.” Tom memberikan secarik kertas yang dipegangnya, dia membalikkan badannya dan mengunci lokernya.
              Lokernya sama denganku, hanya buku-bukulah yang berbeda, dia selalu membawa buku yang akan dia pelajari, sementara aku tidak.

                Tak ada bosan-bosannya aku mengirim secarik kertas dan sebatang cokelat untukmu,
                                                Dan aku tak akan pernah bosan untuk melakukannya,
                                                                Walaupun kau belum sempat membalas,
                                                                                       Itu tak mengapa,
                                                                                Karena aku selalu mengerti,
                                                                            Senang kau membaca puisi ini.”
                                                                                                                                                                I LOVE YOU.
                                                                                                                                                               Ella Resnle
.
Aku menahan tawa selama aku membaca puisi itu.
             “Sudahlah, kau tak perlu menahan tawa seperti itu.” Tom berjalan meninggalkanku.
             “Kau tak sempat, ya?”  Aku menunjukkan ekspresi sedih seperti Ella pada Tom.
             “Diamlah, buang saja kertas itu.” Dia menjawab dingin, seperti biasanya.
              Aku tertawa dan mulai mengupas kemasan cokelat. “Baiklah.” Aku membuang kertas pemberian Ella ke dalam tong sampah yang kulewati. “Kau mau?” Aku menawarkan cokelat pada Tom sebelum aku memakannya.
            “Tidak, terimakasih.”  Tom menolak.
            “Baiklah.” Aku menggigit satu batang coklat pertama, “Sebenarnya menurutku itu bukan puisi, tapi pernyataan secara resmi dan tidak tahu malu.” Aku tertawa menggodanya.
               Tom tertawa mengikuti.
            “Mari kita pergi menuju rumahmu!” Aku menggigit cokelat dan merangkul Tom.
“Lepaskan!” Lagi-lagi seseorang melepaskan rangkulanku, selalu, Ella.
                Dia dan bersama kedua temannya yang sering dijuluki ‘Si Kecil Kembar’ oleh semua anak-anak di West High School karena sifat dan postur tubuh mereka yang hampir sama.
Yang berbeda dari mereka berdua adalah dari rambut, Giena Ariahuna memiliki rambut lurus, sementara Darnilia Shadine memiliki rambut keriting yang indah.
Aku menghela nafas, “Hai, Ella. Terimakasih ya, cokelatnya.” Aku menunjukan ekspresi sarkatisku padanya.
               Ella mengambil paksa cokelat yang sedang kupegang, “Kau sama sekali tak pantas memakan cokelat semahal ini!”
               Aku tertawa, “Apa kau lupa aku keturunan Swiss? Aku pernah memakan cokelat yang lebih bernilai daripada cokelat murahan itu!”
               Tom menatapku dan menahan tawa.
              “Ya! Dia benar! Di Swiss memang banyak cokelat!” Darnilia berkata dengan bersemangat.
              “Benar! Aku sangat ingin kesana! Bisa kau ajak kami Helena?” Sambung Giena dengan matanya yang berbinar-binar.
              “Diam kalian!” Bentak Ella.
                Darnilia dan Giena diam menggigiti jari.
              “Dia sama sekali tak pantas menjadi seorang manusia! Lihat saja dirinya, pakaian apa yang dia pakai? Oh ya tentu saja dia tak mampu membeli pakaian bagus seperti kita, dia hanya mempunyai pakaian-pakaian bekas dari para gelandangan!” Ella menunjuk-nunjuk mukaku.
                Dadaku terasa panas mendengar Ella berkata seperti itu, aku mengepalkan tanganku bersiap untuk meninjunya.
               “Hentikan!” Cegah Tom dengan menghalangi tubuhku lagi, selalu seperti ini. “Pertama, kau sama sekali tak punya wawasan fashion. Kedua, jangan pernah mengirimiku lagi secarik kertas bodoh bertuliskan puisi tak berguna!” Bentak Tom pada Ella lalu menarik tanganku untuk pergi.
Aku menatap tajam mata Ella, dan diapun membalasnya.
“Dasar gelandangan!” Teriak Ella saat aku dan Tom berjalan meninggalkannya bersama Giena dan Darnilia.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar