10. Aku Terkena Skors Satu Minggu
Aku gelisah,
meskipun aku sedang menonton serial Glee di tv, tetapi jantungku berdetak tak
karuan, begitupun dengan pikiranku.
“Helena.”
Seketika aku menarik nafasku, aku sangat kaget. Rasanya seperti kau sedang merokok sembunyi-sembunyi di kamar mandi tetapi kau lupa untuk mengunci pintunya lalu Ayahmu tiba-tiba membukanya.
Seketika aku menarik nafasku, aku sangat kaget. Rasanya seperti kau sedang merokok sembunyi-sembunyi di kamar mandi tetapi kau lupa untuk mengunci pintunya lalu Ayahmu tiba-tiba membukanya.
Mama sudah pulang, dia menaruh tasnya di atas meja.
Mama sudah memenuhi panggilan dari pihak sekolah tentang keterkaitanku dalam Pertempuran Kantin kemarin. Aku tak tahu siapa saja yang orang-tuanya dipanggil, tetapi yang aku tahu, Tom hanya menerima surat peringatan saja dari sekolah. Aku tak tahu apa hukuman dari sekolah yang akan aku terima, mungkin saja aku sudah resmi dikeluarkan dari West High School. Ah, tidak, jangan berpikir yang tidak-tidak.
Mama sudah memenuhi panggilan dari pihak sekolah tentang keterkaitanku dalam Pertempuran Kantin kemarin. Aku tak tahu siapa saja yang orang-tuanya dipanggil, tetapi yang aku tahu, Tom hanya menerima surat peringatan saja dari sekolah. Aku tak tahu apa hukuman dari sekolah yang akan aku terima, mungkin saja aku sudah resmi dikeluarkan dari West High School. Ah, tidak, jangan berpikir yang tidak-tidak.
Aku masih menunggu Mama berbicara, yang aku rasakan saat ini,
keadaan terasa sangat mencekam. Mama masih berdiri dengan kedua tangannya di
pinggang. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja dan tidak terlihat tegang.
Mama
menghela nafas, “Helena, kau terkena skors selama satu minggu.” Mama akhirnya
berkata dengan dingin, “Bersyukurlah kau hanya menerima hukuman seringan itu
setelah kau membuat banyak orang babak belur.” Mama menambahkan.
Aku mengembuskan nafasku dengan perasaan yang sangat lega,
kau tahu, rasanya seperti pantatmu sedang terbakar lalu kau merendamkannya ke
dalam satu ember penuh dengan air.
“Ya, tentu saja, aku sangat bersyukur.” Aku menyeringai
dengan perasaanku yang bahagia.
Mama masih menatapku dingin, “Tetapi jika sekali lagi saja kau membuat kekacauan, kau akan di keluarkan, dan tak akan ada satupun sekolah di Los Akirema yang akan menerimamu.”
Dengan seketika bahuku kembali menegang dan nafasku kembali tersendat. Aku menggaruk kepalaku meskipun sebenarnya aku tidak merasa sedang gatal. Satu kali lagi? Yang benar saja, kau tahu aku harus menghajar si tolol Ella lebih dari satu kali.
“Bagaimana bisa kau melakukan hal brutal seperti itu?! Kau selalu mempermalukan kedua orang-tuamu saja!” Mama membentakku dengan suara terkeras yang dia bisa keluarkan.
Mama masih menatapku dingin, “Tetapi jika sekali lagi saja kau membuat kekacauan, kau akan di keluarkan, dan tak akan ada satupun sekolah di Los Akirema yang akan menerimamu.”
Dengan seketika bahuku kembali menegang dan nafasku kembali tersendat. Aku menggaruk kepalaku meskipun sebenarnya aku tidak merasa sedang gatal. Satu kali lagi? Yang benar saja, kau tahu aku harus menghajar si tolol Ella lebih dari satu kali.
“Bagaimana bisa kau melakukan hal brutal seperti itu?! Kau selalu mempermalukan kedua orang-tuamu saja!” Mama membentakku dengan suara terkeras yang dia bisa keluarkan.
“Kedua orang-tua?” Aku balik bertanya dengan dingin.
Mama terlihat sangat terkejut dengan perkataanku, Mama terdiam dengan nafasnya yang terengah-engah.
“Aku merasa tidak memiliki orang tua lagi.” Aku berkata dengan sinis. (Jika kau melihat seorang anak berprilaku seperti ini kepada Ibunya di dalam sinetron mungkin kau akan menyumpahiku setengah mati).
“Lalu kau anggap apa Mama dan Papamu?!” Mama mengepalkan kedua tangannya, matanya berkaca-kaca.
“Seorang orang-tua tidak akan pernah memandang peran anaknya dengan sebelah mata.” Aku membalas dengan nafasku yang terengah-engah karena menahan emosi.
“Apa yang kau maksud?!” Mama menahan tangisannya.
Sebenarnya aku benci jika melihat Mama menangis, aku membenci diriku sendiri karena aku membuat Mama menangis, tetapi, aku harus mengatakannya agar Mama tahu betapa tersiksanya aku dengan perceraiannya yang akan datang.
“Tidakkah Mama berpikir?! Selama ini aku tersiksa, aku merasa hancur mengingat kedua orang-tuaku yang selalu kubanggakan ternyata memiliki egois yang sangat tinggi!” Aku berdiri dari sofa yang kududuki, “Aku, satu-satunya anak dari kalian, sama sekali tidak cukup kuat untuk menjadi alasan kalian untuk bertahan! Sebenarnya apa arti aku bagi Mama dan Papa?!” Aku mengeluarkan segenap amarahku kedalam kata-kataku.
“Cukup!” Mama berkata dengan sangat keras, “Cukup Helena! Yang kau harus lakukan hanyalah menjadi anak yang patuh, jangan mengacau lagi di sekolahmu! Hanya itu!” Mama menunjuk-nunjukku dengan matanya yang merah karena menangis.
“Waktuku di sini mungkin hanya tinggal..” Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, Rabu. 5 hari, aku menghitung dalam hati.”5 hari. Setelah itu mungkin aku akan pergi ke Swiss bersama Mama! Jadi apa salahnya jika aku menghajar orang-orang bodoh itu?!” Aku berkata dengan lantang, lalu bergegas meninggalkan Mama.
“Helena!” Mama berteriak memanggil-manggil namaku. Tetapi aku tak menghiraukannya.
Mama terlihat sangat terkejut dengan perkataanku, Mama terdiam dengan nafasnya yang terengah-engah.
“Aku merasa tidak memiliki orang tua lagi.” Aku berkata dengan sinis. (Jika kau melihat seorang anak berprilaku seperti ini kepada Ibunya di dalam sinetron mungkin kau akan menyumpahiku setengah mati).
“Lalu kau anggap apa Mama dan Papamu?!” Mama mengepalkan kedua tangannya, matanya berkaca-kaca.
“Seorang orang-tua tidak akan pernah memandang peran anaknya dengan sebelah mata.” Aku membalas dengan nafasku yang terengah-engah karena menahan emosi.
“Apa yang kau maksud?!” Mama menahan tangisannya.
Sebenarnya aku benci jika melihat Mama menangis, aku membenci diriku sendiri karena aku membuat Mama menangis, tetapi, aku harus mengatakannya agar Mama tahu betapa tersiksanya aku dengan perceraiannya yang akan datang.
“Tidakkah Mama berpikir?! Selama ini aku tersiksa, aku merasa hancur mengingat kedua orang-tuaku yang selalu kubanggakan ternyata memiliki egois yang sangat tinggi!” Aku berdiri dari sofa yang kududuki, “Aku, satu-satunya anak dari kalian, sama sekali tidak cukup kuat untuk menjadi alasan kalian untuk bertahan! Sebenarnya apa arti aku bagi Mama dan Papa?!” Aku mengeluarkan segenap amarahku kedalam kata-kataku.
“Cukup!” Mama berkata dengan sangat keras, “Cukup Helena! Yang kau harus lakukan hanyalah menjadi anak yang patuh, jangan mengacau lagi di sekolahmu! Hanya itu!” Mama menunjuk-nunjukku dengan matanya yang merah karena menangis.
“Waktuku di sini mungkin hanya tinggal..” Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, Rabu. 5 hari, aku menghitung dalam hati.”5 hari. Setelah itu mungkin aku akan pergi ke Swiss bersama Mama! Jadi apa salahnya jika aku menghajar orang-orang bodoh itu?!” Aku berkata dengan lantang, lalu bergegas meninggalkan Mama.
“Helena!” Mama berteriak memanggil-manggil namaku. Tetapi aku tak menghiraukannya.
Aku menggambil Gamebot dari dalam
laciku lalu memasukkannya kedalam tas ranselku. Aku pergi meninggalkan rumahku
dengan cepat, tanpa menghiraukan Mama yang sedang duduk di sofa dan menutupi
wajahnya.
Karena hari ini aku memiliki janji dengan Tom untuk memainkan Gamebotku di hutan, maka aku pergi menuju rumahnya.
Dret…Dret ponselku bergetar di dalam saku.
“Ya, Tom. Aku sedang dalam
perjalanan menuju rumahmu.”
“Tidak, Helena. Kau tunggu aku saja di stasiun. Aku akan menyusulmu.”
“Oh begitu, baiklah. Jangan membuatku lama menunggu.”
“Kau takkan menunggu lebih dari 10 menit, aku berjanji.”
“Iya baiklah iya, cepat ya. Dah.”
Aku menutup telepon. Tidak sopan, ya?
Baiklah, aku mengubah arah tujuanku. Maka aku berhenti untuk menunggu bis yang akan mengantarku menuju stasiun.[]
“Tidak, Helena. Kau tunggu aku saja di stasiun. Aku akan menyusulmu.”
“Oh begitu, baiklah. Jangan membuatku lama menunggu.”
“Kau takkan menunggu lebih dari 10 menit, aku berjanji.”
“Iya baiklah iya, cepat ya. Dah.”
Aku menutup telepon. Tidak sopan, ya?
Baiklah, aku mengubah arah tujuanku. Maka aku berhenti untuk menunggu bis yang akan mengantarku menuju stasiun.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar