Summertime

Selasa, 24 Juni 2014

The Magic of Gamebots


9. Pertempuran Kantin

                Hari ini aku memilih untuk langsung pulang saja, aku rasa perkataan Tom di atap rumahnya kemarin ada benarnya juga, aku harus bersiap siaga di rumah, agar aku bisa melerai pertengkaran Mama dan Papa, jika itu terjadi. Tom sempat memintaku untuk menemaninya membeli buku kimia, tetapi aku menolaknya, jadi dia putuskan untuk membelinya sendirian. Hari ini Ella tak mengganggu Tom dengan kiriman surat dan sebatang cokelat darinya, itu sebabnya Tom terlihat senang dengan kata “akhirnya!”.
                Suasana di rumah masih sama seperti biasanya, sunyi. Papa masih bekerja di kantor, tetapi aku takut dia pulang cepat dan meneruskan pekerjaannya di rumah, karena Papa terkadang suka begitu.
Aku menghampiri Mama yang sedang menonton acara gossip.
             
“Hai Ma.” Aku menyapanya.
             “Hai sayang, lihatlah, sebentar lagi Avril Lavigne akan datang ke Los Akirema, bukankah kau menyukainya?” Mama menunjuk-nunjuk tv dengan remot.
              Mataku mebelalak, dadaku terasa bergejolak, aku sangat bahagia!
             “Ya, Ma! Aku sangat menyukainya!” Aku berteriak histeris.
             “Ya, itu berarti kau akan menontonnya sayang!” Mama menyeringai.
Terlintas di benakku tentang perceraiannya, seketika aku terdiam.
              “Helena, ada apa?” Mama memegang bahuku.
                Aku mengehela nafas dan mulai berbicara, “Mama, pada saat pembelian tiket, itu berarti Mama dan Papa sudah bercerai, apa Mama mempunyai uang untuk membelikanku tiket?” Aku berkata dengan sangat hati-hati.
                Mama terdiam, dan menundukkan kepalanya. Aku sudah salah berkata, sial. Aku masih menunggu Mama berbicara.
                Mama menghela nafas, dan menatapku, Mama mengusap pipiku, dia tertawa kecil, “Tentu saja Mama punya, apa yang Mama tidak punya untuk anak Mama yang manis ini?” Mama tersenyum.
                Aku langsung memeluk Mama, “Terimakasih, Mama.” Aku membenamkan wajahku ke dalam perut Mama.
               
Ternyata Mama dan Papa tak bertengkar. Mereka berdua hidup di satu atap, tetapi mereka berdua terlihat seperti orang asing, tak bertutur sapa sama sekali.
Semenjak hari pertengkaran itu, Papa tidur di sofa, dan sering membeli makanan sendiri dari luar. Aku belum melihat Mama menangis lagi, tetapi aku berani bertaruh bahwa dia sangat pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku tahu Mama sedang stress menghadapi perceraiannya. Sudah empat hari aku tak berbicara pada Papa, itu karena aku yang terus-menerus menjauhinya. Papa pernah mengetuk kamarku pada malam hari ketika aku sedang menonton televisi, tetapi aku tak membukakannya sama sekali.
Mimpiku masih sama, dihiasi oleh binatang-binatang darat. Aku dan Brian jalan-jalan memasuki hutan, aku menceritakan hari-hariku di sekolah, termasuk tentang Ella. Brian bilang, aku tak harus khawatir akan Ella, anggap saja dia sebagai Dwayne, yang sukanya memprovokasi orang-orang. Mulai dari sekarang, aku mencoba untuk mengganti wajah Ella menjadi Dwayne setiap kali aku melihatnya. Baiklah, mari kita pergi ke sekolah, beruntungnya ini hari Jum’at.
                Hari ini Ella tak berceloteh kepadaku di bis, aku harus berterimakasih padanya. Aku berhasil melihat Ella sebagai Dwayne, rasanya menggelitik, jika aku sedang berada di rumah sendirian, mungkin aku akan tertawa sambil berguling-guling.
Sejauh ini, hariku terasa sangat indah. Aku menceritakan mimpiku pada Tom, dia tak sanggup menahan tawa ketika aku menceritakan bagian Ella yang harus kuanggap menjadi Dwayne seekor anjing bulldog.
              “Andaikan saja aku mengetahui bagaimana rupa anjing bernama Dwayne itu, mungkin akan lebih ekstrim.” Tom tertawa lebih keras sehingga orang-orang di bis menatapnya sinis.
              “Berhentilah!” Aku tertawa mengikutinya.
                “Selamat menikmati harimu, Helena.” Kata Ella tersenyum saat mendahuluiku turun dari bis.
Sangat aneh, terkena virus apa dia? Tetapi, itu lebih baik, biarkan saja.
“Apa kau senang Ella tak mengganggu kita lagi?” Tom bertanya padaku.
              “Sebenarnya aku sedikit ragu, tetapi biarkan sajalah.” Aku menjawabnya.
“Hai teman-teman, lihat, ada gelandangan!” Federick anak kelas 11 berteriak menunjukku, lalu teman-temannya tertawa melihatku.
                Aku menghentikan langkahku, begitupun Tom. Siapa yang dia sebut gelandangan?
               “Siapa yang kau sebut gelandangan?” Aku mengerutkan keningku bertanya pada Federick.
               “Apa kau tidak menyadarinya?! Tentu saja kau!” Federick kembali tertawa bersama teman-temannya.
                Dadaku terasa panas, aku mengepalkan tanganku dan menghampirinya.
               “Helena!” Tom menarik tanganku, tapi ku elakkan tanganku dengan cepat.
Aku meremas kerah baju Federick, “Apa maksudmu?!” Aku berkata dengan segenap emosiku di depan wajahnya.
              Teman-temannya diam dan hanya bisa menonton.
             Wow, santailah, kau bisa melihat madding jika kau ingin mengetahuinya.” Federick membalas dengan suara tercekiknya.
             “Madding?” aku mengerutkan keningku.
             “Ya, dan sekarang, lepaskan tanganmu!” pinta Federick.
             “Ayo Helena!” Tom tiba-tiba menarik lenganku dan membawaku berlari.
              Aku menengok ke belakang untuk melihat Federick, dia sedang melihatku juga dengan tangannya yang mengelus-elus lehernya, aku memberinya jari tengahku sebelum aku kembali menengok ke depan.
Orang-orang menertawakanku ketika aku sedang berlari bersama Tom, tetapi aku tak mempeduikannya, aku ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di madding.

Aku dan Tom menghentikan langkah kaki, orang-orang sedang mengerumuni papan madding, sebagian orang melihatku, dan mereka menertawakanku, dadaku semakin panas.
Aku menerobos kerumunan hingga aku berada di depan papan madding. Tertempel sebuah kertas karton yang terlihat seperti artikel, tetapi yang kulihat ini bukan seperti artikel. Disana terdapat gambarku yang sedang mengenakan celana jeans berwarna biru pudarku yang memiliki robekan besar di kedua lututnya, dan memakai kaos putih polos yang sedikit memiliki noda hitam disana-sini. Disana disebutkan,
Apa kalian pikir pakaian seperti ini pantas dipakai? Menurutku tidak, jika kalian tidak memiliki pakaian lagi, aku sarankan untuk tak pergi kemanapun, Karena jika kalian lebih memilih untuk menggunakan pakaian seperti gadis di gambar itu, aku berkata jujur, kalian akan sangat terlihat menjijikan seperti gadis di gambar tersebut. Tidak hanya itu, kalian hanya akan mempermalukan sekolah kalian, karena sudah tak berpakaian dengan baik dan benar, dan tidak mencerminkan seorang siswa. Coba saja kalian cari gelandangan yang sedang mabuk di pinggir jalan, penampilannya sangat sama dengan gadis di gambar itu. Maka dari itu, kalian sudah tahu apa panggilan untuk gadis dalam gambar di samping tersebut.” 
Sedari tadi aku sudah mengepalkan tanganku, nafasku terengah-engah menahan emosi.
Aku pergi meninggalkan madding dan kerumunan, aku mencari Ella si kacamata tolol, aku sangat ingin meninjunya saat ini juga.
Aku berjalan cepat menuju kelas Ella, aku tak mendengar kata-kata mereka yang mengejekku.
“Apa masalahku denganmu?!” Aku menarik kerah baju Ella yang sedang asyik tertawa bersama Giena dan  Darnilia.
               Aku meremas kerah bajunya sekuat yang kubisa.
              “Lepaskan..” Ella berkata dengan suara tercekiknya dan terlihat kaget saat melihatku.
               Aku mendorong kasar tubuhnya pada tembok.
Tiba-tiba bel masuk bordering.
               Seluruh anak memasuki kelas dengan terburu-buru karena takut Bu Hera, pengawas sekolahku yang menakutkan datang memeriksa lorong-lorong kelas.
 “Aku akan menghancurkanmu saat jam istirahat tiba!” Aku menguatkan remasanku pada kerahnya, dan kemudia melepaskannya. Aku berjalan memasuki kelas.
               
Aku sama sekali tak bisa fokus untuk belajar atau menyerap semua yang dikatakan Prof. Hendrik di lab kimia. Tiba-tiba Tom memegang lenganku.
              Aku meliriknya.
             “Jangan terlalu dibawa emosi.” Tom berkata padaku dan tersenyum.
             “Apa kau gila?! Aku sama sekali tak bisa diam sedari tadi, aku ingin cepat-cepat menghajar si tolol Ella itu pada jam istirahat.” Aku berbisik padanya dengan nada tinggi, aku tak mau sampai terdegar oleh Prof. Hendrik. “Dan kau, jangan coba-coba untuk menahanku.” Aku menambahkan.
             “Dengan senang hati, aku takkan menahanmu.” Tom tersenyum.
               Aku membalas senyumannya.

 Bel istirahat akhirnya berbunyi. Aku sudah tak sabar untuk pergi menghajar si Ella tolol itu. Aku bersama Tom bergegas menuju kantin. Aku meminta Tom untuk membawakanku jatah makanan sementara aku mencari Ella.
Mataku mencari Ella diantara orang-orang yang berlalu lalang kesana-kemari, dan, fuck yeah! Aku menemukannya sedang berjalan membawa nampan.
 Aku menghampirinya dengan cepat dari belakang, aku membalikkan tubuhnya dengan kasar dan mendorongnya sampai jatuh dan terkena tumpahan makanan dan minuman dari nampannya. Semua orang mengalihkan perhatiannya padaku dalam sekejap.
               “Helena, kau jahat!” Darnlia mendorong perutku, walau sebenarnya aku tak terdorong sama sekali.
               “Diam!” Aku membentaknya, dan dia kembali mundur bersama Giena.
               “Dasar gelandangan!” Ella bangkit dan membersihkan sisa-sisa makanan di bajunya.
               “Apa kau bilang?!” Aku menarik kerah bajunya.
“Hey!” Seseorang berteriak diantara kehiningan.
                Ternyata Chrisani Dinistiina Siniatinin, gadis berpostur tubuh sempurna, karena dia seorang atlit lari, memiliku kulit coklat matang yang sempurna, dia sangat seksi menurtku.
               “Hentikan! Apa-apaan kau ini?!” Dia melepaskan tanganku dari Ella.
               “Apa masalahmu?!” Aku membentaknya.
               “Tunggu, ada apa ini, Helena?” Jasy Nidranes, teman satu kelasku, dia menghampiriku dengan sepatu rodanya, dia sering diejek karena tubuhnya yang gemuk.
               “Dia, si Ella tolol ini, memanggilku gelandangan karena aku suka memakai jeans robekku!” Aku menunjuk-nunjuk wajah Ella.
               “Apa?!” Jasy tertawa terbahak-bahak, “Dia kampungan sekali!” Jasy meneruskan.
               “Diam kau gendut!” Chrisani memotong tawanya.
               “Apa kau hitam?!” Jasy balas mengejek.
Tak kusadari, kini orang-orang di kantin telah memisahkan diri menjadi dua kubu. Sebagian ada yang menaikki meja dan kursi. Aku menaikki meja di belakangku.
“Teman-teman, mereka adalah sekumpulan remaja yang tidak tahu gaya hidup!” Aku berteriak memimpin.
               “YA!” mereka mengiya-kan dengan serempak.
“Kalian hanya sekumpulan gelandangan, hanya bisa mempermalukan diri sendiri!” Ella berteriak memprovokasi kubunya. “YA!” Kubunya pun serentak meng-iyakan.
               “Diam kau Ella tolol!” Aku menunjuknya.
               “Apa kau gelandangan?!” Ella membalas.
               “Kalian semua kampungan!” Jasy berteriak.
               “Diam kau gendut!” Chrisani membalas.
               “Apa kau hitam?!” Teriak Jassy.
Kami semua saling mengejek satu sama lain, hingga menghasilkan kegaduhan di seluruh sudut kantin.
“Diam kau!” Tom berteriak dan berdiri di sampingku.
                Aku mengatai Ella dengan kata-kata kasar, kami semua saling menghina kepada kubu yang berbeda.
Seseorang membuka pintu, kami semua serentak menutup mulut, kami takut Bu Hera mendatangi kantin. Kami melirik ke arah pintu. Ternyata dia adalahSaner  Dunivinger, dia mengendarai skateboardnya.
               Dia berhenti di antara kedua kubu, dia menaikkan skateboardnya. “Hey, ada apa?!” Dia mengerutkan keningnya kebingungan.
              “Wow, satu lagi gelandangan berskateboard.” Ella mengejek Saner, dan teman-teman di belakangnya menertawakan Saner.
                Siapa yang tidak tahu Saner, dia selalu membawa skateboardnya kemana-mana, dia berpakaian sama sepertiku, bedanya, dia selalu memakai kemeja.
               “Kepada siapa dia berkata?” Saner bertanya padaku.
               “Kepadamu.” Aku menjawab dengan menaikkan kedua alisku.
Saner menaikkan alis kanannya, dia melirik nampan berisi jatah makanan yang masih utuh di samping kakiku. Dia berjalan dan mengambil beefburger lalu melemparkannya plak! tepat mengenai wajah Ella. Aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Chrisani melemparkan kotak susu pada Jasy. Jasy menghampiri Chrisani lalu menyundul perutnya.
 Aku berlari meninju Ella sampai dia terjatuh. Aku menyiraminya dengan kotak susu. Setelah itu, aku mencari keberadaan Tom, aku masih tak melihatnya. Yang kulihat adalah, Jasy yang sedang lihai berlari dengan sepatu rodanya, mengambil beefburger dari nampan-nampan di atas meja, dan melemparnya pada orang-orang yang sedang menyerangi kubu kami. Darnilia dan Giena hanya berdiri berpegangan tangan di atas meja dan menangis. Aku melihat Saner meninju Federick dan sesekali menggunakan skateboardnya untuk memukul orang yang tiba-tiba menyerangnya. Aw! Seseorang meninjuku, aku menendangnya dengan kaki kananku tanpa melihat wajahnya sampai dia terjatuh.
Aku melihat Tom! Dia sedang meninju.. aku tak tahu siapa,
             “Tom!” Aku berteriak memanggilnya.
             “Helena!” Tom menyaut.
              Aku dan dia sama-sama berlari untuk mendekat. Jasy berlari menghalangi jalanku, lalu dikejar oleh Chrisani dengan cepat. Aku kembali berlari menghampiri Tom.
             “Helena! Apa kau tidak apa-apa?!” Tom memegangi wajahku.
             “Ya, hanya terkena tinju satu kali oleh..aku tak tahu siapa, tapi aku sudah membereskannya, juga Ella.” Nafasku terengah-engah.
Saner berjalan menggunakan skateboardnya, melayangkannya untuk menendang orang-orang dari kubu Ella.
              “Tom! Ayo kita tolong Jasy!” aku berlari menghampir Jasy yang sedang dikepung oleh Chrisani dan dua temannya.
Aku menarik baju temannya dan meninjunya dengan keras, sementara Tom mendorong temannya yang satu lagi hingga jatuh. Chrisani meninju Jasy hingga hidungnya berdarah, Jasy balas mendorongnya dan menendang perutnya dengan sepatu rodanya hingga Chrisani terjatuh dan kesakitan.
              “Rasakan itu, hitam!” Teriak Jasy puas.
“DIAM!” Seseorang berteriak dengan volume seperti Brian, kami semua diam. Itu adalah Bu Hera, oh sial!
Aku melihat kubu kami yang menang, karena aku melihat kubu Ella yang kebanyakan tergeletak di lantai.
“KALIAN SEMUA DALAM MASALAH!” Teriak Bu Hera dengan matanya yang menyeramkan. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar