Summertime

Minggu, 01 Juni 2014

The Magic of Gamebots



6. Aku Memiliki Teman Baru, Tom Membuatku Kesal


Aku sedang menunggangi Troy mengelilingi hutan bersama ratusan binatang darat lainnya. Aku benar-benar jatuh cinta pada tempat ini, sungguh. Hutan yang masih alami, sama sekali tak tersentuh oleh tangan-tangan manusia keji, dan yang pastinya, disini, tak akan ada yang dapat menemukanku.
Berbagai jenis pepohonan yang subur dan berdaun lebat memadati hutan. Aku dan binatang-binatang ini berjalan mengelilingi hutan bersama, mulai dari masuk melewati sela-sela pepohonan, lalu menikmati dinginnya aliran sungai dengan mencipratkan air kesana sini. Walaupun aku belum mengenal satu-persatu dari ratusan binatang ini, tetapi aku sudah merasa bahagia dengan mereka semua.
Sekarang, kami sedang menuju lapangan saat aku pertama ada di hutan ini. Kami berjalan di pinggir sungai, aku ada di tengah-tengah rombongan para binatang ini.
“Helena!”
                Aku mengerutkan keningku dan mencari dari mana sumber suara itu berasal.
             “Disini!”
                Aku menengokkan kepalaku ke belakang.
             ”Ya, disini!”
                Ternyata ada tiga ekor jerapah yang sama tingginya, tetapi yang paling tengahlah yang memanggilku.
                “Oh hey, ada masalah apa mahkluk berleher panjang?” Tanyaku.
                “Namaku Gio,” Katanya, “Dan ini Marlyn,” Dia memiringkan kepalanya ke sebelah kirinya.
                “Hey Helena.” Marlyn si jerapah perempuan menyeringai dan mengedip-ngedipkan bulu matanya genit kepadaku.
                 “Dan ini Franky.” Gio memiringkan kepalanya ke sebelah kanannya.
                 “Hai! Jangan sampai terkurkar dengan Frank si beruang kutub, ya? Franky dengan ‘Y’ di akhir.” Kata Frank dengan suara tipisnya dan menyeringai.
                  “Halo Gio, Marlyn, dan Franky. Ngomong-ngomong leherku terasa pegal sekali, ya kau tahu, leherku tidak sepanjang leher kalian.” Aku memegang leherku. Sebenarnya aku memberi kode kepada mereka bahwa leherku pegal terus-terusan melihat ke belakang. Semoga mereka mengerti kode manusia yang lehernya sedang pegal.
                  “Oh ya, tentu saja! Panjang leher kami tak terkalahkan!”  Kata Franky membanggakan diri.
                   Aku melirik Gio dan menaikkan alisku agar dia mengerti maksudku.
                  “Bukan bodoh! Lehernya pegal karena terus-menerus menengok kebelakang hanya demi meladeni kau!” Gio menyundul Kepala Franky.
                  “Aw, santai bung!” sanggah Franky.
                  “Hey bisakah kalian diam jerapah berotak udang!?” Marlyn melerai. “Helena, kau bisa menegokkan kepalamu ke depan kembali.” Marlyn mengedipkan kedua bulu matanya kepadaku dan tersenyum.”
                  “Tapi aku akan bertanya sesuatu Helena!” cegah Gio.
                  “Mari kita bicarakan saat kita berhenti, setuju?” Tanyaku tersenyum.
                  “Baiklah, setuju!” Gio menyeringai.
                   Aku tersenyum pada Gio dan menengokkan kepalaku kembali ke depan. Aku mengehela nafas, rasanya leherku pegal sekali. Aku memegangi leherku sambil memijatnya agar tak terlalu pegal.
Kami semua sudah sampai di lapangan, Troy berhenti di pinggir sungai, diikuti oleh binatang lainnya yang masih tertinggal dan kemudian memenuhi lapangan.
“Baiklah teman-teman.” Aku berteriak dan semua binatang tak bersuara hingga hanya suara aliran air sungailah yang terdengar. “Terimakasih untuk tamasya keliling hutannya, itu sangat menyenangkan!” Aku menyeringai.
                “Sama-sama.” Semua binatang ini serentak membalas dan membungkuk.
                “Kalian sudah lupa, ya?” Aku mengerutkan dahiku mencoba mengingatkan mereka.
                 Brian berdiri, lalu diikuti oleh yang lainnya, “Tentu tidak, Helena. Kami hanya senang memiliki teman sepertimu.” Jelas Brian.
               “Ya, dia sangat benar!” Seekor bulldog menyetujui dan diikuti oleh semua binatang lainnya membuat kegaduhan.
               “Wow! Itu katakata paling termanis yang pernah kudengar, tentunya, aku sama senangnya berteman dengan kalian semua!” Aku menyunggingkan senyuman kepada mereka semua.
   “Hey, Helena!”
                Aku mengenal suara ini, aku melirik Gio yang berada di tengah-tengah kerumunan.
               “Gio!” Aku berteriak menyapanya dalam kegaduhan. “Teman-teman, tolong diam sebentar!” Aku berteriak memerintah, dan dalam sekejap, semua binatang berhenti berbicara. “Baiklah, Gio, aku ingin kau bertanya kepadaku seperti apa yang kau minta tadi.” Kataku.
               “Oh, ya tentu saja. Aku ingin bertanya kapan kau akan memainkan Gamebot itu? Aku sangat tidak sabar untuk melihat duniamu!” Tanya Gio.
               “Ya dia benar!” Seekor bulldog menyetujui lagi dan kembali menghasilkan kegaduhan persetujuan.
               “Ayolah teman-teman!” Aku berteriak, tetapi kali ini suara teriakanku tak terdengar oleh mereka. “Troy, bisa kau membantuku?” Aku mencondongkan badanku mendekati telinga Troy meminta bantuan.
               “Kapanpun kau mau, Helena.” Troy meraung,, dan akhirnya semua binatang pun berhenti berbicara.
               “Baiklah, kali ini, aku minta jangan ada kegaduhan lagi, biarkan aku menjawab pertanyaan Gio. Dan kau,” Aku menatap seekor bulldog tadi, “Siapa namamu?”
               “Namaku Dwayne, Helena.” Jawabnya.
               “Ya, kau Dwayne, jangan memotong, ya? Kumohon.” Aku menempelkan kedua telapak kananku memohon.
               “Baiklah, Helena.” Dwayne sang provokator akhirnya menyerah.
               “Terimakasih Dwayne.” Kataku tersenyum.
               “Oh, ya. Sama-sama.” Balasnya pasrah.
“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu, Gio. Aku ragu jika aku berani mengeluarkan kalian,” Aku memandang semua binatang, mereka masih membisu menungguku melanjutkan jawaban, “Ya seperti yang kalian tahu, sangat tidak mungkin jika orang-orang melihat binatang buas seperti kalian berkeliaran bebas, mereka hanya memaklumi binatang buas seperti kalian ini ada di kebun binatang, bukan di jalan atau rumah penduduk biasa.”
                Para binatangpun saling berdiskusi satu sama lain dan menciptakan kegaduhan lagi. Brian mengaum, seluruh binatang berhenti berbicara.
               “Helena, kenapa kau tidak bilang saja jika kami berasal dari Gamebotmu?” Tanya Brian.
                Aku tertawa, “Apa kau sudah gila? Aku tak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu, Brian. Kau tahu, mereka takkan percaya, dan yang lebih penting, aku tak mau menjadi buah bibir Los Akirema.”
              “Itu sangat keren!”
               Aku melirik zebra di depan Troy.
             “Kau bisa terkenal, dan itu sangat keren!” Lanjutnya.
             “Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya ingin diriku sendirilah bersama sahabatku Thomas yang mengetahui keberadaan Gamebotku. Oh, ya, dan siapa namamu?”  Aku tersenyum pada si zebra.
             “Namaku Jack!” Dia menyeringai. “Baiklah Jack, kau takkan berkeliaran begitu saja dan menjadi sasaran paparazzi.”

                Dret…Dret aku terbangun oleh getaran ponselku, aku mengambilnya di sebelah kiri kepalaku. Nama Thomas tertera di layar ponselku,
“Ya, Thomas Henderson.”
Bisakah kau melihat keluar jendela?”
Aku menggosok mataku pelan, dan beranjak dari ranjangku menuju jendela di depannya. Aku menggeser tirai. Aku melihat Tom sedang berdiri di depan rumahku. Dia tersenyum melihatku dari balik jendela dengan ponselnya yang masih menempel di telinga. Aku melihat jam wekerku yang belum berbunyi, ini masih pukul 05:57 pagi. Sementara aku terbiasa bangun pada pukul 6 pagi.
“Ini masih sangat pagi, Tom. Terimakasih sudah membangunkanku.”
Ya, aku mengetahuinya, aku hanya ingin membangunkanmu saja, hari ini aku bangun terlalu pagi, jadi kusempatkan saja berjalan ke rumahmu.”
“Aku sudah menebak, kau akan pergi naik bis dari rumahku.”
Ya, kau pintar sekali ternyata. Dan aku pikir kau takkan tega melihatku sendirian berdiri disini.” Tom tertawa dan menunjukan wajah sarkatisnya.
“Tidak, aku akan melakukan itu, Tom. Tunggu disitu saja, ya? Aku akan mandi.” Aku tersenyum meledeknya dan menutup telepon, aku pergi menuju kamar mandi.
                Terimakasih sudah membuatku berdiri selama 30 menit.” Tom tersenyum terpaksa.
                 Ya, dia selalu marah jika aku membuatnya menungguku lama.
                “Jangan marah begitu, tampan.” Aku menyeringai menggodanya.
Bis tiba di depan rumahku, aku naik bis terlebih dahulu lalu disusul oleh Tom.
 “Selamat pagi Helena.” Bradzy si anak baseball menyapaku. Dan di ikuti oleh anak laki-laki lainnya.
               “Selamat pagi untuk kalian semua, semoga harimu semakin beruntung!” Aku tersenyum menyebarkan doa seperti layaknya malaikat, tetapi versi yang menyedihkan.
“Hai Tom, duduklah bersamaku!” Ella berdiri dan menyeringai menunjukkan behel di giginya.
                Aku menahan tawa dan duduk di depan pintu turun bis.
                Tom tak merespon dan duduk bersamaku. Ella menyipitkan matanya padaku. Aku tersenyum padanya seolah-olah aku tetangganya yang ramah.  Ella menggibaskan rambutnya dan kembali duduk.
“Kenapa kau duduk disini? Bukannya kau sedang marah padaku?” Aku bertanya dan mengerutkan dahiku pada Tom.
               “Diam.” Tom menjawab tanpa memandangku.
               “Maafkan aku, masa begitu saja kau marah padaku.” Aku memasang tampang manis seperti bayi, ya,atau mungkin terlihat menjijikan seperti keledai.
                Tom masih tak menghiraukanku. Aku menempelkan kedua telapak tanganku memohon.
                Tom melirikku datar dan kembali melihat ke arah, entahlah, bola matanya tertuju pada ubun-ubun Ella.
                “Wow wow wow, ternyata ada yang mulai menaruh hati pada si penggemar.” Aku menggodanya.
                 “Diamlah!” Dia berkata dengan nada tinggi.
                  Aku terkejut, aku mulai kesal pada Tom, kenapa dia harus berbicara seperti itu?! Sangat menyebalkan. Aku melihat ke arah jendela. Tom sama sekali tak berkata apa-apa setelah itu.

                “Helena!” Tom mengejarku saat aku berjalan cepat meninggalkannya di bis.
                 Aku tak menghiraukannya. Dia tiba di sampingku dan menyesuaikan langkah kakinya denganku.
                 “Hey, kau tahu? Sebenarnya aku sudah memaafkanmu.” Tom berkata.
                  Aku masih tak mengiraukannya dan semakin mempercepat langkahku. Tom mengejar dan mengikuti di sampingku.
                 “Helena, ada apa denganmu?!” Dia menarik tangan kananku, membuatku berhenti berjalan.
                   Aku menatapnya tajam dan melepaskan tangannya. “Sejak kapan kau membentakku?!” Nafasku terengah-engah. Aku melihat sekelilingku, mereka hanya melihat aku dan Tom lalu berjalan lagi tak peduli.
                “Helena, sungguh..” Lagi-lagi, dia menujukkan ekspresi bersalahnya setiap kali aku marah padanya, dan sekali lagi, aku tak sanggup melawannya.
              Aku merasakan mataku berkaca-kaca.
             “Helena, kumohon, jangan menangis.” Tom mengusap mataku.
             “Jangan melakukannya lagi, janji?” Aku berkata.
             “Aku berjanji.” Dia mengulurkan kelingkingnya padaku dan tersenyum, aku mencantelkan kelingkingku pada kelingkingnya. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar