Summertime

Selasa, 24 Juni 2014

The Magic of Gamebots


8. Perlombaan Mencari Sepasang Sepatu

                Sekarang pasti Papa sudah ada di rumah, aku sama sekali malas untuk pulang, aku terlalu benci dengan situasi yang sedang ku alami.
“Helena, bukankah ada baiknya jika kau pulang ke rumah? Setidaknya, kau bisa melerai jika terjadi pertengkaran antara Mama dan Papamu.” Tom berkata denganku dengan gugup.
                Dengan sekejap perkataanya menekan pikiran dan hatiku lebih dalam lagi, aku sama sekali tak mau menatapnya, aku tak kuasa menahan air mataku, aku biarkan air mataku mengalir di pipiku selagi aku memandangi pemandangan pemukiman penduduk dan jalanan dari atap rumah Tom.
                “Sial, bodohnya aku Helena. Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk membuatmu menangis.” Tom memegang lenganku, tetapi mataku masih tak berpindah arah.
                 Aku menggelengkan kepalaku agar Tom mengerti maksudku bahwa dia tak bersalah.
               “Helena,” Tom mencoba untuk mengalihkan perhatianku, tetapi aku masih tak tergoda untuk melihatnya, aku tak tega membuat Tom menjadi sedih dibuatnya.
               “Helena, lihat aku!” Tom menarik kedua lenganku, memaksaku agar melihatnya.
                 Aku menunduk menyembunyikan isakan tangisku.
                “Sejak kapan kau lemah seperti ini? Katakan padaku, apa kau percaya semua ini akan terjadi?!” Tom berbicara dengan nada tingginya, aku masih tak menghiraukannya. “Oh, ya, tentu saja, semuanya akan terjadi jika kau hanya diam dan menangis seperti ini, tanpa ada usaha untuk meyakinkan Mama dan Papamu sebelum surat gugatan cerai itu dikirim ke pengadilan!” Lanjutnya, dia masih belum berhasil untuk meyakinkanku.
                 Tom terdiam, lalu dia menaikkan daguku dengan kasar sehingga aku tak sempat menahannya. Tom menatap mataku tajam, aku membalas tatapannya ditemani dengan isakan tangisku.
                “Pengecut.” Tom mengataiku.
                 Dadaku semakin panas dan sesak.
                 Aku melepaskan tangannya dari daguku. “Kau sama sekali tak merasakannya, kau sama sekali tak merasakannya!” Aku membentaknya, tangisanku semakin kencang.
               “Apa?” Tom tertawa mengejekku, “Lalu bagaimana pendapatku tentang Ayahku yang hanya pulang selama tiga tahun sekali dan kadang lebih atas alasan pekerjaannya sebagai nahkoda?! Meninggalkan Ibu dan aku dan hanya mengirimkan sebuah amplop berisikan secarik kertas bernominal uang setiap satu tahun?!” Tanya Tom dengan emosinya yang memuncak, matanya berkaca-kaca.
              “Tetapi setidaknya Ayah dan Ibumu masih bersama sebagai suami-istri!” Aku membalas.
              “Lalu bagaimana pendapatmu jika ternyata Ayahku diam-diam berhubungan dengan wanita lain disana tanpa sepengetahuan aku dan Ibuku?! Bagaimana jika dia tak peduli sama sekali dengan kami disini?! Bagaimana pendapatmu?!” Matanya mulai meneteskan air mata.
               Aku tak pernah melihat Tom seperti ini sebelumnya, aku sama sekali tak menyangka Tom akan berkata seperti ini, aku tak bisa bicara apa-apa lagi.
               “Dan itu sudah lebih dari cukup membenaniku selama bertahun-tahun.” Tambahnya. “Ayolah Helena, aku merasakan Hal yang sama sepertimu, aku ingin kau meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.” Tom mendekatiku, dia mengusap air mata di pipiku.
              Perasaanku bercampur tak karuan, aku merasa kesal karena aku merasa Tom memojokkanku terus menerus, aku merasa sedih untukku sendiri, aku merasa gelisah mempertimbangkan perkataannya, dan hatiku ikut terseret ke dalam beban Tom tentang Ayahnya.
Dengan cepat aku berlari meninggalkannya di atap, aku meninggalkan rumahnya tanpa berpamitan pada Ibu Tom karena kebetulan aku tak tahu dimana keberadaannya, aku pulang.
               
Papa sedang tidur di kamarnya, Mama sedang sibuk menonton sinetron kesukaannya. Aku menjatuhkan diriku pada ranjang, dan menangis sekencang-kencangnya. Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang, aku sangat marah pada dirikku sendiri.
Aku terus menangis hingga akhirnya mataku lelah untuk melakukannya lagi, aku memejamkan mataku.
                “Bersiap,” Para binatang menunjukkan kesiapannya, “Mulai!” Aku menaikkan sehelai daun pisang untuk menandakan perlombaan dimulai.
Mereka semua mulai berlarian dan bercerai-berai mencari sepasang sepatuku yang kusembunyikan secara terpisah. Mereka terus menerus merecokkiku dengan pertanyaan “Siapa yang akan kau keluarkan terlebih dahulu pada hari sabtu nanti?” setelah aku menceritakan rencanaku bersama Tom untuk memainkan gamebotku, maka aku adakan lomba mencari sepatuku saja, dua binatang yang berhasil menemukannya, maka dia yang akan ku keluarkan terlebih dahulu dari Gamebot.
“Ayo teman-teman!” Aku menyemangati.
 Sebagian mencari di dalam hutan, dan sebagian lagi mencari di sekitar lapangan, dan menceburkan diri ke dalam sungai. Seekor iguana menyeburkan diri ke dalam sungai.
              “Hey kau iguana!” Aku memanggillnya.
                Iguana itupun melihatku. “Ya, ada apa?” Dia menjawab sambil berenang.
              “Hati-hati, jangan sampai terbawa arus!” Aku berteriak memperingati.
              “Tidak akan!” Dia membalas lalu menenggelamkan diri mulai mencari.
Franky mencari sepatuku dengan cara memasukkan kepalanya ke dalam kepala pohon. Brian mulai memasuki hutan setelah mencari di sekitar lapangan. Seekor grumpy cat hanya mengangkat sebuah batu dan meletakannya kembali pada tanah secara berulang-ulang.
Jack berlari kesana-kemari, lalu dia menghampiri Troy dan menaikkan buntunya, “Ah, tidak ada!” Lalu berlari lagi dan melakukan hal yang sama pada binatang lainnya.
              “Hey, Jack, aku tak akan mungkin menyembunyikannya pada pantat kalian, coba cari di tempat lain.” Aku berteriak padanya.
              “Oh, sial! Baiklah!” Lalu dia berlari memasukki hutan.
YES!” Franky berteriak dengan sangat keras, kepalanya keluar dari pohon, dia menemukan sepatu kananku, dia menggigitnya dan berlari gembira ke arahku.
               Dia menurunkan lehernya, dan memberikan sepatu kepadaku. “Akhirnya! Woohoo! Aku akan keluar!” Dia sangat girang dan menari-nari di depanku.
              “Ya, selamat Franky!” Aku menyeringai senang.
                Franky berlari kesana-kemari merayakan kemenangannya.
“Helena,” aku melihat ke bawah, Dwayne berdiri di dekat kaki kananku.
               “Ya, Dwayne, ada apa?” Aku bertanya.
               “Bisakah kau beri tahu padaku dimana letak sepatu yang satunya lagi? Ya, kau tahu, aku sangat ingin melihat duniamu.” Dia menggodaku untuk memberitahunya.
                Aku tertawa, “Tidak, Dwayne. Jika yang lain berusaha agar menemukannya, kau juga harus begitu.” Aku tersenyum padanya.
              “Oh, sial!” Dia menunduk dan kembali mencari sepatuku.
                Dwayne mencium kesana-kemari dengan hidungnya.
“YEAH! Akhirya aku menemukannya!” Seekor kuda poni putih dan berambut merah muda keluar dari hutan dan berlari ke arahku.
                 Dia menyerahkan sepatu kiriku. “Akhirnya aku keluar!” Kuda poni ini bekata dengan gembira dan mengetuk-ngetukkan kakinya pada tanah.
               “Ya, tentu saja! Siapa namamu?” Aku mengelus rambutnya.
               “Gwen.” Dia menyundulkan kepalanya padaku.
Aku menaikki batu besar di sebelahku, “Teman-teman! Kita sudah enemukan pemenangnya!” Aku berteriak menyerukan bahwa perlombaan sudah selesai.
              “Oh, sial.” “Tidak!” Itulah keluhan yang kudengar gaduh.
              “Troy! Bantu aku memanggil para binatang yang masih di dalam hutan!” Aku berteriak meminta bantuan pada Troy.
               Troy segera menaikkan belalainya dan mulai meraung. Tak lama, binatang lainnya sudah memadati lapangan.
“Teman-teman, kita sudah mendapatkan pemenangnya! Fanky dan Gwen!” Aku berteriak mengumumkan. Dan kembali para binatang mengeluh menciptakan kegaduhan.


                Kali ini, aku akan memintamaaf pada Tom karena telah membuatnya menangis kemarin. Aku berjalan menghampiri kursi bis yang biasa aku dan Tom tempati.
 “Awas, teman-teman! Helena Si Gelandangan mau lewat!” Ella beteriak membuat seluruh anak di bis menertawakanku.
               “Diam kau!” Aku mendorongnya hingga dia duduk kembali.
             “Aku akan membuatmu malu, lihat saja!” Ancam Ella padaku, tetapi aku tak peduli dan berjalan menghampiri tempatku.
             “Hai Helena, apa kau membawakan cokelat dari Swiss untuk kami?” Darnilia menahan langkahku.
             “Oh, tidak, maafkan aku.”Jawabku.
              Raut wajah Darnilia dan Giena yang semua terlihat gembira menjadi terlihat kecewa.
Aku duduk di sebelah Tom, sementara dia memandang keluar jendela pura-pura tak melihatku. Aku diam bersiap untuk meminta maaf.
Aku mengehela nafas, aku memegang lengannya, Tom menegokkan wajahnya padaku dengan tatapan dinginnya.
             “Maafkan aku soal kemarin.” Aku ragu dia akan memaafkanku sekarang, karena dia sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun.
            “Baiklah, aku memang pecundang, kau benar, dan aku payah. Maaf sudah membuatmu membicarakan Ayahmu, maaf sudah membuatmu menangis.” Aku masih menunggunya berbicara. “Ini sudah kedua kalinya kau marah padaku di dalam bis.” Aku menambahkan.
              Tomakhirnya melihatku dan tertawa kecil, lalu dia menghela nafas, “Sebenarnya, aku juga ingin meminta maaf sudah membentakmu lagi, padahal aku sudah berjanji padamu untuk tak melakukannya lagi.” Tom akhirnya berkata.
              Aku tertawa geli “Oh, ya, kau melanggarnya. Maka dari itu, hari ini kau harus mentraktirku minuman di kantin.” Aku menaik-turunkan halisku menggodanya.
              Tom menghela nafasnya, “Baiklah, satu gelas jus stroberi.”. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar