Summertime

Kamis, 29 Mei 2014

The Magic of Gamebots


5. Aku Berbicara Dengan Binatang

              “Halo, Helena.” Aku membalikkan badanku dengan cepat. Aku melihat seekor singa yang baru saja keluar dari Gamebotku, tetapi aku tak tahu siapa yang baru saja menyapaku.
              Apa singa ini yang menyapaku?
              “Siapa yang tadi menyapaku?” Aku bertanya dengan mataku yang mencari kesana kesini.
              “Aku, Nyonya.” Aku melangkah mundur dan manarik nafasku agar tak berteriak karena melihat seekor binatang berbicara bahasa manusia. Singa itu yang memanggilku tadi!
               “Tidak perlu takut, aku takkan menyakitimu, Nyonya.” Singa itu menekukkan kakinya lalu menundukkan kepalanya.
                Wow, hebat, aku merasa seperti Ratu Inggris yang di hormati. Bedanya aku di hormati oleh binatang buas yang terkenal sebagai ‘Raja Hutan’. Aku lebih hebat, kurasa.
               “Siapa kau? Dan sedang berada dimana aku?” Aku menengokkan kepalaku kesana dan kemari.
Aku sedang berada di hutan, dengan sungai yang mengalir membelahnya. Aku sedang berdiri membelakangi sungai tersebut. Aku masih mengenakan pakaian yang sama, cro- top hitam polosku, high waisted jeans berwarna jeans yang pudar dan terdapat robekan di bagian paha, dan black-white converse high canvas tanpa kaos kaki.
 “Kau sedang berada di hutan, Nyonya. Tepatnya kau sedang berada di kawasan hidup kami, daratan.” Sang singa menjawab, masih menundukkan diri.
               Aku mengerutkan keningku, aku kebingungan dengan apa yang dia bicarakan. “Apa yang kau maksud? Dan kenapa kau memanggilku nyonya?”
                “Izinkan aku untuk memanggil teman-teman daratanku yang lainnya, Nyonya.” Singa itu masih saja menundukkan diri, membuatku malu saja. “Baiklah, panggil teman-temanmu, asalkan mereka takkan memakanku.” 
Sebenarnya aku tak punya cukup nyali untuk mempersilahkannya memanggil binatang buas lainnya, mengingat bahwa sebagian dari mereka adalah karnivora, baiklah, aku baik-baik saja. Oh, tidak! Aku tidak baik-baik saja, seluruh tubuhku bergemetar! Seseorang, tolong aku!
“Perkenalkan, Nyonya.” Singa itu mulai berdiri dan mengaum.
Oh tidak! Tolong aku, Tom tolong aku! Aku berjanji tidak akan mengacaukan Ella lagi jika seseorang dapat menyelamatkanku dari sisni! Tarzan, tolong aku! Aku berteriak meminta tolong di dalam hati. Ya, semoga saja ada orang tidak waras yang mau memasuki hutan liar seperti ini hanya untuk menyelamatkan seorang gadis yang tengil dan menyedihkan. Mungkin benar juga keputusan mereka untuk lebih memilih tidak menyelamatkanku disini.
Semak-semak, dan pohon-pohon di sekelilingku mulai bergerak dan berisik. Baiklah, aku harus bersiap-siap dengan menerima 2 kemungkinan: 1. Aku akan mati sebagai Sushi Helena, 2. Atau aku akan mati sebagai gadis yang belum menemukan bakatnya selama hidup di dunia. Sama sekali tidak ada yang menguntungkan.
Sekarang aku melihat beberapa ekor zebra, jerapah, gajah, harimau, komodo, kucing, beruang besar berwarna cokelat, haina, jaguar berwarna hitam, dan binatang darat lainnya, yang tentunya termasuk ke dalam kategori buas, mereka keluar dari balik pohon-pohon itu. Binatang-binatang itu memadati lahan kosong yang berjarak 17 meter dari hutan yang padat akan pepohonan, kurang-lebih.
Aku mulai berkeringat dan sesak nafas, aku tak bisa bergerak sedikitpun, aku sangat takut.
“Jangan khawatir, Nyonya. Kami takkan menyakitimu.” Kata sang singa. Singa itu lalu mengaum lagi, kali ini, bukan hanya dia yang menundukkan badan, tetapi semua binatang yang ada di hadapanku.
               Wow, mereka ini sedang apa?!
               “Tidak, bisakah kalian tidak menundukukkan badan seperti itu? Ya, kalian tahu, aku sedikit risih, aku sedikit merasa sendirian jika berdiri seperti ini.” Aku menyeringai.  (Aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Tutup mulutmu, oke?)
               “Tentu, Nyonya.” Sang singa berdiri, lalu diikuti oleh semua binatang lainnya.
               “Nah, seperti ini lebih baik, kurasa, walaupun aku sedikit terlihat sangat pendek.” Aku menyeringai kembali, sambil melipat-lipat kedua telapak tanganku gugup.
               “Aku Brian, Nyonya. Aku pemimpin dari semua binatang daratan” Singa itu menundukkan diri lalu berdiri lagi.
               “Oh, Hai, Brian.” Aku menyeringai dan melambaikan tangan kananku padanya. Apa caraku melambaikan tangan sudah seperti Ratu Inggris? Semoga saja iya.
               “Aku Bella,”
               “Dan aku Darwin, Nyonya.” Sepasang monyet berteriak bergelantungan di pohon.
               “Oh, Hai Bella dan Darwin.” Aku berteriak agar mereka bisa mendengarku dari pohon sana.
               “Apa kau butuh tumpangan, Nyonya?”
                Aku mencari siapa yang bertanya dengan suara yang sangat berat tadi.
               “Disini, Nyonya.”
                 Aku melihat sisi kananku,
               “Aku Troy, satu dari Gajah Afrika yang sudah hampir punah.”  Gajah itu menunduk lalu berdiri lagi.
               Oh, ternyata seekor Gajah. Tunggu, seekor Gajah?!
               Aku terdiam sejenak mencerna pertanyaan Troy si gajah, dan kemudian aku menyadari bahwa Troy menawarkanku untuk menaikki punggungnya. “Oh, tidak, Troy. Maksudku, ya. Oh tidak, tidak.” Aku menyeringai.
               “Kenapa, Nyonya?” Troy bertanya.
               “Aku takut jika kalian keberatan, lagi pula, aku tak pernah menaikki seekor gajah yang besar sepertimu.” Aku menyeringai lagi. Duh, aku tak tahu harus bersikap apa lagi selain menyeringai. Aku harus bersikap manis agar aku tak diterkam oleh pasukan binatang-binatang ini.
               “Tentu saja tidak, Nyonya.” Sang singa menjawab.
Aku melihat Troy berjalan menghampiriku, belalainya berusaha meraihku dan melingkarkannya pada tubuhku.
              “Oh, tidak Troy, pelan-pelan. Ah!” Aku berteriak.
              Dalam hitungan detik aku sudah duduk menunggangi seekor gajah yang sangat besar. Aku menghadap pada ratusan binatang di depanku.
             “Wow, sangat tinggi.” Aku melihat tanah di bawahku.  Aku kembali melihat para binatang di depanku lagi, “Baiklah, jelaskan padaku mengapa Brian, kau serigala, beruang, jaguar, dan komodo bisa keluar dari Gamebotku.” Aku melantangkan suaraku dan menunjuk kelima binatang tersebut.
              Baiklah, kurasa sekarang aku sudah tidak terlalu merasa ketakutan.
             “Biarkan aku memperkenalkan diriku, Nyonya. Aku Sam, seekor jaguar hitam yang paling cepat dalam berlari.” Sam si jaguar menundukkan diri dan berdiri lagi.
             “Aku Frank, si beruang kutub. Aku tidak tinggal di sini setiap saat, aku hanya akan datang jika kau membutuhkanku, Nyonya.” Frank si beruang menundukkan diri dan berdiri lagi.
              “Aku Sally, komodo dari Pulau Komodo di Indonesia.” Sally si komodo menundukkan kepalanya lalu menaikkannya lagi.
               “Wow, jauh sekali.” Komentarku.
               “Dan aku Gary, serigala abu-abu.” Gary si serigala menundukkan diri dan berdiri lagi.
“Baiklah, halo untuk semuanya.” Aku menyeringai.  “Brian, bisakah kau jelaskan kepadaku?”
                Brian menundukkan diri. “Baik, Nyonya. Di negara ini telah tersebar empat Gamebot Ajaib, masing-masing Gamebot memiliki binatang di dalamnya. Binatang Darat, Laut, Udara, dan Serangga. Dan kau, memiliki Gamebot yang memiliki binatang darat di dalamnya. Kami, akan menuruti segala apa yang kau perintah, karena kau adalah majikan kami. Jika Gamebot itu berpindah tangan, maka kau bukan majikan kami lagi. Kami bergantung pada pemilik Gamebot. Kami tak bisa berbicara di dunia nyata, tetapi kami bisa berbicara di dalam mimpi. Kami akan muncul jika kau memilih dua diantara kami pada menu awal, tetapi jika kau membutuhkan lebih dari dua, kau harus memainkan salah satu dari ke-12 permainan yang ada di dalam Gamebot milikmu dan menyelesaikan satu level untuk menambah dua binatang lagi. Begitupun seterusnya. Jika kau ingin kami pergi, tekan tombol ON/OFF.”  Brian menjelaskan.
               Wow, fantastis.
              “Tetapi, kenapa bisa ada Gamebot seperti itu di dunia ini?” Tanyaku lagi.
              “Pada 18 tahun yang lalu, ada seorang kakak-adik bersaudara bernama Kevin dan Sandra. Mereka sangat suka bermain dengan mainan mereka masing-masing. Suatu hari, mereka bermain Gamebot, dan berlomba meraih level dan score yang lebih tinggi. Saat itu sedang terjadi gerhana matahari total yang membuat seluruh kota gelap. Tetapi mereka tetap bersaing meraih angka yang lebih tinggi dari satu sama lain. Sampai mereka bertengkar, dan berteriak satu sama lain. Kevin berteriak bahwa 2 Gamebot yang dimilikinya bisa mengeluarkan binatang-binatang buas, dan bisa menggulung kakaknya, Sandra, dengan jaring laba-laba. Sementara Sandra berteriak bahwa 2 Gamebot miliknya juga bisa mengeluarkan burung elang yang bisa memangsa adiknya, Kevin, dan juga bisa merobek-robek tubuh Kevin dengan gigi seekor ikan hiu. Mereka bertengkar, sehingga kedua orangtuanya melarang mereka untuk bermain Gamebot lagi. Tanpa disadari dan diduga, kata-kata yang di ucapkan Kevin dan Sandrapun menjadi kenyataan. Kami sudah berada dalam benda yang disebut Gamebot selama 18 tahun dengan atas nama keajaiban. Sudah 18 tahun Gamebot milik Kevin dan Sandra tersimpan dalam sebuah kardus barang bekas di gudang. Sampai Sandra membuka kembali kardus tersebut, dan memberikannya kepada pabrik mainan, dengan permintaan agar di perbaiki lagi dan dijual kembali. Dari situlah, Gamebot yang dimiliki Sandra dan Kevin terjual secara terpisah di 4 kota yang berbeda.” Jelas Brian tanpa ada suara yang memotong.
            “Wow. Keajaiban. Ajaib.” Kataku menympulkan. “Baiklah, aku mengerti sekarang. Lalu mengapa hanya kalian saja yang muncul di kamarku?” Aku melirik Brian, Sam, Frank, Sally, dan Gary. 
            “Karena sebelumnya kami sudah merunding dan kami sepakat agar kita berlima yang menunjukkan diri kepadamu, Nyonya.” Balas Sam.
            “Baiklah para binatang darat, jika kalian akan menuruti perintahku, aku akan memerintah kalian sekarang. Pertama, jangan memanggilku Nyonya, panggil aku Helena. Kedua, anggaplah aku sebagai teman kalian sendiri, bukan sebagai manjikan. Dan ketiga, jangan melukai orang-orang terdekatku. Mengerti?” Aku mengangkat alis kananku layaknya seorang gadis yang memiliki satu juta bakat.
              Semua binatang mengaum, dan bersorak. “Ayolah, teman-teman, bawa aku mengelilingi kawasan daratan ini.”
               
Aku tiba-tiba terbangun dengan keadaan tengkurap. Aku melihat jam wekerku, ternyata masih jam 11 malam.
Aku menarik nafasku dalam dan kembali menghembuskannya.
               Apakah yang tadi itu nyata? Apakah benar mereka berbicara denganku?
               Sial, ini membuatku berpikir keras lagi. Aku melirik laci dimana aku menyimpan Gamebotku. Sebenarnya aku ingin mencoba membuktikan apa perkataan Brian si singa, tetapi, tidak, biar nanti aku coba bersama Tom.
Oh ya, kenapa aku tidak menghubungi Tom saja?
               Aku mengambil ponselku di balik bantal, dan mulai menghubungi Tom.  Aku menunggu Tom mengangkat Teleponku, Tom belum juga mengangkatnya, aku putuskan untuk mengakhirinya. Mungkin dia sudah terlelap. Aku putuskan untuk kembali tidur.
Dret..Dret, ponselku bergetar! Aku mengambilnya kembali, Tom meneleponku, aku segera mengangkatnya.
“Hai, Tom.”
Hey Helena ada apa kau menghubungiku? Aku tadi sudah teridur, aku mendengar ponselku berdering, aku tak sempat mengangkatnya, maafkan aku.” Suara tom terdengar sangat parau.
“Ya, tak perlu kau meminta maaf. Aku hanya terbangun, dan ingin menceritakan sesuatu kepadamu tentang Gamebot itu, tetapi kupikir, biar kuceritakan besok saja, setuju?”
Lalu mengapa kau menghubungiku jika kau akan menceritakannya besok?”
“Baiklah, aku meminta maaf.”
“Tak masalah.”
“Tom, aku ingin tidur kembali, bisakah kau menyanyikan lagu kesukaan kita agar aku dapat tertidur?”
Oh ya, tentu saja jika itu akan membuatmu terdidur. Kau ingin ikut bernyanyi?”
“Biar kau saja yang memulai, saat bagian chorus, baru aku mengikuti.”
Baiklah,
Aku dan Tom memang meiliki lagu kesukaan bersama, lagu ini menceritakan tentang kami berdua, kurang-lebih, itu kenapa aku dan dia menyukainya. Lagu ini berjudul “Summertime” dari My Chemical Romance.
When the lights go out,
Will you take me with you?
And carry all this broken bone,
Through six years down in crowded rooms.
And highways I call home?
Something I can't know 'til now.
'Til you pick me off the ground,
With a brick in hand, your lip-gloss smile,
Your scraped-up knees.”
Aku mulai mengikuti Tom bernyanyi,
And if you stay I would even wait all night,
Or until my heart explodes.
How long?
'Til we, find our way in the dark and out of harm,
You can run away with me,
Anytime you want.”
Aku tertawa kecil dan mulai menguap, mataku mulai berat, aku mulai memejamkan mataku sementara Tom tetap bernyanyi.[]

Selasa, 27 Mei 2014

The Magic of Gamebots


4. Gamebot Ajaib

           Aku tak mau memalingkan pandanganku dari Gamebot ini selama perjalanan di dalam taksi, seperti ada hal lain yang membuatku tertarik setengah mati. Sebenarnya tidak ada yang terlihat istimewa dari Gamebot ini, hanya video game dari tahun 90-an, berbentuk seperti remot tv, tetapi lebih besar.
Pada tombol lingkaran yang sebesar chococip yang pertama adalah tombol S/P, yang kedua tombol MUSIC, dan yang ketiga adalah ON/OFF. Dan ada 4 tombol yang lebih besar membentuk arah mata angi di bawahnya, tombol kiri adalah tombol LEFT LEVEL, tombol bawah adalah tombol DOWN GAME, tombol kanan adalah tombol RIGHT SPEED, dan tombol atas adalah tombol PAUSE START. Dan satu tombol yang lebih besar lagi adalah tombol ROTATE DIRECTION di sebelah kanan ke-empat tombol tadi. Sebenarnya, aku tak tahu apa fungsi tombol-tombol itu, tetapi.. biar kucoba saja.
                Aku langsung lari menuju ruangan kerja Papa saat aku tiba di rumah. Aku mengorek-ngorek isi laci barang-barang elektroniknya, berharap aku bisa mendapatkan dua baterai untuk menjalankan Gamebot ini. Papa sedang melakukan seminar di kota East Losakirema untuk 3 hari kedepan, jadi aku bisa bebas masuk ke ruang kerjanya, Papaku bekerja sebagai marketing di salah satu bank swasta.
Yap! Akhirnya aku menemukannya. Dua baterai. Aku menutup laci kembali dan berlari meninggalkan ruang kerja Papa menuju kamarku.
“Helena! Ada apa?” Aku mengerem langkah kakiku dan menengok sisi kiri ku, mama sedang berdiri memeluk tumpukan baju di depan pintu kamarnya.
               “Hey Ma, aku hanya ingin menuju kamarku saja, ko. Mama akan mencuci?” Aku tersenyum pada Mama.
                 Aku menyembunyikan Gamebot di balik badanku dengan tangan kananku, aku tak mau Mama melihatnya, dia pasti akan bertanya terus-menerus, itu akan menjadi percakapan yang panjang, dan aku malas untuk menjalaninya.
                 “Ya, tentu saja. Apakah kau tidak akan mencuci baju-baju kotormu?”  Tanya Mama dengan sikap dinginnya.
                  “Oh, tidak, Ma. Aku sudah mencucinya dua hari yang lalu.” Aku menyeringai. Jika kau mau tahu, faktanya adalah aku menggulung-gulung pakaian kotorku di dalam lemari, dan itu sudah tersimpan selama satu minggu dengan keadaan sama sekali belum dicuci.
                    Mama diam dan mengerutkan keningnya. Ya mungkin dia sedang mengingat kembali kegiatan 2 hari yang lalu di rumah ini.
                    Aku memutuskan untuk mengakhiri percakapan ini sebelum Mama menyadari bahwa 2 hari yang lalu aku pergi bersama Tom seharian. “Sudah dulu ya, Ma. Dah!” Aku tersenyum dan berjalan cepat menuju kamarku.
                Aku telah memasangkan baterai pada Gamebot dan akan menekan tombol ON/OFF. Tiba-tiba ponselku bergetar di dalam saku jeansku, aku mengambilnya, nama ‘Thomas’ tertera di layar ponselku,
“Ya, Tom.”
Helena, nama lain dari Gamebot itu adalah Brick Game.” Tom berbicara dengan santai dan terdengar parau.
“Oh begitu, baiklah. Aku akan menghubungimu jika aku perlu bantuanmu.”
Tidak, tidak! Jangan menutup teleponku! Aku sudah mencarinya di Google, sungguh.”  Tom berbicara dengan cepat.
“Sebenarnya, aku tak akan menutup teleponmu, tapi, mungkin sekarang, sudah ya, dah.” Aku mengakhiri teleponnya dan melemparkan ponselku kebelakang pada ranjangku.
Aku menekan tombol ON/OFF. “PROGRAM IS ACTIVATED” Itulah kata-kata pertama yang muncul pada layar monitor saat aku menyalakan Gamebot. Tunggu, aku rasa aku merasakan sesuatu yang aneh… aku merasa ada sesuatu di depanku. Aku mendongkakkan kepalaku secara perlahan untuk melihatnya. Aku meilhat ada lima pasang kaki, APA?. Aku menelan ludah,aku mencoba untuk bersikap tenang. Aku meneruskan pandanganku. Aku melihat secara perlahan, ugh, baiklah aku sekarang melihat ada seekor jaguar hitam, singa jantan, beruang kutub berwarna putih, serigala, dan komodo. Tolong! Aku tak bisa berkata-kata, aku tak bisa bergerak, mungkin jika aku memiliki penyakit jantung aku akan mati sekarang juga. Darimana mereka datang? Ini sama sekali tidak masuk akal, jantungku berdetak dengan cepat. Aku merasakan keringat mengalir di pelipisku. Aku menelan ludahku lagi. Aku memberanikan diri untuk mengambil ponselku, tanganku meraba-raba ranjangku, aku memberanikan diri berbalik badan mengambil ponselku. Aku menelepon Tom dengan tanganku yang bergemetar, aku berusaha untuk tidak menjerit dan berteriak minta tolong, aku tak mau rumah dan para tetanggaku panik dalam waktu seketika, tak harus menunggu lama, Tom langsung mengangkat telepon,
“Hey Helena! Aku tau kau pasti membutuhkan bantuanku!”
“Tom, aku sangat membutuhkanmu.” Aku berbicara dengan volume terkecil yang kubisa, tentunya, dengan keringat membasahi wajahku.
Helena, ada apa!?”
“Aku mohon, datangah kemari. Jika kau sudah sampai, masuklah saja, pergi menuju kamarku. Dan aku mohon, kau harus berjanji untuk tidak berteriak dan menjerit saat kau membuka pintu kamarku. Kau harus cepat kesini.”
“Baiklah, tunggu, aku sedang dalam perjalanan. Kau jangan kuatir.”
Aku menutup telepon. Aku menatap satu persatu lima binatang buas di hadapanku. Mereka menunduk dan menekukkan kaki mereka, sama sekali tak menggangguku. Aku tak berani menggerakkan kakiku.
“Darimana kalian berasal?” Aku menelan air ludahku memberanikan untuk bertanya, jantungku semakin berdetak dengan cepat.
Bodohnya aku bertanya kepada hewan. Mereka sama sekali tak menjawabku, mereka sama sekali tak bergerak. Aku menatap kembali Gamebot itu, apakah berasal dari benda ini? Aku tak berani menekan tombol yang lainnya, aku takut hal-hal menakutkan akan terjadi, maka aku biarkan saja untuk tetap bertuliskan “PROGRAM IS ACTIVATED” di layar monitor. Aku melihat jam di ponselku, lima belas menit sudah aku menunggu Tom, mengapa dia belum datang juga?
Akhirnya seseorang membuka pintu kamarku,
               “Helena apa yang a..a..a” Tom terkejut dan melangkah mundur. Dia terkejut dan kini wajahnya terlihat seperti seekor kera yang tiba-tiba di serang oleh buaya dipinggir danau.
               “Tom, aku mohon.” Aku menempelkan telunjuk kananku pada bibirku, dengan maksud agar dia menutup mulutnya. “Masuk, dan tutup pintunya.” Aku memerintah.
                Tom masuk dan menutup pintu dengan perlahan. Tom menghampiriku dengan sangat hati-hati, dia duduk di sampingku.
                “Apa binatang-binatang buas ini hidup?” Tom berbisik kepadaku.
                “Aku tidak tahu, sedari tadi mereka hanya membungkuk, tetapi kupikir mereka hidup.” Dengan tiba-tiba para binatang tersebut bangun dan hidup,mereka membuatku terkejut setengah mati seperti mengagetkanku dengan peluncuran roket di depan mata kepalaku tanpa pemberian aba-aba.
                 Aku memeluk Tom dan menjerit dalam dekapannya.
                 “Helena! Ibu tolong aku, Helena aku tidak siap untuk mati sekarang.”
                  Aku mendengar suara Tom yang kedengarannya merengek dan seperti sedang menangis.
Singa itu mengaum membuat level ketakutanku meningkat. Aku menjambak rambut Tom dan menjerit. Kacamatanya terlepas, dan dia tampak tersiksa dengan nafasnya yang tak karuan. Kemudian raungan seekor serigala menyusul.
                 Tom memelukku erat, “Helena aku sangat takut.”
                 Aku melepaskan pelukannya, “Kau ini bagaimana, sih! Harusnya kau melindungiku!”
                “Maafkan aku Helena, aku gugup karena kacamataku jatuh.” Tom menyipitkan matanya.
Aku mencari kacamatanya, ternyata ada di dekat kaki singa, bagaimana aku bisa mengambilnya!? Seseorang mengetuk pintu dengan keras.
               “Helena, suara apa itu?!” Mama berteriak dari luar pintu.
               “Tidak, Ma, itu hanya suara binatang dari film, aku mengeraskan volumenya!”.
                Tiba-Tiba Singa mengaum lebih keras. Aku meremas seprai ranjangku, Tom menutupi wajahnya dan terdiam seperti patung.
                “Apa kau yakin?” Mama bertanya dari balik pintu.
                “Ya, Ma! Jangan kuatir! Kami baik-baik saja!” Aku berteriak membalas.
Aku menunggu, ternyata tak ada sahutan lagi, sepertinya Mama sudah pergi.
“Tom, kacamatamu ada didepan kaki Singa, bagaimana bisa aku mengambilnya?” Aku berkata pada Tom yang kini tak menutupi wajahnya lagi.
              “Helena! Aku Tahu! Coba kau tekan tombol ON/OFF Gamebot itu!” Aku menatap Gamebot kembali dan menuruti perintah Tom, aku menekan tombol ON/OFF, dan ternyata benar, hewan-hewan tersebut tersedot oleh jaring spider-man berjenis matriks, kutebak. Hewan-hewan itu tersedot ke dalam kepala Gamebot yang terbuka. Aku memegangi Gamebot erat dengan kedua tanganku hingga kelima binatang buas itu tersedot masuk kedalam Gamebot, lalu kepala Gamebot tersebut kembali tertutup.
Aku menjatuhkan Gamebot dan menghembuskan nafas. “Tom, kau benar! Binatang-binatang itu berasal dari Gamebot ini!” Aku berdiri dan mengambil kacamata Tom lalu kemudian memasangkannya pada Tom.
               “Sungguh?”  Tom membuka tutup matanya.
               “Ya! Yang tadi itu sungguh aneh. Kupikir….” Aku melirik mata Tom.
               “Gamebot Ajaib” Dia membaca pikiranku.
               “Tom, sungguh tidak bisa dipercaya. Aku takkan memainkannya lagi.” Aku berdiri memungut Gamebot dibawah kakiku dan memasukkannya ke dalam laci bersama dengan barang-barang yang sudah tidak kupakai.
Aku menjatuhkan tubuhku pada ranjang. “Aku sangat terkejut, Tom. Kurasa aku akan tidur, dengan harapan aku hanya bermimpi untuk yang baru saja terjadi. Kau tahu..”
              “Tidurlah, aku akan meemanimu hingga kau terlelap.” Tom tersenyum dan membukakkan sepatuku juga meletakannya di bawah ranjang, lalu dia menyelimutiku.
             Aku memegang lengan Tom. “Aku mohon, jangan beritahu kepada siapa-siapa.”
            “Aku tidak akan memberitahukannya pada siapa-siapa. Tidurlah.” Tom menaikkan kakiknya keatas ranjang dan duduk di samping kepalaku.
            “Terimakasih, Tom.” Aku menghembuskan nafas dan memejamkan mataku.[]

Rabu, 21 Mei 2014

The Magic of Gamebots


3. Aku Mendapat Mainan Trend 90-an

                Aku masih saja memikirkan tentang perceraian Mama dan Papaku, sungguh, aku tersiksa. Aku tak percaya, sebagai anak satu-satunya dari mereka, aku tak mampu menjadi alasan bagi mereka untuk bertahan untuk bersama selamanya.Aku menangis momohon pada mereka agar tak melakukannya, tetapi Papa tetap saja keras kepala. Minggu depan, aku takkan mungkin melihat Mama memakaikan dasi untuk Papa dipagi hari, aku takkan pernah melihat mereka bersama-sama lagi, untuk selamanya. Sebenarnya dimana hati dan otak mereka?Apa mereka tak berpikir bahwa aku bisa saja menjadi gila karena memikirkan hal ini. Aku ingat ketika aku berumur sembilan tahun, saat itu aku bersama Mama dan Papaku, sedang berlibur di Paris, tepat saat aku berdiri di menara eiffel, Papa mengunci satu gembok berwarna biru langit diantara ratusan ribu gembok lainnya, kurang-lebih, Papa menuliskan:
“ John Brockwilson
   Jelena Brockwilson
   Helena Brockwilson
Forever.                  "
di badan gembok dengan spidol hitam lalu menguncikannya di menara bersama dengan gembok-gembok lainnya. Papa melemparkan kunci gemboknya dengan harapan agar kami tetap bersama untuk selamanya. Tapi, kemarin malam, harapan itu takkan berhasil terwujud, Mama dan Papa akan berpisah sebagai suami dan istri, untuk selamanya. Menyedihkan mengingat saat itu Papa mengatakan pada Mama bahwa jika mereka saling mencintai, mereka takkan pernah berpisah, dan akan tetap bertahan bagaimanapun caranya. Itu semua hanya omong kosong. Aku membenci cara mereka menyelesaikan masalah. Ini sangat menyiksaku.
Tak kusangka sedari aku menaiki bus, aku hanya melihat keluar jendela dan mengabaikan Tom yang sedang duduk disisiku. Aku terlalu memikirkan perceraian Mama dan Papaku. Aku melihat Tom sedang memainkan gadgetnya, sebenarnya aku ingin mengajaknya untuk mengejek Ella, tetapi Tom terlihat sangat asyik sendiri dengan gadgetnya, kuputuskan untuk tak menggangunya. Bis berhenti, aku dan Tom turun dari Bis, Tom sama sekali tak mengeluarkan kata-katanya. Apa dia marah padaku? Kuputuskan untuk tak berkata juga.Rumah Tom berada di Jalan I No. 47. Memang di negara ini hanya memilik 4 kota. Masing-masing kota hanya memiliki 6 wilayah, yaitu Jalan I, Jalan II, Jalan III, Jalan IV, Jalan V, dan Jalan VI. Aku sendiri tinggal di Jalan V No. 32.
Tom membuka pintu dan memimpinku memasuki rumah.Aku memang sering berkunjung kemari, setiap tiga kali dalam seminggu. Pada hari Sabtu, Tom yang berkunjung kerumahku, dan pada hari Minggu aku dan Tom pergi bersama-sama, entah itu ke Mall, menonton film, ataupun pergi ke ladang jagung untuk mencuri beberapa jagung dan kemudian menjadikannya jagung bakar bersama-sama.
“Ibu, aku pulang.”Tom berteriak memanggil ibunya.
               “Hey, aku harap kau tak merasa marah padaku, karena sedari tadi kau hanya diam dan tak berkata apa-apa, seperti…”
                “Mengabaikanmu.” Akumemotongnya, “Hey aku kira kau yang marah padaku, kau sibuk sekali dengan gadgetmu, aku tak berani mengganggumu.” Kataku.
                 Aku lega karena dia sama sekali tak marah padaku.
                “Kukira kau yang marah, sudahlah.Aku tau kau sedang memikirkan mama dan papamu.” Tom tersenyum padaku.
                Tom melemparkan tasnya di sofa.“Aku ingin kencing, kau mau ikut?”Dia menunjukan wajah sarkatisnya padaku.
                Aku meninju lengan kanannya, “Itulah jawabanku.”
                Tom tertawa dan kemudian berjalan meninggalkanku. Aku mendengar seseorang menuruni tangga, aku menengokkan kepalaku ke arah kiri sudut ruang tamu ini, Ibu Tom meuruni tangga dengan baju lengan panjang berbahan cardigannya  yang berwarna merah, sepasang dengan rok sepanjang lututnya, dan dia memakai sepatu wedgess berwarna putih. Dia berusia 42 tahun, rambutnya bergelombang sebahu, berwarna blonde. Bola matanya berwarna biru langit, dia juga berkacamata sama seperti Tom. Dia sangat baik, bahkan dia pernah mengatakan bahwa dia sudah menganggapku sebagai anaknya.Aku sudah berkunjung kesini sejak aku kelas 9 SMP, jadi wajar saja jika aku sudah tak asing lagi dengan rumah dan orang-orang dirumah ini, ya, maksudku dengan Tom dan Ibunya. Tom hanya tinggal bersama Ibunya di rumah ini, karena Ayahnya adalh seorang nahkoda yang hanya akan pulang, entahlah, aku tidak tahu.
“Hey Helena! Dimana Tom?” tanya Ibu Tom yang masih menuruni tangga dengan santai.
               “Dia sedang ke toilet, mungkin dia sedang diare.” Aku menjawabnya dengan menaikkan alis kiriku dan menaikkan bahuku seolah-olah aku tak tahu.
               “Memang dasar anak itu ada-ada saja.Aku sudah tau kau akan kemari hari ini, maka aku akan membuatkan pancake selai madu untukmu dan Tom.” Ibu Tom menuruni anak tangga terakhirnya, dan berjalan menuju ruang makan.
               “Ya, aku sudah tidak sabar, nih.”Kataku tersenyum sementara Ibu Tom memasuki ruang makan.
Aku duduk di sofa panjang bercorak bunga mawar dan melepaskan tasku lalu menaruhnya disebelah kananku.
“Aku kembali, apa kau merindukanku?” Tom muncul dari balik pintu toilet, lalu duduk di sebelah kiriku.
               “Sama sekali tidak.”Aku tersenyum membalas, dan menyandarkan tubuhku pada sofa.
Aku menghembuskan nafasku, dan mulai menceritakan beban pikiranku, “Tom, tentang mama dan papaku.”
               Tom melirikku, “Ya, ceritakan saja kepadaku, semuanya, aku takkan memotongnya.” Dia menyerongkan duduknya dan menghadap padaku.
               “Kau tahu,” Aku meliriknya lalu kembali menatap lantai. “Mama dan papa akan bercerai, minggu depan. Mereka bilang, ini adalah masa-masa sulit mereka dalam rumah tangga, Mama bilang dia hanya tidak ingin mengganti status warga negaranya menjadi warga negara Los Akirema, tetapi Papa memaksanya. Papa mengelak tudingan itu dan dia bilang bahwa itu hanya akal-akalan Mamaku saja supaya bisa kembali ke swiss, dan membawaku.Tetapi menurutku mereka sangat egois.Aku tak bisa menjadi alasan yang kuat agar mereka bertahan, aku adalah satu-satunya dari mereka.Kuharap kau bisa merasakan apa yang kurasakan.”Jelasku.
             Tom masih menyimakku. Aku menunggunya berbicara.
             Dia menepuk lututku, “Percayalah, kau takkan pernah kehilangaan orang-orang yang kau cintai, aku takkan membiarkan siapapun merampas cahaya dibalik matamu. Semuanya akan baik-baik saja.” Dia tersenyum padaku. Inilah alasanku menjadikannya sahabat terbaikku, dia selalu membuatku merasa lebih baik.
              “Tom, kau memang sahabat terbaikku!” Aku memeluknya, tetapi dia tak membalas pelukanku, dia melepaskan pelukanku dan terlihat panik dengan nafas yang terengah-engah.
             “Ada apa?Apa aku membuatmu sesak nafas?” Aku menaikkan alis kiriku.
             “Tidak, aku hanya..”Mata Tom melirik kesana dan kemari entah sedang mencari apa.
              Aku masih menunggunya melanjutkan perkataannya.
             “Aku hanya baru ingat bahwa pancake-nya pasti sudah siap di meja makan!”Akhirnya Tom berkata, yang sebenarnya, sama sekali tidak nyambung.
            Aku mengerutkan dahiku, “Kau ini aneh, sudahlah. Ayo kita ke ruang makan! Pancake, aku datang!” Aku berdiri dan meninggalkannya ke ruang makan terlebih dahulu.

“Bagaimana, enak bukan?” Tanya Ibu Tom saat aku menyuapkan potongan pancake selai madu terakhirku.
              “Sama seperti biasanya, lezat.”Kataku sambil mengunyah pancakeku.
             “Itu udah pasti, karena ibuku yang membuatnya.”Tom membalas perkataanku.
              Ibu Tom tertawa, “Terimakasih, sayangku.”
              Aku mengambil gelasku lalu berdiri dan berjalan menuju air keran di wastafel untuk mengambil minum, "Sama-sama."Aku tersenyum.
Saat aku menyalakan keran dan mengisikan gelasku, aku tak sengaja melirik keranjang belanja diatas meja disudut ruangan, aku melihat sebuah benda, seperti remot televisi terlihat dalam keranjang.Aku mematikan keran, dan meminum air yang sudah kuambil dari keran. Aku berjalan menghampiri keranjang tersebut dan mengambil benda asing tersebut. Bentuknya persegi panjang seperti remot televisi, memiliki tiga tomblo kecil berbentuk lingkaran sebesar chococip, kurang-lebih, empat tombol lingkaran sebesar permen kacang coklat membentuk empat arah mata angin di bawah ke-empat tombol kecil, dan satu tombol lingkaran yang lebih besar disebelah kanannya, tombol-tombol itu berwarna kuning.
“Benda apa ini?”Aku bertanya.
               Tom dan Ibunya melihat ke arahku, “Benda apa itu?” Tom balik bertanya.
               Ibu Tom tertawa, “Itu Gamebot, sayang.Salah satu mainan trend dari tahun 90-an. Meskipun kau dan Tom adalah bayi 90-an, mungkin kau tak pernah memainkannya.Bahkan Tom sendiri belum tahu mainan itu. Tadi aku membelinya di toko mainan saat aku pulang dari pasar, mereka sedang menjual kembali mainan trend tahun 90-an.” Jelasnya.
Aku membawa benda yang disebut Gamebot itu kembali ke meja makan.
              “Permainan seperti apa?” Tom mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat benda itu semakin dekat.
              “Permainan, ya ibu tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tetapi ada 26 permainan di dalamnya. Mungkin membosankan, tetapi ibu sangat menyukainya.” Kata Ibu Tom. “Kau menyukainya, Helena?” Ibu Tom menyuapkan potongan pancake selai madu terakhirnya.
               “Ya, kurasa aku ingin mencobanya.” Aku melihat pada Ibu Tom berharap dia akan meminjamkan benda ini padaku.
               “Jika kau menginginkannya, akan kuberikan untukmu.” Ibu Tom tersenyum.“Gamebot itu belum dipasang baterai, kau harus mempunyai dua baterai untuk memainkannya.”Dia menambahkan sambil membawa gelasnya dan berjalan menuju air keran di washtafel.
Aku tertarik dan ingin mencoba memainkan permainan ini dengan segera, kuputuskan untuk pamit pulang dan memasangkannya baterai agar aku bisa memaikan permainan trend 90-an ini.
“Baiklah, aku pulang. Terimakasih untuk Gamebotnya! Aku tak sabar ingin memainkannya, terimakasih banyak! Sampai bertemu besok!”Aku berjalan cepat lalu mengambil tasku tanpa mendengar sahutan mereka dan keluar dari rumah Tom untuk pulang. []