Summertime

Selasa, 18 Februari 2014

The Best and The Bad Things In My Life!


2. Manusia Yang Sama, Tetapi Berbeda.

                 

               Aku kesiangan, lagi. Waktu menunjukan pukul 07:05. Meleset 5 menit, deh. Biasanya nih, kalau-kalau aku malas mendengarkan ceramah pagi dari guru piket yang biasa menangani murid kesiangan, aku pura-pura saja, “selamat pagi Pak Deni. Hari ini aku ada ulangan Matematika, nih. Ayah bilang kalo ulangan gaboleh ketinggalan. Jadi, gimana, dong, Pak?” Dan tanpa basa-basi, Pak Deni mempersilahkan aku masuk kedalam kelas tanpa ceramah pagi. Tetapi, sialnya, hari ini entah kenapa aku ingin menikmati ceramah pagi saja. Lalu aku berbaris dilapangan upacara dengan 14 orang lainnya. Membuat 3 banjar.
“selamat pagi anak-anak yang tidak disiplin.” “sudah bapak bilang berulang kali, jika kalian mau jadi orang sukses, kalian harus menerapkan sikap disiplin!” begitulah kurang-lebih kalimatnya yang tak pernah berubah sedari pertama kali aku kesiangan. Tepatnya, sejak 4 bulan yang lalu. Hampir 5 kali dalam satu minggu. Ya, artinya, setiap hari. Tapi aku tidak khawatir, karena sekolah ini tak pernah menghukumku dengan poin pengurangan nilai. Hanya untukku.
                Aku tak sengaja menengok ke arah kananku. Dan aku, melihat ,dia. Nico Pratama Zaidan. Anak kelas X-4. Putra pertama dari manajer perusahaan salah satu produk rokok. Tubuhnya memiliki tinggi sekitar 182 cm, berbeda 26 cm denganku. Kulitnya berwarna putih, tetapi tiak pucat. Matanya yang berukuran normal (tidak sipit, dan, tidak belo.) berwarna semi coklat. Rambutnya yang berwarna hitam gelap yang terlihat seperti sedang tertiup angin tenang di pantai. Hidungnya mancung. Menurutku, wajahnya terlihat seperti blasteran Arab, Amerika, dan Indonesia. Ganteng, deh, pokoknya. Aku selalu merasa seperti wajahku akan meledak setiap dekat dengannya, begitu juga dengan jantungku. Aku tak tahu kenapa, pokoknya, aku cuman ingin kabur setiap ada didekatnya.
                Untungnya, ceramah pagi telah usai. Barisan membubarkan diri, dan mulai meninggalkan lapangan upacara. Aku orang terakhir yang meninggalkan lapangan dibelakang 14 orang lainnya. Saat aku sudah berjalan 1 meter membelakangi Pak Deni, kurang-lebih, untuk menuju kelasku, Pak Deni menghampiriku. “Zara, tunggu!” serunya sambil berjalan menghampiriku. “ya, Pak Deni?” aku membalikkan badan. “Kalo Ayah kamu nyuruh langsung ke kelas, bilang aja ke bapak, ya?” kata Pak Deni sambil menyunggingkan senyum. “Kalo setiap hari Ayah pingin aku langsung masuk kelas, gimana, dong, pak?” Tanyaku sambil memasang muka memelas (mungkin?). Tadinya, sih, bercanda. Tapi, Pak Deni menjawab dengan cepat secara ringkas. “Gak apa-apa Zara. Ayahmu kan pemilik sekolah ini, dan yang menggaji bapak juga.” Pak Deni tersenyum. Sudah sangat jelas, kan? Oke deh, mulai besok aku tak perlu repot-repot lagi mendengar ceramah pagi, dan tak perlu juga menggunakan alasan ‘ulangan matematika’ lagi. “Oke deh pak. Saya mau masuk kelas dulu, nih. Selamat pagi Pak Deni.” “Selamat pagi juga, Zara.” Balas Pak Deni tersenyum. Aku membalikkan badan dan meninggalkan lapangan upacara, menuju kelasku.

                Aku duduk dimejaku. Meja paling belakang, pojok sebelah kanan. Dekat dengan jendela yang menuju langsung ke lapangan basket. Tiba-tiba, Rachel, cewek berkacamata, ceking, dengan rambut yang selalu dikepang satu, memanggilku dengan volume terkecil yang dia bisa. “Zara!” Aku menoleh ke arah kiriku, dia duduk disebelah mejaku. Aku menaikkan alis kiriku. “Hidup kamu indah banget, ya. Serius, deh. Sejak pertama aku ngeliat kamu, aku pengen banget bilang sama kamu. Tapi, ya….” “Rachel! Sedang apa kamu?” Bu Hera memotong kalimat Rachel. Aku melihat ke arah papan tulis lagi. Dan berusaha menunjukan sikap, yang mengatakan, hey dia yang menggangguku, Bu. Ya, Bu Hera, guru biologiku, sekaligus guru kategori ter-killer untuk kelas sepuluh. “Enggak Bu, maaf.” Jawab Rachel dengan suara gugup. Bu Hera kembali ke mejanya. Aku menyobek selembar kertas dari balik buku tulisku. Dan aku mulai menulis, berarti, hidup kamu itu, lebih indah. Lalu, aku meremas kertas itu dan melemparkannya kepada Rachel. Dia memungut kertas itu dibawah kaki kirinya. Lalu duduk tegak kembali sambil membuka bola kertas tersebut. Dia menyeritkan dahi, lalu mulai menulis. Aku memandang ke papan tulis lagi. Bola kertas kusut mendarat tepat diatas buku tulisku. AKu membukanya, dan mulai membaca dalam hati. Sungguh? Bisa jelasin, gak?. Aku menyimpan bola kertas itu kebawah mejaku. Dan tidak berniat membalasnya sama sekali.
                Bel isitirahat berbunyi. Aku duduk dimejaku sementara seluruh warga kelas X-7 menuju kantin. Hanya menyisakan aku, dan Rachel. Aku bertaruh jika dia akan bertanya padaku soal yang tadi. Aku membereskan buku-buku dimejaku. “Hey, Zara. Bisa kamu jelasin, tentang hidup aku yang katamu lebih indah itu?” Dia duduk mengarah kepadaku. Aku tetap sibuk dengan buku-bukuku.  “Aku mohon. Selama ini, aku jadi bahan bully-an terus. Aku capek. Tapi, kok, bisa-bisanya kamu bilang kalo hidp aku lebih indah daripada hidup kamu? Padahal kan, semua orang tau, kamu putri bungsu dari Thomas Putra Anderson, dan, Zaneta Anderson. Keluarga Anderson. Pemilik sekolah ini. Anderson High School. Semua cowok, tertarik padamu, setidaknya, itu pendapatku. Kamu cantik, memiliki mata coklat yang indah, berkulit coklat sempurna, hidung mancung, dan, cantik deh, pokoknya. Terus ditambah lagi asal kel…” “Ibumu.” Potongku dengan dingin. Dan aku meninggalkannya sendiri. Mulutnya menganga seolah tak percaya kalimatnya yang cukup panjang hanya kujawab satu kata. Terserah, deh. Pokoknya aku mau ke kantin sekarang. Aku lapar.
                Aku berjalan dikoridor kawasan anak-anak kelas sebelas dekat dengan kantin. Tiba-tiba… “Zara! Tunggu!” Aku menoleh. Lagi-lagi, Rachel. Dia lari ke arahku, tetpi aku mengabaikannya dan berjalan lagi menuju kantin. “Apa maksudnya sama Ibu aku? Tolong! Jawab aku!” Dia memaksaku dengan wajah memelas. “Hey, Zara! Kamu lagi ngobrol sama anak SD ya? Eh, atau anak TK?” Salah seorang cowok berteriak diantara anak-anak yang sedang duduk menikmati hidangan kantin. Aku tak tahu siapa yang berteriak, tetapi jelasnya, hampir tiga per-empat, kurang-lebih, orang-orang dikantin tertawa setelah mendengar teriakan itu. Aku hanya menatap orang-orang itu dengan datar, lalu, tring, suasana menjadi hening. Mereka kembali melanjutkan menyantap makanan atau meminum minuman mereka. Zara masih dibelakangku membisu. Masih mengikutiku. Aku mengambil jatahku dikantin (tanpa harus antri) dan mengambilkan jatah Rachel juga. Kami duduk dimeja kesukaanku, sepertinya mereka sudah hafal kalo aku suka duduk disitu, jadi, meja itu kosong walaupun kantin disesakki banyak murid yang mencari-cari meja untuk didudukki. Aku menghabiskan pancake selai maduku. Lalu meminum susu kotak hingga habis. Sementara Rachel masih mengunyah pancakenya yang masih habis setengahnya. “Aku berani bertaruh kalo mereka itu sesungguhnya merindukan hal yang masih bisa kamu dapetin.” Aku bicara pada Rachel bersama suara gaduh dikantin. “Apa maksudmu?” Tanyanya sambil mengunyah pancake dimulutnya. “Maksud aku, topik bully-an kamu itu, membuat hidupmu indah banget.” Jawabku. “Ibuku yang masih mengantarku sampai gerbang sekolah? Dan memasakkan bekal makanan untukku? Dan mengecup keningku didepan banyak orang?” Dia mengajukan pertanyaan seperti sedang bertanya pada Bu Hera, gugup. “Ya.” Jawabku singkat. “Bel masuk 5 menit lagi. Cepat abisin pancakenya.” Aku meninggalkannya makan pancake sendiri.
                Saat aku dalam pelajaran ekonomi, aku melamun, dan tiba-tiba berpikir, bahwa, aku iri dengan kehidupan Rachel. Dia masih punya Ibu yang mempunyai banyak waktu untuknya, penuh kasih sayang. Sementara aku? Ya, sudahlah. Mungkin dia sangat beruntung. Tapi, kenapa dia, tidak segan kepadaku? Lalu, kenapa aku ramah terhadapnya? Apa aku harus menjadikannya seorang teman?
                Tiba-tiba bel pulang berbunyi.[]

Jumat, 07 Februari 2014

The Best and The Bad Things In My Life!

1. Club Manusia Repot-Repot



Penonton bersorak-sorai, sekitar 10.000 penonton memenuhi stadion , sangat berantusias, menunjukan ekspresi tanpa beban, lepas, bebas, kami semua merasa bahagia tak terkendali. Ya, aku salah satu dari mereka yang berbahagia. Kami sedang menonton konser “Blink-182”. Teriakan, Jeritan histeris, kami semua merasa benar-benar bahagia. Aku menjadi salah satu dari mereka yang menjerit-jerit histeris dan menangis bahagia, terlalu bahagia. Tentu saja, aku mencintai band ini, dengan teramat sangat. Kami melompat, bernyanyi mengikuti setiap lagu yang dibawakan. Aku juga merasakan bahwa tanganku basah dengan keringat, hangat dan nyaman rasanya. Aku sedang bergandengan tangan dengan Dia.Dia melihatku sambil sambil tersenyum yang membuatku merasa bagaikan anak perempuannya yang sedang bermain pasir di pantai. Dia terlihat puas dan bangga melalui senyumannya itu. Aku tertawa, menangis, dan menjerit dihadapannya. Dia menggengam tangan kananku erat. Dia melihat kea rah tangan kiriku, lalu menggenggamnya. Jadi, sekarang dia menggenggam kedua tanganku. Kita saling berhadapan dan bertemu pandang, saling menatap mata satu sama lain. Aku masih menyengir bahagia dan menangis, dia mengusap air mataku dengan lembut, dan mengecup keningku. Aku memeluknya erat setelah itu. Aku mendongkakkan kepalaku ke arah wajahnya yang teramat ganteng itu. Lalu dia menatap mataku dalam, kita saling bertatapan mata, dengan lambat dia semakin mendekatkan wajahnya ke kepalaku, nafasnya pun bisa kurasakan sekarang, semakin dekat, dan akhirnya dia menciumku dengan lembut…
                “ZARA! ZARA!” teriakan sorak sorai penonton berubah menjadi teriakan mengerikan dalam seketika, membuat telinga sakit. Ya, itu suara tanteku, Tante Elli sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Setiap pagi memang aku dibangunkan oleh Tante Elli karena dia masih menumpang hidup dirumah Ayahku. Jangan Tanya kenapa bukan Ibuku atau Ayahku yang membangunkanku, tentu saja mereka terlampau sibuk dengan pekerjaan mereka. Waktu menunjukan pukul 06:00. Ya, ini saatnya sekolah. Salah satu hal yang paling ku benci sepanjang hidup, bangun dipagi hari, terlalu pagi. Mengusik setiap mimpi yang teramat indah. Iya, yang tadi itu hanya mimpi.
                “Ya, aku udah bangun ko tan!” teriakku dari dalam kamar. Aku beranjak dari surga empuk milikku, lalu mempersiapkan diri untuk ‘sekolah’. Aku memerlukan waktu 30 menit untuk melakukan itu, kurang lebih. Aku melakukan sarapan terlebih dahulu, ya… Jadi menambah waktu 5 menit kira-kira. Sementara bel masuk sekolahku tepat pukul 07:00. Aku rasa 25 menit cukup untuk sampai di sekolah. “Zara! Tante kan udah bilang, kalo pintu kamar itu gausah dikunci! Jadi tante bisa membangunkanmu lebih cepat daripada tante harus ngetuk-ngetuk pintu kamar kamu lebih dari setengah jam cuman buat ngebangunin kamu yang tidurnya kaya kerbau itu!” omel tanteku saat aku mengunyah roti isi selai kacangku. “Terus, tante bisa ngeliat hal-hal pribadi aku seenaknya gitu?” kataku dengan tenang. “Tutup mulut kamu! Dikasih tau malah ngelawan! Pantes aja Ayah dan Ibu kamu ga peduli!” Dia menjawab seperti itu hingga membuat dadaku terasa sangat panas. “Cukup! Ga usah tante ngurusin hidup aku!” bentakku yang membuatnya cukup tercengang. “Oh ya ampun, maafin aku Tante Elli, mungkin tugas tante cuman harus membangunkanku aja, nggak sama yang lain.” Kataku dengan nada rendah. Tante Elli hanya diam mematung menatapku seperti orang yang sedang menyerukan tanda ‘perang’ tanpa suara. Aku pergi meninggalkan rumahku.
             Tepat pukul 06:40, aku sudah dalam perjalanan menuju sekolahku. 20 menit untuk jarak sekolah 10 kilometer, kurang lebih. Aku duduk berdesakkan didalam angkutan umum. Aku sudah terbiasa mengalaminya setiap pagi, setiap Senin sampai Jum’at. Inilah salah satu hal yang kusukai dalam hidupku, melihat para manusia repot-repot keluar rumah meninggalkan kasur dan selimut mereka yang hangat.. Nyaman… Sungguh seperti surga. Aku melihat kesekelilingku, ada 16 orang dalam angkutan umum ini, beserta sang supir. 2 orang mengenakan kemeja berwarna biru, dan hijau. 3 orang menggunakan gincu merah dan pewarna lainnya yang membuat wajah mereka terlihat konyol. 2 Ibu yang menjingjing kantong plastic berisi sayur-sayuran, barangkali. Sepasang anak kembar berumur kira-kira 6 tahun bersama dengan ibunya. 3 orang mengenakan putih biru.  Satu supir dengan mata berkantung, dan sisanya orang mengenakan putih abu-abu yang sangat terlihat bodoh. Ya, tepatnya sepertiku sekarang.  Lalu melihat keluar jendela, ada puluhan manusia berkendara sejauh mata memandang. Dan ada yang menyusuri trotoar, menyebrang jalan, dan ada juga yang berdiam diri ditengah jalan raya mengganggu kendaraan melintas. Oh, itu Orang Gila.
            Hal terbaik dalam hidupku yang lainnya adalah, melihat ekspresi mereka. Ada yang terlihat tenang-tenang saja, Ada yang mengantuk, ada yang memasang ekspresi datar, ada yang memasang mata tajam dan berwajah judes seakan-akan dia sedang mengatakan “seandainya aktivitas bodoh ini adalah seorang makhluk hidup, mungkin sudah kubunuh dari kemarin.” Ada yang resah melihat ke arah jam tangannya setiap satu menit sekali, kurang lebih. Dan ada juga yang senyum-senyum sendiri melihat kearah mereka, itu adalah aku. Dan ada juga yang melihat ke arahku dengan tatapan sinis sekan dia telah menyimpulkan bawa aku ‘gadis terganggu’. Alasan aku menyukai hal ini adalah, mereka sama sebalnya seperti aku. Telah tersimpulkanlah bahwa kami adalah anggota Club Manusia Repot-Repot.[]