2. Manusia Yang Sama, Tetapi Berbeda.
Aku
kesiangan, lagi. Waktu menunjukan pukul 07:05. Meleset 5 menit, deh. Biasanya
nih, kalau-kalau aku malas mendengarkan ceramah pagi dari guru piket yang biasa
menangani murid kesiangan, aku pura-pura saja, “selamat pagi Pak Deni. Hari ini
aku ada ulangan Matematika, nih. Ayah bilang kalo ulangan gaboleh ketinggalan.
Jadi, gimana, dong, Pak?” Dan tanpa basa-basi, Pak Deni mempersilahkan aku
masuk kedalam kelas tanpa ceramah pagi. Tetapi, sialnya, hari ini entah kenapa
aku ingin menikmati ceramah pagi saja. Lalu aku berbaris dilapangan upacara dengan
14 orang lainnya. Membuat 3 banjar.
“selamat pagi anak-anak yang tidak disiplin.” “sudah bapak bilang berulang kali, jika kalian mau jadi orang sukses, kalian harus menerapkan sikap disiplin!” begitulah kurang-lebih kalimatnya yang tak pernah berubah sedari pertama kali aku kesiangan. Tepatnya, sejak 4 bulan yang lalu. Hampir 5 kali dalam satu minggu. Ya, artinya, setiap hari. Tapi aku tidak khawatir, karena sekolah ini tak pernah menghukumku dengan poin pengurangan nilai. Hanya untukku.
Aku tak sengaja menengok ke arah kananku. Dan aku, melihat ,dia. Nico Pratama Zaidan. Anak kelas X-4. Putra pertama dari manajer perusahaan salah satu produk rokok. Tubuhnya memiliki tinggi sekitar 182 cm, berbeda 26 cm denganku. Kulitnya berwarna putih, tetapi tiak pucat. Matanya yang berukuran normal (tidak sipit, dan, tidak belo.) berwarna semi coklat. Rambutnya yang berwarna hitam gelap yang terlihat seperti sedang tertiup angin tenang di pantai. Hidungnya mancung. Menurutku, wajahnya terlihat seperti blasteran Arab, Amerika, dan Indonesia. Ganteng, deh, pokoknya. Aku selalu merasa seperti wajahku akan meledak setiap dekat dengannya, begitu juga dengan jantungku. Aku tak tahu kenapa, pokoknya, aku cuman ingin kabur setiap ada didekatnya.
Untungnya, ceramah pagi telah usai. Barisan membubarkan diri, dan mulai meninggalkan lapangan upacara. Aku orang terakhir yang meninggalkan lapangan dibelakang 14 orang lainnya. Saat aku sudah berjalan 1 meter membelakangi Pak Deni, kurang-lebih, untuk menuju kelasku, Pak Deni menghampiriku. “Zara, tunggu!” serunya sambil berjalan menghampiriku. “ya, Pak Deni?” aku membalikkan badan. “Kalo Ayah kamu nyuruh langsung ke kelas, bilang aja ke bapak, ya?” kata Pak Deni sambil menyunggingkan senyum. “Kalo setiap hari Ayah pingin aku langsung masuk kelas, gimana, dong, pak?” Tanyaku sambil memasang muka memelas (mungkin?). Tadinya, sih, bercanda. Tapi, Pak Deni menjawab dengan cepat secara ringkas. “Gak apa-apa Zara. Ayahmu kan pemilik sekolah ini, dan yang menggaji bapak juga.” Pak Deni tersenyum. Sudah sangat jelas, kan? Oke deh, mulai besok aku tak perlu repot-repot lagi mendengar ceramah pagi, dan tak perlu juga menggunakan alasan ‘ulangan matematika’ lagi. “Oke deh pak. Saya mau masuk kelas dulu, nih. Selamat pagi Pak Deni.” “Selamat pagi juga, Zara.” Balas Pak Deni tersenyum. Aku membalikkan badan dan meninggalkan lapangan upacara, menuju kelasku.
“selamat pagi anak-anak yang tidak disiplin.” “sudah bapak bilang berulang kali, jika kalian mau jadi orang sukses, kalian harus menerapkan sikap disiplin!” begitulah kurang-lebih kalimatnya yang tak pernah berubah sedari pertama kali aku kesiangan. Tepatnya, sejak 4 bulan yang lalu. Hampir 5 kali dalam satu minggu. Ya, artinya, setiap hari. Tapi aku tidak khawatir, karena sekolah ini tak pernah menghukumku dengan poin pengurangan nilai. Hanya untukku.
Aku tak sengaja menengok ke arah kananku. Dan aku, melihat ,dia. Nico Pratama Zaidan. Anak kelas X-4. Putra pertama dari manajer perusahaan salah satu produk rokok. Tubuhnya memiliki tinggi sekitar 182 cm, berbeda 26 cm denganku. Kulitnya berwarna putih, tetapi tiak pucat. Matanya yang berukuran normal (tidak sipit, dan, tidak belo.) berwarna semi coklat. Rambutnya yang berwarna hitam gelap yang terlihat seperti sedang tertiup angin tenang di pantai. Hidungnya mancung. Menurutku, wajahnya terlihat seperti blasteran Arab, Amerika, dan Indonesia. Ganteng, deh, pokoknya. Aku selalu merasa seperti wajahku akan meledak setiap dekat dengannya, begitu juga dengan jantungku. Aku tak tahu kenapa, pokoknya, aku cuman ingin kabur setiap ada didekatnya.
Untungnya, ceramah pagi telah usai. Barisan membubarkan diri, dan mulai meninggalkan lapangan upacara. Aku orang terakhir yang meninggalkan lapangan dibelakang 14 orang lainnya. Saat aku sudah berjalan 1 meter membelakangi Pak Deni, kurang-lebih, untuk menuju kelasku, Pak Deni menghampiriku. “Zara, tunggu!” serunya sambil berjalan menghampiriku. “ya, Pak Deni?” aku membalikkan badan. “Kalo Ayah kamu nyuruh langsung ke kelas, bilang aja ke bapak, ya?” kata Pak Deni sambil menyunggingkan senyum. “Kalo setiap hari Ayah pingin aku langsung masuk kelas, gimana, dong, pak?” Tanyaku sambil memasang muka memelas (mungkin?). Tadinya, sih, bercanda. Tapi, Pak Deni menjawab dengan cepat secara ringkas. “Gak apa-apa Zara. Ayahmu kan pemilik sekolah ini, dan yang menggaji bapak juga.” Pak Deni tersenyum. Sudah sangat jelas, kan? Oke deh, mulai besok aku tak perlu repot-repot lagi mendengar ceramah pagi, dan tak perlu juga menggunakan alasan ‘ulangan matematika’ lagi. “Oke deh pak. Saya mau masuk kelas dulu, nih. Selamat pagi Pak Deni.” “Selamat pagi juga, Zara.” Balas Pak Deni tersenyum. Aku membalikkan badan dan meninggalkan lapangan upacara, menuju kelasku.
Aku
duduk dimejaku. Meja paling belakang, pojok sebelah kanan. Dekat dengan jendela
yang menuju langsung ke lapangan basket. Tiba-tiba, Rachel, cewek berkacamata,
ceking, dengan rambut yang selalu dikepang satu, memanggilku dengan volume
terkecil yang dia bisa. “Zara!” Aku menoleh ke arah kiriku, dia duduk disebelah
mejaku. Aku menaikkan alis kiriku. “Hidup kamu indah banget, ya. Serius, deh.
Sejak pertama aku ngeliat kamu, aku pengen banget bilang sama kamu. Tapi, ya….”
“Rachel! Sedang apa kamu?” Bu Hera memotong kalimat Rachel. Aku melihat ke arah
papan tulis lagi. Dan berusaha menunjukan sikap, yang mengatakan, hey dia yang menggangguku, Bu. Ya, Bu Hera, guru biologiku,
sekaligus guru kategori ter-killer untuk
kelas sepuluh. “Enggak Bu, maaf.” Jawab Rachel dengan suara gugup. Bu Hera
kembali ke mejanya. Aku menyobek selembar kertas dari balik buku tulisku. Dan
aku mulai menulis, berarti, hidup kamu
itu, lebih indah. Lalu, aku meremas kertas itu dan melemparkannya kepada
Rachel. Dia memungut kertas itu dibawah kaki kirinya. Lalu duduk tegak kembali
sambil membuka bola kertas tersebut. Dia menyeritkan dahi, lalu mulai menulis.
Aku memandang ke papan tulis lagi. Bola kertas kusut mendarat tepat diatas buku
tulisku. AKu membukanya, dan mulai membaca dalam hati. Sungguh? Bisa jelasin, gak?. Aku menyimpan bola kertas itu kebawah
mejaku. Dan tidak berniat membalasnya sama sekali.
Bel isitirahat berbunyi. Aku duduk dimejaku sementara seluruh warga kelas X-7 menuju kantin. Hanya menyisakan aku, dan Rachel. Aku bertaruh jika dia akan bertanya padaku soal yang tadi. Aku membereskan buku-buku dimejaku. “Hey, Zara. Bisa kamu jelasin, tentang hidup aku yang katamu lebih indah itu?” Dia duduk mengarah kepadaku. Aku tetap sibuk dengan buku-bukuku. “Aku mohon. Selama ini, aku jadi bahan bully-an terus. Aku capek. Tapi, kok, bisa-bisanya kamu bilang kalo hidp aku lebih indah daripada hidup kamu? Padahal kan, semua orang tau, kamu putri bungsu dari Thomas Putra Anderson, dan, Zaneta Anderson. Keluarga Anderson. Pemilik sekolah ini. Anderson High School. Semua cowok, tertarik padamu, setidaknya, itu pendapatku. Kamu cantik, memiliki mata coklat yang indah, berkulit coklat sempurna, hidung mancung, dan, cantik deh, pokoknya. Terus ditambah lagi asal kel…” “Ibumu.” Potongku dengan dingin. Dan aku meninggalkannya sendiri. Mulutnya menganga seolah tak percaya kalimatnya yang cukup panjang hanya kujawab satu kata. Terserah, deh. Pokoknya aku mau ke kantin sekarang. Aku lapar.
Aku berjalan dikoridor kawasan anak-anak kelas sebelas dekat dengan kantin. Tiba-tiba… “Zara! Tunggu!” Aku menoleh. Lagi-lagi, Rachel. Dia lari ke arahku, tetpi aku mengabaikannya dan berjalan lagi menuju kantin. “Apa maksudnya sama Ibu aku? Tolong! Jawab aku!” Dia memaksaku dengan wajah memelas. “Hey, Zara! Kamu lagi ngobrol sama anak SD ya? Eh, atau anak TK?” Salah seorang cowok berteriak diantara anak-anak yang sedang duduk menikmati hidangan kantin. Aku tak tahu siapa yang berteriak, tetapi jelasnya, hampir tiga per-empat, kurang-lebih, orang-orang dikantin tertawa setelah mendengar teriakan itu. Aku hanya menatap orang-orang itu dengan datar, lalu, tring, suasana menjadi hening. Mereka kembali melanjutkan menyantap makanan atau meminum minuman mereka. Zara masih dibelakangku membisu. Masih mengikutiku. Aku mengambil jatahku dikantin (tanpa harus antri) dan mengambilkan jatah Rachel juga. Kami duduk dimeja kesukaanku, sepertinya mereka sudah hafal kalo aku suka duduk disitu, jadi, meja itu kosong walaupun kantin disesakki banyak murid yang mencari-cari meja untuk didudukki. Aku menghabiskan pancake selai maduku. Lalu meminum susu kotak hingga habis. Sementara Rachel masih mengunyah pancakenya yang masih habis setengahnya. “Aku berani bertaruh kalo mereka itu sesungguhnya merindukan hal yang masih bisa kamu dapetin.” Aku bicara pada Rachel bersama suara gaduh dikantin. “Apa maksudmu?” Tanyanya sambil mengunyah pancake dimulutnya. “Maksud aku, topik bully-an kamu itu, membuat hidupmu indah banget.” Jawabku. “Ibuku yang masih mengantarku sampai gerbang sekolah? Dan memasakkan bekal makanan untukku? Dan mengecup keningku didepan banyak orang?” Dia mengajukan pertanyaan seperti sedang bertanya pada Bu Hera, gugup. “Ya.” Jawabku singkat. “Bel masuk 5 menit lagi. Cepat abisin pancakenya.” Aku meninggalkannya makan pancake sendiri.
Saat aku dalam pelajaran ekonomi, aku melamun, dan tiba-tiba berpikir, bahwa, aku iri dengan kehidupan Rachel. Dia masih punya Ibu yang mempunyai banyak waktu untuknya, penuh kasih sayang. Sementara aku? Ya, sudahlah. Mungkin dia sangat beruntung. Tapi, kenapa dia, tidak segan kepadaku? Lalu, kenapa aku ramah terhadapnya? Apa aku harus menjadikannya seorang teman?
Tiba-tiba bel pulang berbunyi.[]
Bel isitirahat berbunyi. Aku duduk dimejaku sementara seluruh warga kelas X-7 menuju kantin. Hanya menyisakan aku, dan Rachel. Aku bertaruh jika dia akan bertanya padaku soal yang tadi. Aku membereskan buku-buku dimejaku. “Hey, Zara. Bisa kamu jelasin, tentang hidup aku yang katamu lebih indah itu?” Dia duduk mengarah kepadaku. Aku tetap sibuk dengan buku-bukuku. “Aku mohon. Selama ini, aku jadi bahan bully-an terus. Aku capek. Tapi, kok, bisa-bisanya kamu bilang kalo hidp aku lebih indah daripada hidup kamu? Padahal kan, semua orang tau, kamu putri bungsu dari Thomas Putra Anderson, dan, Zaneta Anderson. Keluarga Anderson. Pemilik sekolah ini. Anderson High School. Semua cowok, tertarik padamu, setidaknya, itu pendapatku. Kamu cantik, memiliki mata coklat yang indah, berkulit coklat sempurna, hidung mancung, dan, cantik deh, pokoknya. Terus ditambah lagi asal kel…” “Ibumu.” Potongku dengan dingin. Dan aku meninggalkannya sendiri. Mulutnya menganga seolah tak percaya kalimatnya yang cukup panjang hanya kujawab satu kata. Terserah, deh. Pokoknya aku mau ke kantin sekarang. Aku lapar.
Aku berjalan dikoridor kawasan anak-anak kelas sebelas dekat dengan kantin. Tiba-tiba… “Zara! Tunggu!” Aku menoleh. Lagi-lagi, Rachel. Dia lari ke arahku, tetpi aku mengabaikannya dan berjalan lagi menuju kantin. “Apa maksudnya sama Ibu aku? Tolong! Jawab aku!” Dia memaksaku dengan wajah memelas. “Hey, Zara! Kamu lagi ngobrol sama anak SD ya? Eh, atau anak TK?” Salah seorang cowok berteriak diantara anak-anak yang sedang duduk menikmati hidangan kantin. Aku tak tahu siapa yang berteriak, tetapi jelasnya, hampir tiga per-empat, kurang-lebih, orang-orang dikantin tertawa setelah mendengar teriakan itu. Aku hanya menatap orang-orang itu dengan datar, lalu, tring, suasana menjadi hening. Mereka kembali melanjutkan menyantap makanan atau meminum minuman mereka. Zara masih dibelakangku membisu. Masih mengikutiku. Aku mengambil jatahku dikantin (tanpa harus antri) dan mengambilkan jatah Rachel juga. Kami duduk dimeja kesukaanku, sepertinya mereka sudah hafal kalo aku suka duduk disitu, jadi, meja itu kosong walaupun kantin disesakki banyak murid yang mencari-cari meja untuk didudukki. Aku menghabiskan pancake selai maduku. Lalu meminum susu kotak hingga habis. Sementara Rachel masih mengunyah pancakenya yang masih habis setengahnya. “Aku berani bertaruh kalo mereka itu sesungguhnya merindukan hal yang masih bisa kamu dapetin.” Aku bicara pada Rachel bersama suara gaduh dikantin. “Apa maksudmu?” Tanyanya sambil mengunyah pancake dimulutnya. “Maksud aku, topik bully-an kamu itu, membuat hidupmu indah banget.” Jawabku. “Ibuku yang masih mengantarku sampai gerbang sekolah? Dan memasakkan bekal makanan untukku? Dan mengecup keningku didepan banyak orang?” Dia mengajukan pertanyaan seperti sedang bertanya pada Bu Hera, gugup. “Ya.” Jawabku singkat. “Bel masuk 5 menit lagi. Cepat abisin pancakenya.” Aku meninggalkannya makan pancake sendiri.
Saat aku dalam pelajaran ekonomi, aku melamun, dan tiba-tiba berpikir, bahwa, aku iri dengan kehidupan Rachel. Dia masih punya Ibu yang mempunyai banyak waktu untuknya, penuh kasih sayang. Sementara aku? Ya, sudahlah. Mungkin dia sangat beruntung. Tapi, kenapa dia, tidak segan kepadaku? Lalu, kenapa aku ramah terhadapnya? Apa aku harus menjadikannya seorang teman?
Tiba-tiba bel pulang berbunyi.[]