Summertime

Rabu, 25 Juni 2014

The Magic Of Gamebots


10. Aku Terkena Skors Satu Minggu 

            Aku gelisah, meskipun aku sedang menonton serial Glee di tv, tetapi jantungku berdetak tak karuan, begitupun dengan pikiranku.

“Helena.”
             Seketika aku menarik nafasku, aku sangat kaget. Rasanya seperti kau sedang merokok sembunyi-sembunyi di kamar mandi tetapi kau lupa untuk mengunci pintunya lalu Ayahmu tiba-tiba membukanya.
Mama sudah pulang, dia menaruh tasnya di atas meja.
 Mama sudah memenuhi panggilan dari pihak sekolah tentang keterkaitanku dalam Pertempuran Kantin kemarin. Aku tak tahu siapa saja yang orang-tuanya dipanggil, tetapi yang aku tahu, Tom hanya menerima surat peringatan saja dari sekolah. Aku tak tahu apa hukuman dari sekolah yang akan aku terima, mungkin saja aku sudah resmi dikeluarkan dari West High School. Ah, tidak, jangan berpikir yang tidak-tidak.
Aku masih menunggu Mama berbicara, yang aku rasakan saat ini, keadaan terasa sangat mencekam. Mama masih berdiri dengan kedua tangannya di pinggang. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja dan tidak terlihat tegang.
Mama menghela nafas, “Helena, kau terkena skors selama satu minggu.” Mama akhirnya berkata dengan dingin, “Bersyukurlah kau hanya menerima hukuman seringan itu setelah kau membuat banyak orang babak belur.” Mama menambahkan.
Aku mengembuskan nafasku dengan perasaan yang sangat lega, kau tahu, rasanya seperti pantatmu sedang terbakar lalu kau merendamkannya ke dalam satu ember penuh dengan air.
“Ya, tentu saja, aku sangat bersyukur.” Aku menyeringai dengan perasaanku yang bahagia.
              Mama masih menatapku dingin, “Tetapi jika sekali lagi saja kau membuat kekacauan, kau akan di keluarkan, dan tak akan ada satupun sekolah di Los Akirema yang akan menerimamu.”
              Dengan seketika bahuku kembali menegang dan nafasku kembali tersendat. Aku menggaruk kepalaku meskipun sebenarnya aku tidak merasa sedang gatal. Satu kali lagi? Yang benar saja, kau tahu aku harus menghajar si tolol Ella lebih dari satu kali.
             “Bagaimana bisa kau melakukan hal brutal seperti itu?! Kau selalu mempermalukan kedua orang-tuamu saja!” Mama membentakku dengan suara terkeras yang dia bisa keluarkan.
“Kedua orang-tua?” Aku balik bertanya dengan dingin.
             Mama terlihat sangat terkejut dengan perkataanku, Mama terdiam dengan nafasnya yang terengah-engah.
            “Aku merasa tidak memiliki orang tua lagi.” Aku berkata dengan sinis. (Jika kau melihat seorang anak berprilaku seperti ini kepada Ibunya di dalam sinetron mungkin kau akan menyumpahiku setengah mati).
             “Lalu kau anggap apa Mama dan Papamu?!” Mama mengepalkan kedua tangannya, matanya berkaca-kaca.
             “Seorang orang-tua tidak akan pernah memandang peran anaknya dengan sebelah mata.” Aku membalas dengan nafasku yang terengah-engah karena menahan emosi.
             “Apa yang kau maksud?!” Mama menahan tangisannya.
              Sebenarnya aku benci jika melihat Mama menangis, aku membenci diriku sendiri karena aku membuat Mama menangis, tetapi, aku harus mengatakannya agar Mama tahu betapa tersiksanya aku dengan perceraiannya yang akan datang.
             “Tidakkah Mama berpikir?! Selama ini aku tersiksa, aku merasa hancur mengingat kedua orang-tuaku yang selalu kubanggakan ternyata memiliki egois yang sangat tinggi!” Aku berdiri dari sofa yang kududuki, “Aku, satu-satunya anak dari kalian, sama sekali tidak cukup kuat untuk menjadi alasan kalian untuk bertahan! Sebenarnya apa arti aku bagi Mama dan Papa?!” Aku mengeluarkan segenap amarahku kedalam kata-kataku.
              “Cukup!” Mama berkata dengan sangat keras, “Cukup Helena! Yang kau harus lakukan hanyalah menjadi anak yang patuh, jangan mengacau lagi di sekolahmu! Hanya itu!” Mama menunjuk-nunjukku dengan matanya yang merah karena menangis.
               “Waktuku di sini mungkin hanya tinggal..” Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, Rabu. 5 hari, aku menghitung dalam hati.”5 hari. Setelah itu mungkin aku akan pergi ke Swiss bersama Mama! Jadi apa salahnya jika aku menghajar orang-orang bodoh itu?!” Aku berkata dengan lantang, lalu bergegas meninggalkan Mama.
                “Helena!” Mama berteriak memanggil-manggil namaku. Tetapi aku tak menghiraukannya.
            Aku menggambil Gamebot dari dalam laciku lalu memasukkannya kedalam tas ranselku. Aku pergi meninggalkan rumahku dengan cepat, tanpa menghiraukan Mama yang sedang duduk di sofa dan menutupi wajahnya.
           

                 Karena hari ini aku memiliki janji dengan Tom untuk memainkan Gamebotku di hutan, maka aku pergi menuju rumahnya.
             
             Dret…Dret ponselku bergetar di dalam saku.
            “Ya, Tom. Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu.”
            Tidak, Helena. Kau tunggu aku saja di stasiun. Aku akan menyusulmu.”
            “Oh begitu, baiklah. Jangan membuatku lama menunggu.”
            Kau takkan menunggu lebih dari 10 menit, aku berjanji.”
            “Iya baiklah iya, cepat ya. Dah.”
             Aku menutup telepon. Tidak sopan, ya
?

             Baiklah, aku mengubah arah tujuanku. Maka aku berhenti untuk menunggu bis yang akan mengantarku menuju stasiun.[]

Selasa, 24 Juni 2014

The Magic of Gamebots


9. Pertempuran Kantin

                Hari ini aku memilih untuk langsung pulang saja, aku rasa perkataan Tom di atap rumahnya kemarin ada benarnya juga, aku harus bersiap siaga di rumah, agar aku bisa melerai pertengkaran Mama dan Papa, jika itu terjadi. Tom sempat memintaku untuk menemaninya membeli buku kimia, tetapi aku menolaknya, jadi dia putuskan untuk membelinya sendirian. Hari ini Ella tak mengganggu Tom dengan kiriman surat dan sebatang cokelat darinya, itu sebabnya Tom terlihat senang dengan kata “akhirnya!”.
                Suasana di rumah masih sama seperti biasanya, sunyi. Papa masih bekerja di kantor, tetapi aku takut dia pulang cepat dan meneruskan pekerjaannya di rumah, karena Papa terkadang suka begitu.
Aku menghampiri Mama yang sedang menonton acara gossip.
             
“Hai Ma.” Aku menyapanya.
             “Hai sayang, lihatlah, sebentar lagi Avril Lavigne akan datang ke Los Akirema, bukankah kau menyukainya?” Mama menunjuk-nunjuk tv dengan remot.
              Mataku mebelalak, dadaku terasa bergejolak, aku sangat bahagia!
             “Ya, Ma! Aku sangat menyukainya!” Aku berteriak histeris.
             “Ya, itu berarti kau akan menontonnya sayang!” Mama menyeringai.
Terlintas di benakku tentang perceraiannya, seketika aku terdiam.
              “Helena, ada apa?” Mama memegang bahuku.
                Aku mengehela nafas dan mulai berbicara, “Mama, pada saat pembelian tiket, itu berarti Mama dan Papa sudah bercerai, apa Mama mempunyai uang untuk membelikanku tiket?” Aku berkata dengan sangat hati-hati.
                Mama terdiam, dan menundukkan kepalanya. Aku sudah salah berkata, sial. Aku masih menunggu Mama berbicara.
                Mama menghela nafas, dan menatapku, Mama mengusap pipiku, dia tertawa kecil, “Tentu saja Mama punya, apa yang Mama tidak punya untuk anak Mama yang manis ini?” Mama tersenyum.
                Aku langsung memeluk Mama, “Terimakasih, Mama.” Aku membenamkan wajahku ke dalam perut Mama.
               
Ternyata Mama dan Papa tak bertengkar. Mereka berdua hidup di satu atap, tetapi mereka berdua terlihat seperti orang asing, tak bertutur sapa sama sekali.
Semenjak hari pertengkaran itu, Papa tidur di sofa, dan sering membeli makanan sendiri dari luar. Aku belum melihat Mama menangis lagi, tetapi aku berani bertaruh bahwa dia sangat pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku tahu Mama sedang stress menghadapi perceraiannya. Sudah empat hari aku tak berbicara pada Papa, itu karena aku yang terus-menerus menjauhinya. Papa pernah mengetuk kamarku pada malam hari ketika aku sedang menonton televisi, tetapi aku tak membukakannya sama sekali.
Mimpiku masih sama, dihiasi oleh binatang-binatang darat. Aku dan Brian jalan-jalan memasuki hutan, aku menceritakan hari-hariku di sekolah, termasuk tentang Ella. Brian bilang, aku tak harus khawatir akan Ella, anggap saja dia sebagai Dwayne, yang sukanya memprovokasi orang-orang. Mulai dari sekarang, aku mencoba untuk mengganti wajah Ella menjadi Dwayne setiap kali aku melihatnya. Baiklah, mari kita pergi ke sekolah, beruntungnya ini hari Jum’at.
                Hari ini Ella tak berceloteh kepadaku di bis, aku harus berterimakasih padanya. Aku berhasil melihat Ella sebagai Dwayne, rasanya menggelitik, jika aku sedang berada di rumah sendirian, mungkin aku akan tertawa sambil berguling-guling.
Sejauh ini, hariku terasa sangat indah. Aku menceritakan mimpiku pada Tom, dia tak sanggup menahan tawa ketika aku menceritakan bagian Ella yang harus kuanggap menjadi Dwayne seekor anjing bulldog.
              “Andaikan saja aku mengetahui bagaimana rupa anjing bernama Dwayne itu, mungkin akan lebih ekstrim.” Tom tertawa lebih keras sehingga orang-orang di bis menatapnya sinis.
              “Berhentilah!” Aku tertawa mengikutinya.
                “Selamat menikmati harimu, Helena.” Kata Ella tersenyum saat mendahuluiku turun dari bis.
Sangat aneh, terkena virus apa dia? Tetapi, itu lebih baik, biarkan saja.
“Apa kau senang Ella tak mengganggu kita lagi?” Tom bertanya padaku.
              “Sebenarnya aku sedikit ragu, tetapi biarkan sajalah.” Aku menjawabnya.
“Hai teman-teman, lihat, ada gelandangan!” Federick anak kelas 11 berteriak menunjukku, lalu teman-temannya tertawa melihatku.
                Aku menghentikan langkahku, begitupun Tom. Siapa yang dia sebut gelandangan?
               “Siapa yang kau sebut gelandangan?” Aku mengerutkan keningku bertanya pada Federick.
               “Apa kau tidak menyadarinya?! Tentu saja kau!” Federick kembali tertawa bersama teman-temannya.
                Dadaku terasa panas, aku mengepalkan tanganku dan menghampirinya.
               “Helena!” Tom menarik tanganku, tapi ku elakkan tanganku dengan cepat.
Aku meremas kerah baju Federick, “Apa maksudmu?!” Aku berkata dengan segenap emosiku di depan wajahnya.
              Teman-temannya diam dan hanya bisa menonton.
             Wow, santailah, kau bisa melihat madding jika kau ingin mengetahuinya.” Federick membalas dengan suara tercekiknya.
             “Madding?” aku mengerutkan keningku.
             “Ya, dan sekarang, lepaskan tanganmu!” pinta Federick.
             “Ayo Helena!” Tom tiba-tiba menarik lenganku dan membawaku berlari.
              Aku menengok ke belakang untuk melihat Federick, dia sedang melihatku juga dengan tangannya yang mengelus-elus lehernya, aku memberinya jari tengahku sebelum aku kembali menengok ke depan.
Orang-orang menertawakanku ketika aku sedang berlari bersama Tom, tetapi aku tak mempeduikannya, aku ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di madding.

Aku dan Tom menghentikan langkah kaki, orang-orang sedang mengerumuni papan madding, sebagian orang melihatku, dan mereka menertawakanku, dadaku semakin panas.
Aku menerobos kerumunan hingga aku berada di depan papan madding. Tertempel sebuah kertas karton yang terlihat seperti artikel, tetapi yang kulihat ini bukan seperti artikel. Disana terdapat gambarku yang sedang mengenakan celana jeans berwarna biru pudarku yang memiliki robekan besar di kedua lututnya, dan memakai kaos putih polos yang sedikit memiliki noda hitam disana-sini. Disana disebutkan,
Apa kalian pikir pakaian seperti ini pantas dipakai? Menurutku tidak, jika kalian tidak memiliki pakaian lagi, aku sarankan untuk tak pergi kemanapun, Karena jika kalian lebih memilih untuk menggunakan pakaian seperti gadis di gambar itu, aku berkata jujur, kalian akan sangat terlihat menjijikan seperti gadis di gambar tersebut. Tidak hanya itu, kalian hanya akan mempermalukan sekolah kalian, karena sudah tak berpakaian dengan baik dan benar, dan tidak mencerminkan seorang siswa. Coba saja kalian cari gelandangan yang sedang mabuk di pinggir jalan, penampilannya sangat sama dengan gadis di gambar itu. Maka dari itu, kalian sudah tahu apa panggilan untuk gadis dalam gambar di samping tersebut.” 
Sedari tadi aku sudah mengepalkan tanganku, nafasku terengah-engah menahan emosi.
Aku pergi meninggalkan madding dan kerumunan, aku mencari Ella si kacamata tolol, aku sangat ingin meninjunya saat ini juga.
Aku berjalan cepat menuju kelas Ella, aku tak mendengar kata-kata mereka yang mengejekku.
“Apa masalahku denganmu?!” Aku menarik kerah baju Ella yang sedang asyik tertawa bersama Giena dan  Darnilia.
               Aku meremas kerah bajunya sekuat yang kubisa.
              “Lepaskan..” Ella berkata dengan suara tercekiknya dan terlihat kaget saat melihatku.
               Aku mendorong kasar tubuhnya pada tembok.
Tiba-tiba bel masuk bordering.
               Seluruh anak memasuki kelas dengan terburu-buru karena takut Bu Hera, pengawas sekolahku yang menakutkan datang memeriksa lorong-lorong kelas.
 “Aku akan menghancurkanmu saat jam istirahat tiba!” Aku menguatkan remasanku pada kerahnya, dan kemudia melepaskannya. Aku berjalan memasuki kelas.
               
Aku sama sekali tak bisa fokus untuk belajar atau menyerap semua yang dikatakan Prof. Hendrik di lab kimia. Tiba-tiba Tom memegang lenganku.
              Aku meliriknya.
             “Jangan terlalu dibawa emosi.” Tom berkata padaku dan tersenyum.
             “Apa kau gila?! Aku sama sekali tak bisa diam sedari tadi, aku ingin cepat-cepat menghajar si tolol Ella itu pada jam istirahat.” Aku berbisik padanya dengan nada tinggi, aku tak mau sampai terdegar oleh Prof. Hendrik. “Dan kau, jangan coba-coba untuk menahanku.” Aku menambahkan.
             “Dengan senang hati, aku takkan menahanmu.” Tom tersenyum.
               Aku membalas senyumannya.

 Bel istirahat akhirnya berbunyi. Aku sudah tak sabar untuk pergi menghajar si Ella tolol itu. Aku bersama Tom bergegas menuju kantin. Aku meminta Tom untuk membawakanku jatah makanan sementara aku mencari Ella.
Mataku mencari Ella diantara orang-orang yang berlalu lalang kesana-kemari, dan, fuck yeah! Aku menemukannya sedang berjalan membawa nampan.
 Aku menghampirinya dengan cepat dari belakang, aku membalikkan tubuhnya dengan kasar dan mendorongnya sampai jatuh dan terkena tumpahan makanan dan minuman dari nampannya. Semua orang mengalihkan perhatiannya padaku dalam sekejap.
               “Helena, kau jahat!” Darnlia mendorong perutku, walau sebenarnya aku tak terdorong sama sekali.
               “Diam!” Aku membentaknya, dan dia kembali mundur bersama Giena.
               “Dasar gelandangan!” Ella bangkit dan membersihkan sisa-sisa makanan di bajunya.
               “Apa kau bilang?!” Aku menarik kerah bajunya.
“Hey!” Seseorang berteriak diantara kehiningan.
                Ternyata Chrisani Dinistiina Siniatinin, gadis berpostur tubuh sempurna, karena dia seorang atlit lari, memiliku kulit coklat matang yang sempurna, dia sangat seksi menurtku.
               “Hentikan! Apa-apaan kau ini?!” Dia melepaskan tanganku dari Ella.
               “Apa masalahmu?!” Aku membentaknya.
               “Tunggu, ada apa ini, Helena?” Jasy Nidranes, teman satu kelasku, dia menghampiriku dengan sepatu rodanya, dia sering diejek karena tubuhnya yang gemuk.
               “Dia, si Ella tolol ini, memanggilku gelandangan karena aku suka memakai jeans robekku!” Aku menunjuk-nunjuk wajah Ella.
               “Apa?!” Jasy tertawa terbahak-bahak, “Dia kampungan sekali!” Jasy meneruskan.
               “Diam kau gendut!” Chrisani memotong tawanya.
               “Apa kau hitam?!” Jasy balas mengejek.
Tak kusadari, kini orang-orang di kantin telah memisahkan diri menjadi dua kubu. Sebagian ada yang menaikki meja dan kursi. Aku menaikki meja di belakangku.
“Teman-teman, mereka adalah sekumpulan remaja yang tidak tahu gaya hidup!” Aku berteriak memimpin.
               “YA!” mereka mengiya-kan dengan serempak.
“Kalian hanya sekumpulan gelandangan, hanya bisa mempermalukan diri sendiri!” Ella berteriak memprovokasi kubunya. “YA!” Kubunya pun serentak meng-iyakan.
               “Diam kau Ella tolol!” Aku menunjuknya.
               “Apa kau gelandangan?!” Ella membalas.
               “Kalian semua kampungan!” Jasy berteriak.
               “Diam kau gendut!” Chrisani membalas.
               “Apa kau hitam?!” Teriak Jassy.
Kami semua saling mengejek satu sama lain, hingga menghasilkan kegaduhan di seluruh sudut kantin.
“Diam kau!” Tom berteriak dan berdiri di sampingku.
                Aku mengatai Ella dengan kata-kata kasar, kami semua saling menghina kepada kubu yang berbeda.
Seseorang membuka pintu, kami semua serentak menutup mulut, kami takut Bu Hera mendatangi kantin. Kami melirik ke arah pintu. Ternyata dia adalahSaner  Dunivinger, dia mengendarai skateboardnya.
               Dia berhenti di antara kedua kubu, dia menaikkan skateboardnya. “Hey, ada apa?!” Dia mengerutkan keningnya kebingungan.
              “Wow, satu lagi gelandangan berskateboard.” Ella mengejek Saner, dan teman-teman di belakangnya menertawakan Saner.
                Siapa yang tidak tahu Saner, dia selalu membawa skateboardnya kemana-mana, dia berpakaian sama sepertiku, bedanya, dia selalu memakai kemeja.
               “Kepada siapa dia berkata?” Saner bertanya padaku.
               “Kepadamu.” Aku menjawab dengan menaikkan kedua alisku.
Saner menaikkan alis kanannya, dia melirik nampan berisi jatah makanan yang masih utuh di samping kakiku. Dia berjalan dan mengambil beefburger lalu melemparkannya plak! tepat mengenai wajah Ella. Aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Chrisani melemparkan kotak susu pada Jasy. Jasy menghampiri Chrisani lalu menyundul perutnya.
 Aku berlari meninju Ella sampai dia terjatuh. Aku menyiraminya dengan kotak susu. Setelah itu, aku mencari keberadaan Tom, aku masih tak melihatnya. Yang kulihat adalah, Jasy yang sedang lihai berlari dengan sepatu rodanya, mengambil beefburger dari nampan-nampan di atas meja, dan melemparnya pada orang-orang yang sedang menyerangi kubu kami. Darnilia dan Giena hanya berdiri berpegangan tangan di atas meja dan menangis. Aku melihat Saner meninju Federick dan sesekali menggunakan skateboardnya untuk memukul orang yang tiba-tiba menyerangnya. Aw! Seseorang meninjuku, aku menendangnya dengan kaki kananku tanpa melihat wajahnya sampai dia terjatuh.
Aku melihat Tom! Dia sedang meninju.. aku tak tahu siapa,
             “Tom!” Aku berteriak memanggilnya.
             “Helena!” Tom menyaut.
              Aku dan dia sama-sama berlari untuk mendekat. Jasy berlari menghalangi jalanku, lalu dikejar oleh Chrisani dengan cepat. Aku kembali berlari menghampiri Tom.
             “Helena! Apa kau tidak apa-apa?!” Tom memegangi wajahku.
             “Ya, hanya terkena tinju satu kali oleh..aku tak tahu siapa, tapi aku sudah membereskannya, juga Ella.” Nafasku terengah-engah.
Saner berjalan menggunakan skateboardnya, melayangkannya untuk menendang orang-orang dari kubu Ella.
              “Tom! Ayo kita tolong Jasy!” aku berlari menghampir Jasy yang sedang dikepung oleh Chrisani dan dua temannya.
Aku menarik baju temannya dan meninjunya dengan keras, sementara Tom mendorong temannya yang satu lagi hingga jatuh. Chrisani meninju Jasy hingga hidungnya berdarah, Jasy balas mendorongnya dan menendang perutnya dengan sepatu rodanya hingga Chrisani terjatuh dan kesakitan.
              “Rasakan itu, hitam!” Teriak Jasy puas.
“DIAM!” Seseorang berteriak dengan volume seperti Brian, kami semua diam. Itu adalah Bu Hera, oh sial!
Aku melihat kubu kami yang menang, karena aku melihat kubu Ella yang kebanyakan tergeletak di lantai.
“KALIAN SEMUA DALAM MASALAH!” Teriak Bu Hera dengan matanya yang menyeramkan. []

The Magic of Gamebots


8. Perlombaan Mencari Sepasang Sepatu

                Sekarang pasti Papa sudah ada di rumah, aku sama sekali malas untuk pulang, aku terlalu benci dengan situasi yang sedang ku alami.
“Helena, bukankah ada baiknya jika kau pulang ke rumah? Setidaknya, kau bisa melerai jika terjadi pertengkaran antara Mama dan Papamu.” Tom berkata denganku dengan gugup.
                Dengan sekejap perkataanya menekan pikiran dan hatiku lebih dalam lagi, aku sama sekali tak mau menatapnya, aku tak kuasa menahan air mataku, aku biarkan air mataku mengalir di pipiku selagi aku memandangi pemandangan pemukiman penduduk dan jalanan dari atap rumah Tom.
                “Sial, bodohnya aku Helena. Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk membuatmu menangis.” Tom memegang lenganku, tetapi mataku masih tak berpindah arah.
                 Aku menggelengkan kepalaku agar Tom mengerti maksudku bahwa dia tak bersalah.
               “Helena,” Tom mencoba untuk mengalihkan perhatianku, tetapi aku masih tak tergoda untuk melihatnya, aku tak tega membuat Tom menjadi sedih dibuatnya.
               “Helena, lihat aku!” Tom menarik kedua lenganku, memaksaku agar melihatnya.
                 Aku menunduk menyembunyikan isakan tangisku.
                “Sejak kapan kau lemah seperti ini? Katakan padaku, apa kau percaya semua ini akan terjadi?!” Tom berbicara dengan nada tingginya, aku masih tak menghiraukannya. “Oh, ya, tentu saja, semuanya akan terjadi jika kau hanya diam dan menangis seperti ini, tanpa ada usaha untuk meyakinkan Mama dan Papamu sebelum surat gugatan cerai itu dikirim ke pengadilan!” Lanjutnya, dia masih belum berhasil untuk meyakinkanku.
                 Tom terdiam, lalu dia menaikkan daguku dengan kasar sehingga aku tak sempat menahannya. Tom menatap mataku tajam, aku membalas tatapannya ditemani dengan isakan tangisku.
                “Pengecut.” Tom mengataiku.
                 Dadaku semakin panas dan sesak.
                 Aku melepaskan tangannya dari daguku. “Kau sama sekali tak merasakannya, kau sama sekali tak merasakannya!” Aku membentaknya, tangisanku semakin kencang.
               “Apa?” Tom tertawa mengejekku, “Lalu bagaimana pendapatku tentang Ayahku yang hanya pulang selama tiga tahun sekali dan kadang lebih atas alasan pekerjaannya sebagai nahkoda?! Meninggalkan Ibu dan aku dan hanya mengirimkan sebuah amplop berisikan secarik kertas bernominal uang setiap satu tahun?!” Tanya Tom dengan emosinya yang memuncak, matanya berkaca-kaca.
              “Tetapi setidaknya Ayah dan Ibumu masih bersama sebagai suami-istri!” Aku membalas.
              “Lalu bagaimana pendapatmu jika ternyata Ayahku diam-diam berhubungan dengan wanita lain disana tanpa sepengetahuan aku dan Ibuku?! Bagaimana jika dia tak peduli sama sekali dengan kami disini?! Bagaimana pendapatmu?!” Matanya mulai meneteskan air mata.
               Aku tak pernah melihat Tom seperti ini sebelumnya, aku sama sekali tak menyangka Tom akan berkata seperti ini, aku tak bisa bicara apa-apa lagi.
               “Dan itu sudah lebih dari cukup membenaniku selama bertahun-tahun.” Tambahnya. “Ayolah Helena, aku merasakan Hal yang sama sepertimu, aku ingin kau meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.” Tom mendekatiku, dia mengusap air mata di pipiku.
              Perasaanku bercampur tak karuan, aku merasa kesal karena aku merasa Tom memojokkanku terus menerus, aku merasa sedih untukku sendiri, aku merasa gelisah mempertimbangkan perkataannya, dan hatiku ikut terseret ke dalam beban Tom tentang Ayahnya.
Dengan cepat aku berlari meninggalkannya di atap, aku meninggalkan rumahnya tanpa berpamitan pada Ibu Tom karena kebetulan aku tak tahu dimana keberadaannya, aku pulang.
               
Papa sedang tidur di kamarnya, Mama sedang sibuk menonton sinetron kesukaannya. Aku menjatuhkan diriku pada ranjang, dan menangis sekencang-kencangnya. Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang, aku sangat marah pada dirikku sendiri.
Aku terus menangis hingga akhirnya mataku lelah untuk melakukannya lagi, aku memejamkan mataku.
                “Bersiap,” Para binatang menunjukkan kesiapannya, “Mulai!” Aku menaikkan sehelai daun pisang untuk menandakan perlombaan dimulai.
Mereka semua mulai berlarian dan bercerai-berai mencari sepasang sepatuku yang kusembunyikan secara terpisah. Mereka terus menerus merecokkiku dengan pertanyaan “Siapa yang akan kau keluarkan terlebih dahulu pada hari sabtu nanti?” setelah aku menceritakan rencanaku bersama Tom untuk memainkan gamebotku, maka aku adakan lomba mencari sepatuku saja, dua binatang yang berhasil menemukannya, maka dia yang akan ku keluarkan terlebih dahulu dari Gamebot.
“Ayo teman-teman!” Aku menyemangati.
 Sebagian mencari di dalam hutan, dan sebagian lagi mencari di sekitar lapangan, dan menceburkan diri ke dalam sungai. Seekor iguana menyeburkan diri ke dalam sungai.
              “Hey kau iguana!” Aku memanggillnya.
                Iguana itupun melihatku. “Ya, ada apa?” Dia menjawab sambil berenang.
              “Hati-hati, jangan sampai terbawa arus!” Aku berteriak memperingati.
              “Tidak akan!” Dia membalas lalu menenggelamkan diri mulai mencari.
Franky mencari sepatuku dengan cara memasukkan kepalanya ke dalam kepala pohon. Brian mulai memasuki hutan setelah mencari di sekitar lapangan. Seekor grumpy cat hanya mengangkat sebuah batu dan meletakannya kembali pada tanah secara berulang-ulang.
Jack berlari kesana-kemari, lalu dia menghampiri Troy dan menaikkan buntunya, “Ah, tidak ada!” Lalu berlari lagi dan melakukan hal yang sama pada binatang lainnya.
              “Hey, Jack, aku tak akan mungkin menyembunyikannya pada pantat kalian, coba cari di tempat lain.” Aku berteriak padanya.
              “Oh, sial! Baiklah!” Lalu dia berlari memasukki hutan.
YES!” Franky berteriak dengan sangat keras, kepalanya keluar dari pohon, dia menemukan sepatu kananku, dia menggigitnya dan berlari gembira ke arahku.
               Dia menurunkan lehernya, dan memberikan sepatu kepadaku. “Akhirnya! Woohoo! Aku akan keluar!” Dia sangat girang dan menari-nari di depanku.
              “Ya, selamat Franky!” Aku menyeringai senang.
                Franky berlari kesana-kemari merayakan kemenangannya.
“Helena,” aku melihat ke bawah, Dwayne berdiri di dekat kaki kananku.
               “Ya, Dwayne, ada apa?” Aku bertanya.
               “Bisakah kau beri tahu padaku dimana letak sepatu yang satunya lagi? Ya, kau tahu, aku sangat ingin melihat duniamu.” Dia menggodaku untuk memberitahunya.
                Aku tertawa, “Tidak, Dwayne. Jika yang lain berusaha agar menemukannya, kau juga harus begitu.” Aku tersenyum padanya.
              “Oh, sial!” Dia menunduk dan kembali mencari sepatuku.
                Dwayne mencium kesana-kemari dengan hidungnya.
“YEAH! Akhirya aku menemukannya!” Seekor kuda poni putih dan berambut merah muda keluar dari hutan dan berlari ke arahku.
                 Dia menyerahkan sepatu kiriku. “Akhirnya aku keluar!” Kuda poni ini bekata dengan gembira dan mengetuk-ngetukkan kakinya pada tanah.
               “Ya, tentu saja! Siapa namamu?” Aku mengelus rambutnya.
               “Gwen.” Dia menyundulkan kepalanya padaku.
Aku menaikki batu besar di sebelahku, “Teman-teman! Kita sudah enemukan pemenangnya!” Aku berteriak menyerukan bahwa perlombaan sudah selesai.
              “Oh, sial.” “Tidak!” Itulah keluhan yang kudengar gaduh.
              “Troy! Bantu aku memanggil para binatang yang masih di dalam hutan!” Aku berteriak meminta bantuan pada Troy.
               Troy segera menaikkan belalainya dan mulai meraung. Tak lama, binatang lainnya sudah memadati lapangan.
“Teman-teman, kita sudah mendapatkan pemenangnya! Fanky dan Gwen!” Aku berteriak mengumumkan. Dan kembali para binatang mengeluh menciptakan kegaduhan.


                Kali ini, aku akan memintamaaf pada Tom karena telah membuatnya menangis kemarin. Aku berjalan menghampiri kursi bis yang biasa aku dan Tom tempati.
 “Awas, teman-teman! Helena Si Gelandangan mau lewat!” Ella beteriak membuat seluruh anak di bis menertawakanku.
               “Diam kau!” Aku mendorongnya hingga dia duduk kembali.
             “Aku akan membuatmu malu, lihat saja!” Ancam Ella padaku, tetapi aku tak peduli dan berjalan menghampiri tempatku.
             “Hai Helena, apa kau membawakan cokelat dari Swiss untuk kami?” Darnilia menahan langkahku.
             “Oh, tidak, maafkan aku.”Jawabku.
              Raut wajah Darnilia dan Giena yang semua terlihat gembira menjadi terlihat kecewa.
Aku duduk di sebelah Tom, sementara dia memandang keluar jendela pura-pura tak melihatku. Aku diam bersiap untuk meminta maaf.
Aku mengehela nafas, aku memegang lengannya, Tom menegokkan wajahnya padaku dengan tatapan dinginnya.
             “Maafkan aku soal kemarin.” Aku ragu dia akan memaafkanku sekarang, karena dia sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun.
            “Baiklah, aku memang pecundang, kau benar, dan aku payah. Maaf sudah membuatmu membicarakan Ayahmu, maaf sudah membuatmu menangis.” Aku masih menunggunya berbicara. “Ini sudah kedua kalinya kau marah padaku di dalam bis.” Aku menambahkan.
              Tomakhirnya melihatku dan tertawa kecil, lalu dia menghela nafas, “Sebenarnya, aku juga ingin meminta maaf sudah membentakmu lagi, padahal aku sudah berjanji padamu untuk tak melakukannya lagi.” Tom akhirnya berkata.
              Aku tertawa geli “Oh, ya, kau melanggarnya. Maka dari itu, hari ini kau harus mentraktirku minuman di kantin.” Aku menaik-turunkan halisku menggodanya.
              Tom menghela nafasnya, “Baiklah, satu gelas jus stroberi.”. []