Summertime

Kamis, 21 Agustus 2014

The Magic of Gamebots



12. Tamasnya di Hari Sabtu


“Baiklah, Tom. Kita akan lihat, bagaimana benda ajaib ini bekerja.” Aku menghela nafas dan menatapi Gamebot ditanganku.
Aku dan Tom telah sampai di tengah-tengah hutan, kurasa.
Aku telah mencari kendaraan yang bisa mengantarkan aku dan Tom menuju hutan, tetapi tidak ada yang memiliki tujuan satu arah dengan kami. Akhirnya aku dengan ragu bertanya pada seorang pria berkemeja kotak-kotak dan hijau merah dan sepatu boots di dekat restroran khas Cina sedang meneguk minuman kalengnya. Aku bertanya apakah aku bisa menumpang pada mobilnya, dan pria tersebut bertanya kemana aku akan pergi, aku berkata bahwa aku akan pergi menuju hutan nasional, dan dengan mengejutkan sekaligus membuatku senang pria tersebut berkata bahwa dia juga akan pergi menuju tempat yang sama untuk mengambil beberapa kayu yang sudah harus ditebang.
                Aku dan Tom duduk di belakang bersama angin-angin yang berhembus kencang meniupi tubuh kami selama dalam perjalanan.
                Pria tersebut sempat bertanya kebingungan padaku dan Tom apa yang akan kami lakukan di sebuah hutan. Aku mengklarifikasi dengan cepat bahwa aku dan Tom bukan sepasang kekasih dan kami tidak memiliki niat untuk melakukan seks di sebuah hutan. Sungguh jawaban yang bodoh. Tidakkah aku bisa menjawabnya dengan alasan yang normal saja?
Lalu Tom berkata bahwa kami memiliki tugas penelitian dari sekolah, dan pria tersebut mengangguk dan tak banyak bertanya lagi.
Aku dan Tom berterimakasih pada pria yang memberikan kami tumpangan tadi tetapi pria itu tersenyum geli pada kami berdua lalu meninggalkan kami. Dasar pria tua aneh.
Aku dan Tom berjalan memasuki hutan dan mencari tempat yang tidak banyak dikunjungi para wisatawan ataupun para pekemah.

“Helena, apa kau yakin?” Tanya Tom saat kami berdua sudah berada di tempat yang jauh dari para wisatawan dan pekemah.
                Dia terlihat ragu, sepertinya.
Aku menghela nafas dan mulai menekan tombol ON/OFF Gamebotku. Dilayar kecil Gamebot ini terdapat menu, ya bisa kubilang begitu.
                Ada 3 pilihan, yaitu:
- MAMALIA
- REPTILIA
- UNGGAS
Lalu kupilih MAMALIA. Setelah itu, muncul kalimat “Please Choose A Category”. Beberapa huruf alphabet muncul. Oh, mungkin huruf-huruf ini menunjukan huruf pertama dari nama-nama binatang. Aku memilih huruf G untuk ‘Giraffe’.  Karena hanya ada 3 jerapah, maka sudah jelas kupilih Franky.
Choose Another One” perintah Gamebot ini. Lalu aku melakukan hal yang sama, hayna saja aku memilih huruf H untuk ‘Horse’ dan memilih Gwen.
Bagian kepala dari Gamebotku lalu terbuka.
“BersiapTom!” Aku tersenyum menggoda Tom.
Jaring-jaring matriks keluar dari kepala Gamebotku seperti pertama kali aku melihatnya. Jaring-jaring matriks ini menggambarkan kerangka tubuh Franky dan Gwen dengan matriks sebelum akhirnya menjadi seperti nyata.
“Wow, Helena.” Mata Tom membelalak memandangi Franky dan Gwen.
Tom mendekati kedua binatang yang sedang berdiam diri itu perlahan. Dia mulai menyentuh Gwen lalu mengusap rambutnya.
“Ini, nyata.” Tom tersenyum kagum.
Aku tersenyum padanya.
“Franky, Gwen, bersikap biasalah. Kalian bisa memakan rumput-rumput ini jika kalian mau.” Aku mulai memerintah.
Benar! Franky dan Gwen bergerak seperti hewan-hewan nyata pada umumnya.
“Indah sekali!” Tom tak henti-hentinya mengagumi Franky dan Gwen.
“Lalu, apa lagi?” Tanyaku.
Tom menaikkan alis kirinya dan tersenyum padaku. “Menurutmu?”
Aku diam berusaha membaca senyum sarkatisnya.
Aku memandangi Franky dan Gwen, lalu mengalihkannya pada Tom, berharap aku bisa membaca maksud Tom. Tunggu… mengapa kita tidak menunggangi mereka saja? Maksudku, Franky dan Gwen! Oh mengapa aku terlalu lamban berpikir!
“Ya Tom, aku mengerti!” Aku bekata dengan penuh semangat.
Aku berjalan cepat menghampiri Gwen.
“Baiklah, aku menunggangi Gwen, dan kau Franky. Setuju?” Aku berkata selagi aku mengusap-usap rambut Gwen.
“Setuju!” Tom sepakat.
“Franky, duduklah.” Aku memerintah.
“Hebat!” Tom berlari meninggalkan aku dan Gwen lalu kemudian menunggangi Franky.
Aku menunggangi Gwen dengan kakiku yang tak berpijak.
“Franky, berdirilah.” Aku memerintahnya lagi, “Gwen, Franky, mari kita berjalan mengelilingi hutan!”


                Aku dan Tom bersama Franky dan Gwen berkeliling hutan dan berlari sesekali jika kita melihat ada seorang manusia. Kami berfoto bersama, dan tertawa dengan semua tipuan matriks ini.


                Kupustukan untuk berhenti di antara pepohonan yang menyembunyikan keberadaan kami untuk beristirahat sejenak. Aku dan Tom duduk dan menyandarkan tubuh kami pada sebuah pohon yang kami tak ketahui jenisnya.

                Aku menangkap sebotol air mineral yang Tom lemparkan padaku. Aku meneguk minuman itu sampai habis lalu membuang botolnya ke sembarang tempat.
                “Helena, ini sangat menyenangkan!” Tom tertawa.
                “Sudah kupastikan kali ini kau tak meragukan Gamebot itu lagi.” Kataku.
                “Lalu kenapa kau tidak coba keluarkan lebih banyak binatang saja?” Tom mengelap kacamatanya dengan bajunya.
                “Kau kira aku ingin menciptakan sebuah kebun binatang?” Aku tertawa, “Dua tunggangan saja sudah cukup jika hanya untuk melakukan tamasya keliling hutan.”
                Tom memakai kacamatanya kembali, “Masuk di akal.”

                Aku memandangi langit biru dari celah-celah daun yang bersingunggan, mendengar kicauan burung-burung, dan juga bunyi daun-daun yang tertiup oleh angin.
 
                Tiba-tiba saja ponselku bergetar di dalam ranselku, memecahkan kesunyian. Nama dan foto Papa tertera di layar ponselku. Aku langsung mengangkatnya dengan cepat.
                Helena, sedang dimana kau?!” Suara Papa terdengar keras hingga Tom dapat mendengarnya.
                Tom mendekatkan dirinya di sisiku.
                Aku mencoba menenangkan diriku agar tak terdengar panik oleh Papa. “Aku sedang bersama Tom, Papa.”
                “Ini sudah hampir larut malam!”  Katanya dengan nada tinggi, “Sedang apa kau hingga tak mengangkat telepon dariku?!” Tambahnya.
                Papa, aku sedang melakukan penelitian bersama Tom di Akirema. Aku tak sempat mengecek ponselku.” Kataku dengan tenang.
                PULANG!” Papa membentakkan suaranya.
                Berikan ponselnya padaku! Bukan seperti itu caranya berbicara pada putrimu!” Aku mendengarkan suara Mama, yang sepertinya sedang berada di belakang Papa.
                “Mama?” Aku memanggil Mama.
                Helena, ya, ini Mama.” Mama menyaut, “Pulanglah sekarang juga, ada hal penting yang harus Mama sampaikan.” Lanjutnya.
                “Menyampaikan hal penting seperti apa?” Aku bertanya.
                Tiba-tiba terdengar suara isakan tangis. Sementara Mama masih diam tak membalas.
                “Mama?! Ada apa?!” Aku berkata lebih keras dan dengan refleks menegakkan tubuhku.
                Pulang cepat, hati-hati selama kau dalam perjalanan. Mama menunggumu. Aku sayang padamu.”
                Mama menutup percakapan dengan cepat.
                Aku mulai panik, pikiranku tak karuan. Nafasku terengah-engah.
                “Helena, tenanglah!” Tom memengangi pundakku.
                “Tom, kita harus pulang sekarang juga. Hal yang buruk sedang terjadi pada Mama.” Aku berdiri dan menghampiri Gwen.
                “Baiklah.” Tom menyusul langkahku.


                Membutuhkan waktu 15 menit, kurang-lebih, untuk sampai di dekat mulut jalanan.

                “Baiklah, jalan-jalan hari ini sudah selesai.” Kataku, “Terimakasih Franky, Gwen.” Aku mengakhiri.
                Aku lalu menekan tombol ON/OFF.
                Bagian kepala Gamebot terbuka, dan keluarlah kembali jaring-jaring matriks meyedot Franky dan Gwen menjadi kerangka matriks lalu bersatu menjadi jaring-jaring matriks ke dalam Gamebot.
                “Wow, keren.” Tom berkata tanpa ekspresi.
Aku memasukan Gamebot ke dalam ranselku.
“Tom, kita harus pulang dengan cepat!” Aku menarik lengan Tom dan berlari.
Aku tak memiliki waktu untuk menanggapi kekagumannya pada Gamebot pemberian Ibunya. Kau mau aku bilang apa lagi? Gamebot ini lebih keren dari apapun yang kau akan sebut keren. Percayalah padaku.


“Aku membawa uangku yang sengaja aku kumpulkan untuk hari ini.” Tom berkata selagi kami berlari mengejar waktu.
                “Lalu?” Aku bertanya.
                “Uangnya masih tersisa, mungkin kita bisa naik taksi, Helena.” Katanya.
Aku berhenti mendadak sehingga tubuh Tom terhentikan olehku.
Aku menyeringai padanya. Aku menghampirinya lalu mencium pipinya.
                “Kau jenius!” Aku menarik lengannya dan menyeretnya lagi untuk berlari.
                Tetapi, Tom menahan langkahnya dengan kuat yang membuatku berhenti juga.
Tom tersenyum dan tertawa kecil tanpa aku tahu apa yang dia tertawakan.
                “Berlari lebih cepat!” Tom menarik lenganku dan memimpin langkah kami berdua. []

Rabu, 02 Juli 2014

The Magic of Gamebots

Buat yang belum baca chapters sebelumnya, bisa klik>> Los Akirema, Intoduction, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 ;)

11. Trio 16 Tahun di Dalam Kereta Api

                Aku tak perlu lama menunggu Tom di stasiun, karena tak lama setelah aku sampai di stasiun, Tom sudah datang menemuiku. Dia selalu tepat waktu.
                Kami memutuskan untuk pergi menuju Hutan Nasional Akirema di Kota Losakirema Timur.
                Tom tidak bisa mengendarai mobil, itu kenapa kami memutuskan untuk pergi naik kereta api. Meskipun dia mempunyai mobil pemberian Ayahnya, tetapi dia sama sekali tak pernah mengendarainya. Aku pernah meminta Tom untuk mencobanya, tetapi dia menolak setengah-mati. Aku tak tahu kenapa, terkadang dia bersikap keras kepala dan sulit ditebak.
              
               
“Tom, aku terkena skors selama satu minggu.” Aku memulai percakapan di dalam kereta.
                “Apa?!” Tom mengerutkan dahinya seolah tak percaya, atau mungkin memang benar dia tak percaya. “Itu menyebalkan sekali!” Dia menambahkan.
                “Ya, memang menyebalkan. Tapi, mau bagaimana lagi?” Kataku, “Aku anggap saja sebagai liburan. Mungkin akan sedikit terdengar lebih baik daripada dikatakan sebagai hukuman atas tragedi ‘Pertempuran Kantin’. Iya, kan?” Aku menambahkan.
                Tom menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela kereta. “Itu artinya kau tidak akan masuk sekolah selama satu minggu.”
                “Ya, seperti itulah persisnya.” Aku menyandarkan diri.
                Tom hanya memfokuskan pandangannya pada dunia di luar jendela, tanpa mengalihkannya sama sekali. Aku tidak tahu kenapa. Ah, sudahlah, sudah kubilang, dia itu terkadang sulit ditebak. Biarkan saja.
 
                “Helena?”
                Seseorang mengejutkan lamunanku. Aku tidak menyangka, Jassy berada dalam satu kereta denganku!
                “Hey, Jassy!” Aku berdiri dan memeluknya.
                Jassy membalas pelukanku. “Helena! Aku tak menyangka kita berada dalam satu kereta!”
                “Sama persis denganku!” Aku membalas.
                “Hey Tom.” Jassy melambaikan tangannya.
                Tanpa kusadari Tom sedang berdiri dan tersenyum menyambut Jassy. Semoga saja kali ini dia tidak bersikap dingin kepadaku.
                “Hey Jassy.” Tom menyeringai.
                “Oh, ya, duduklah bersama kami.” Aku mengajaknya duduk di sisiku.
                “Ya, tentu, terimakasih.” Jassy bergabung bersama aku dan Tom.
                “Jadi, apakah kau sendirian?” Tanyaku pada Jassy.
                “Ya, aku akan mengunjungi rumah Bibi Rose. Setiap hari libur aku sering berkunjung kesana. Jika kau mau, kau bisa ikut denganku.” Kata Jassy.
                Aku tertawa, “Sebenarnya aku ingin ikut denganmu, tetapi aku dengan Tom memiliki daftar kegiatan yang sangat penting, kurang-lebih.” Aku melirik Tom yang sedang menyeringai setiap kali aku dan Jassy bercakap-cakap.
                “Ya, mungkin minggu-minggu selanjutnya kami bisa ikut berkunjung.” Balas Tom.
                “Hebat! Bibi Rose pasti senang jika aku mengajak teman-temanku ke rumahnya.” Jassy terlihat lebih riang dari biasanya.
                Aku dan Tom menyeringai. (Semoga saja aku dan Tom tak terlihat seperti sepasang kambing yang bodoh).
                “Jassy, apakah bekas pukulan Chrisani masih terasa sakit?” Aku bertanya dibumbui keraguanku.
                Jassy tertawa terbahak-bahak yang mengejutkanku tiba-tiba. “Tidak, sama sekali tidak.” Jassy tersenyum.
                “Ya, itu adalah berita yang baik.” Aku tersenyum kepada Jassy.

                Jassy mengeluarkan satu batang coklat dari tasnya, lalu dia mulai mengupas bungkusnya.


                Gadis yang gemar bermain sepatu roda itu menyodorkan coklat-nya padaku dan Tom. “Kalian mau? Jangan khawatir, aku tidak keberatan jika aku membaginya dengan kalian.”
                “Tidak, Jassy. Aku sedang diet.” Aku menyeringai.
                Tiba-tiba saja mata Jassy mengarah pada seluruh tubuhku, tetapi dia mengarahkan pandangannya kembali pada wajahku dengan segera. “Oh, baiklah.” Katanya menyeringai.
Jika kau ingin tahu, badanku ini sudah cukup kurus. Mungkin jika benar aku sedang menjalani diet, aku sedang berencana untuk melamar pekerjaan sebagai kerangka manusia di lab biologi sekolahku.

                “Ya, mungkin Tom agak sedikit lapar.”Kataku pada Jassy .
                Aku melirik Tom yang sedang menaikkan alisnya dan membelalakkan matanya, mungkin dia sedang kebingungan.
                “Apa? Oh, tidak, Jassy. Sungguh, aku sudah memakan roti isi daging asap pagi ini.” Tom terlihat sibuk dengan tangannya yang tak bisa diam.
                “Baiklah-baiklah, kalau tidak mau juga tidak apa-apa.” Jassy akhirnya memakan coklatnya, tanpa kehilangan satu gigitanpun.



Asal kau tahu saja, dua minggu yang lalu, Lauren si anak perpustakaan menerima sepotong coklat yang di tawarkan Jassy, dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Jassy merobek-robek buku yang sedang di pegang Lauren, dan berkata “Beraninya kau mengambil bagian dari coklatku, aku hanya ingin terlihat tidak pelit, bukannya bersungguh-sungguh ingin membaginya denganmu!”
               
Jika kali ini aku dan Tom mengambil sepotong coklat miliknya, mungkin saja wajah kami berdua yang akan Jassy robek-robek, karena kami sedang tidak memegang apa-apa di tangan kami. Bukannya aku dan Tom takut padanya, tetapi kami tidak mau membuat keributan di dalam kereta api, sangat tidak elegan. Aku juga tidak tertarik dengan coklat yang sedang dimakannya itu. Walaupun.. uh, coklatnya terlihat enak dengan kacang almond di dalamnya.. OH TIDAK! Jangan memaksaku, oke?

“Oh, ya!” Jassy berbicara dengan mulutnya yang masih penuh dengan coklat yang mencair. “Bicara soal kabar baik, aku memiliki kabar yang sangat baik.” Katanya menambahkan.
                “Nah, jika kau meu membaginya dengan aku dan Tom, kami akan menerimanya.” Kataku.
                “Ella terkena skors selama satu minggu!” Jassy menelan coklat yang tadi dikunyahnya, lalu tertawa.

Wow, ternyata aku dan Ella mendapatkan hukuman yang sama. Sangat mengecewakan, tadinya aku berharap Ella akan dikeluarkan dari West High School.

Tom mengehela nafas. “Sayangnya Helena juga mendapat hukuman yang sama.”
                Jassy mengerutkan keningnya, “Tiduk sangat tidak adil!” Jassy menggigit coklatnya dengan ganas.
                “Ya, aku tahu itu. Sangat menyebalkan.” Aku membalas.
Kereta telah berhenti. Tidak kusadari kami sudah sampai di Stasiun Kereta Api Losakirema Timur.

“Apa kalian yakin tidak akan ikut denganku?” Jassy mengulangi tawarannya kepadaku dan Tom, sebelum kami berpisah.
                “Tidak, Jassy. Terimakasih.” Aku tersenyum meyakinkan.
                “Baiklah, sampai bertemu lagi, Dah!” Dengan sepatu rodanya Jassy meninggalkan aku dan Tom di stasiun.


“Tom, apa kau tahu kendaraan seperti apa yang bisa mengantarkan kita menuju hutan?” Aku melirik Tom ragu sebelum berjalan meninggalkan stasiun.
                Tom memutar bola matanya. “Tidak.”[]

Rabu, 25 Juni 2014

The Magic Of Gamebots


10. Aku Terkena Skors Satu Minggu 

            Aku gelisah, meskipun aku sedang menonton serial Glee di tv, tetapi jantungku berdetak tak karuan, begitupun dengan pikiranku.

“Helena.”
             Seketika aku menarik nafasku, aku sangat kaget. Rasanya seperti kau sedang merokok sembunyi-sembunyi di kamar mandi tetapi kau lupa untuk mengunci pintunya lalu Ayahmu tiba-tiba membukanya.
Mama sudah pulang, dia menaruh tasnya di atas meja.
 Mama sudah memenuhi panggilan dari pihak sekolah tentang keterkaitanku dalam Pertempuran Kantin kemarin. Aku tak tahu siapa saja yang orang-tuanya dipanggil, tetapi yang aku tahu, Tom hanya menerima surat peringatan saja dari sekolah. Aku tak tahu apa hukuman dari sekolah yang akan aku terima, mungkin saja aku sudah resmi dikeluarkan dari West High School. Ah, tidak, jangan berpikir yang tidak-tidak.
Aku masih menunggu Mama berbicara, yang aku rasakan saat ini, keadaan terasa sangat mencekam. Mama masih berdiri dengan kedua tangannya di pinggang. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja dan tidak terlihat tegang.
Mama menghela nafas, “Helena, kau terkena skors selama satu minggu.” Mama akhirnya berkata dengan dingin, “Bersyukurlah kau hanya menerima hukuman seringan itu setelah kau membuat banyak orang babak belur.” Mama menambahkan.
Aku mengembuskan nafasku dengan perasaan yang sangat lega, kau tahu, rasanya seperti pantatmu sedang terbakar lalu kau merendamkannya ke dalam satu ember penuh dengan air.
“Ya, tentu saja, aku sangat bersyukur.” Aku menyeringai dengan perasaanku yang bahagia.
              Mama masih menatapku dingin, “Tetapi jika sekali lagi saja kau membuat kekacauan, kau akan di keluarkan, dan tak akan ada satupun sekolah di Los Akirema yang akan menerimamu.”
              Dengan seketika bahuku kembali menegang dan nafasku kembali tersendat. Aku menggaruk kepalaku meskipun sebenarnya aku tidak merasa sedang gatal. Satu kali lagi? Yang benar saja, kau tahu aku harus menghajar si tolol Ella lebih dari satu kali.
             “Bagaimana bisa kau melakukan hal brutal seperti itu?! Kau selalu mempermalukan kedua orang-tuamu saja!” Mama membentakku dengan suara terkeras yang dia bisa keluarkan.
“Kedua orang-tua?” Aku balik bertanya dengan dingin.
             Mama terlihat sangat terkejut dengan perkataanku, Mama terdiam dengan nafasnya yang terengah-engah.
            “Aku merasa tidak memiliki orang tua lagi.” Aku berkata dengan sinis. (Jika kau melihat seorang anak berprilaku seperti ini kepada Ibunya di dalam sinetron mungkin kau akan menyumpahiku setengah mati).
             “Lalu kau anggap apa Mama dan Papamu?!” Mama mengepalkan kedua tangannya, matanya berkaca-kaca.
             “Seorang orang-tua tidak akan pernah memandang peran anaknya dengan sebelah mata.” Aku membalas dengan nafasku yang terengah-engah karena menahan emosi.
             “Apa yang kau maksud?!” Mama menahan tangisannya.
              Sebenarnya aku benci jika melihat Mama menangis, aku membenci diriku sendiri karena aku membuat Mama menangis, tetapi, aku harus mengatakannya agar Mama tahu betapa tersiksanya aku dengan perceraiannya yang akan datang.
             “Tidakkah Mama berpikir?! Selama ini aku tersiksa, aku merasa hancur mengingat kedua orang-tuaku yang selalu kubanggakan ternyata memiliki egois yang sangat tinggi!” Aku berdiri dari sofa yang kududuki, “Aku, satu-satunya anak dari kalian, sama sekali tidak cukup kuat untuk menjadi alasan kalian untuk bertahan! Sebenarnya apa arti aku bagi Mama dan Papa?!” Aku mengeluarkan segenap amarahku kedalam kata-kataku.
              “Cukup!” Mama berkata dengan sangat keras, “Cukup Helena! Yang kau harus lakukan hanyalah menjadi anak yang patuh, jangan mengacau lagi di sekolahmu! Hanya itu!” Mama menunjuk-nunjukku dengan matanya yang merah karena menangis.
               “Waktuku di sini mungkin hanya tinggal..” Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, Rabu. 5 hari, aku menghitung dalam hati.”5 hari. Setelah itu mungkin aku akan pergi ke Swiss bersama Mama! Jadi apa salahnya jika aku menghajar orang-orang bodoh itu?!” Aku berkata dengan lantang, lalu bergegas meninggalkan Mama.
                “Helena!” Mama berteriak memanggil-manggil namaku. Tetapi aku tak menghiraukannya.
            Aku menggambil Gamebot dari dalam laciku lalu memasukkannya kedalam tas ranselku. Aku pergi meninggalkan rumahku dengan cepat, tanpa menghiraukan Mama yang sedang duduk di sofa dan menutupi wajahnya.
           

                 Karena hari ini aku memiliki janji dengan Tom untuk memainkan Gamebotku di hutan, maka aku pergi menuju rumahnya.
             
             Dret…Dret ponselku bergetar di dalam saku.
            “Ya, Tom. Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu.”
            Tidak, Helena. Kau tunggu aku saja di stasiun. Aku akan menyusulmu.”
            “Oh begitu, baiklah. Jangan membuatku lama menunggu.”
            Kau takkan menunggu lebih dari 10 menit, aku berjanji.”
            “Iya baiklah iya, cepat ya. Dah.”
             Aku menutup telepon. Tidak sopan, ya
?

             Baiklah, aku mengubah arah tujuanku. Maka aku berhenti untuk menunggu bis yang akan mengantarku menuju stasiun.[]

Selasa, 24 Juni 2014

The Magic of Gamebots


9. Pertempuran Kantin

                Hari ini aku memilih untuk langsung pulang saja, aku rasa perkataan Tom di atap rumahnya kemarin ada benarnya juga, aku harus bersiap siaga di rumah, agar aku bisa melerai pertengkaran Mama dan Papa, jika itu terjadi. Tom sempat memintaku untuk menemaninya membeli buku kimia, tetapi aku menolaknya, jadi dia putuskan untuk membelinya sendirian. Hari ini Ella tak mengganggu Tom dengan kiriman surat dan sebatang cokelat darinya, itu sebabnya Tom terlihat senang dengan kata “akhirnya!”.
                Suasana di rumah masih sama seperti biasanya, sunyi. Papa masih bekerja di kantor, tetapi aku takut dia pulang cepat dan meneruskan pekerjaannya di rumah, karena Papa terkadang suka begitu.
Aku menghampiri Mama yang sedang menonton acara gossip.
             
“Hai Ma.” Aku menyapanya.
             “Hai sayang, lihatlah, sebentar lagi Avril Lavigne akan datang ke Los Akirema, bukankah kau menyukainya?” Mama menunjuk-nunjuk tv dengan remot.
              Mataku mebelalak, dadaku terasa bergejolak, aku sangat bahagia!
             “Ya, Ma! Aku sangat menyukainya!” Aku berteriak histeris.
             “Ya, itu berarti kau akan menontonnya sayang!” Mama menyeringai.
Terlintas di benakku tentang perceraiannya, seketika aku terdiam.
              “Helena, ada apa?” Mama memegang bahuku.
                Aku mengehela nafas dan mulai berbicara, “Mama, pada saat pembelian tiket, itu berarti Mama dan Papa sudah bercerai, apa Mama mempunyai uang untuk membelikanku tiket?” Aku berkata dengan sangat hati-hati.
                Mama terdiam, dan menundukkan kepalanya. Aku sudah salah berkata, sial. Aku masih menunggu Mama berbicara.
                Mama menghela nafas, dan menatapku, Mama mengusap pipiku, dia tertawa kecil, “Tentu saja Mama punya, apa yang Mama tidak punya untuk anak Mama yang manis ini?” Mama tersenyum.
                Aku langsung memeluk Mama, “Terimakasih, Mama.” Aku membenamkan wajahku ke dalam perut Mama.
               
Ternyata Mama dan Papa tak bertengkar. Mereka berdua hidup di satu atap, tetapi mereka berdua terlihat seperti orang asing, tak bertutur sapa sama sekali.
Semenjak hari pertengkaran itu, Papa tidur di sofa, dan sering membeli makanan sendiri dari luar. Aku belum melihat Mama menangis lagi, tetapi aku berani bertaruh bahwa dia sangat pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku tahu Mama sedang stress menghadapi perceraiannya. Sudah empat hari aku tak berbicara pada Papa, itu karena aku yang terus-menerus menjauhinya. Papa pernah mengetuk kamarku pada malam hari ketika aku sedang menonton televisi, tetapi aku tak membukakannya sama sekali.
Mimpiku masih sama, dihiasi oleh binatang-binatang darat. Aku dan Brian jalan-jalan memasuki hutan, aku menceritakan hari-hariku di sekolah, termasuk tentang Ella. Brian bilang, aku tak harus khawatir akan Ella, anggap saja dia sebagai Dwayne, yang sukanya memprovokasi orang-orang. Mulai dari sekarang, aku mencoba untuk mengganti wajah Ella menjadi Dwayne setiap kali aku melihatnya. Baiklah, mari kita pergi ke sekolah, beruntungnya ini hari Jum’at.
                Hari ini Ella tak berceloteh kepadaku di bis, aku harus berterimakasih padanya. Aku berhasil melihat Ella sebagai Dwayne, rasanya menggelitik, jika aku sedang berada di rumah sendirian, mungkin aku akan tertawa sambil berguling-guling.
Sejauh ini, hariku terasa sangat indah. Aku menceritakan mimpiku pada Tom, dia tak sanggup menahan tawa ketika aku menceritakan bagian Ella yang harus kuanggap menjadi Dwayne seekor anjing bulldog.
              “Andaikan saja aku mengetahui bagaimana rupa anjing bernama Dwayne itu, mungkin akan lebih ekstrim.” Tom tertawa lebih keras sehingga orang-orang di bis menatapnya sinis.
              “Berhentilah!” Aku tertawa mengikutinya.
                “Selamat menikmati harimu, Helena.” Kata Ella tersenyum saat mendahuluiku turun dari bis.
Sangat aneh, terkena virus apa dia? Tetapi, itu lebih baik, biarkan saja.
“Apa kau senang Ella tak mengganggu kita lagi?” Tom bertanya padaku.
              “Sebenarnya aku sedikit ragu, tetapi biarkan sajalah.” Aku menjawabnya.
“Hai teman-teman, lihat, ada gelandangan!” Federick anak kelas 11 berteriak menunjukku, lalu teman-temannya tertawa melihatku.
                Aku menghentikan langkahku, begitupun Tom. Siapa yang dia sebut gelandangan?
               “Siapa yang kau sebut gelandangan?” Aku mengerutkan keningku bertanya pada Federick.
               “Apa kau tidak menyadarinya?! Tentu saja kau!” Federick kembali tertawa bersama teman-temannya.
                Dadaku terasa panas, aku mengepalkan tanganku dan menghampirinya.
               “Helena!” Tom menarik tanganku, tapi ku elakkan tanganku dengan cepat.
Aku meremas kerah baju Federick, “Apa maksudmu?!” Aku berkata dengan segenap emosiku di depan wajahnya.
              Teman-temannya diam dan hanya bisa menonton.
             Wow, santailah, kau bisa melihat madding jika kau ingin mengetahuinya.” Federick membalas dengan suara tercekiknya.
             “Madding?” aku mengerutkan keningku.
             “Ya, dan sekarang, lepaskan tanganmu!” pinta Federick.
             “Ayo Helena!” Tom tiba-tiba menarik lenganku dan membawaku berlari.
              Aku menengok ke belakang untuk melihat Federick, dia sedang melihatku juga dengan tangannya yang mengelus-elus lehernya, aku memberinya jari tengahku sebelum aku kembali menengok ke depan.
Orang-orang menertawakanku ketika aku sedang berlari bersama Tom, tetapi aku tak mempeduikannya, aku ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di madding.

Aku dan Tom menghentikan langkah kaki, orang-orang sedang mengerumuni papan madding, sebagian orang melihatku, dan mereka menertawakanku, dadaku semakin panas.
Aku menerobos kerumunan hingga aku berada di depan papan madding. Tertempel sebuah kertas karton yang terlihat seperti artikel, tetapi yang kulihat ini bukan seperti artikel. Disana terdapat gambarku yang sedang mengenakan celana jeans berwarna biru pudarku yang memiliki robekan besar di kedua lututnya, dan memakai kaos putih polos yang sedikit memiliki noda hitam disana-sini. Disana disebutkan,
Apa kalian pikir pakaian seperti ini pantas dipakai? Menurutku tidak, jika kalian tidak memiliki pakaian lagi, aku sarankan untuk tak pergi kemanapun, Karena jika kalian lebih memilih untuk menggunakan pakaian seperti gadis di gambar itu, aku berkata jujur, kalian akan sangat terlihat menjijikan seperti gadis di gambar tersebut. Tidak hanya itu, kalian hanya akan mempermalukan sekolah kalian, karena sudah tak berpakaian dengan baik dan benar, dan tidak mencerminkan seorang siswa. Coba saja kalian cari gelandangan yang sedang mabuk di pinggir jalan, penampilannya sangat sama dengan gadis di gambar itu. Maka dari itu, kalian sudah tahu apa panggilan untuk gadis dalam gambar di samping tersebut.” 
Sedari tadi aku sudah mengepalkan tanganku, nafasku terengah-engah menahan emosi.
Aku pergi meninggalkan madding dan kerumunan, aku mencari Ella si kacamata tolol, aku sangat ingin meninjunya saat ini juga.
Aku berjalan cepat menuju kelas Ella, aku tak mendengar kata-kata mereka yang mengejekku.
“Apa masalahku denganmu?!” Aku menarik kerah baju Ella yang sedang asyik tertawa bersama Giena dan  Darnilia.
               Aku meremas kerah bajunya sekuat yang kubisa.
              “Lepaskan..” Ella berkata dengan suara tercekiknya dan terlihat kaget saat melihatku.
               Aku mendorong kasar tubuhnya pada tembok.
Tiba-tiba bel masuk bordering.
               Seluruh anak memasuki kelas dengan terburu-buru karena takut Bu Hera, pengawas sekolahku yang menakutkan datang memeriksa lorong-lorong kelas.
 “Aku akan menghancurkanmu saat jam istirahat tiba!” Aku menguatkan remasanku pada kerahnya, dan kemudia melepaskannya. Aku berjalan memasuki kelas.
               
Aku sama sekali tak bisa fokus untuk belajar atau menyerap semua yang dikatakan Prof. Hendrik di lab kimia. Tiba-tiba Tom memegang lenganku.
              Aku meliriknya.
             “Jangan terlalu dibawa emosi.” Tom berkata padaku dan tersenyum.
             “Apa kau gila?! Aku sama sekali tak bisa diam sedari tadi, aku ingin cepat-cepat menghajar si tolol Ella itu pada jam istirahat.” Aku berbisik padanya dengan nada tinggi, aku tak mau sampai terdegar oleh Prof. Hendrik. “Dan kau, jangan coba-coba untuk menahanku.” Aku menambahkan.
             “Dengan senang hati, aku takkan menahanmu.” Tom tersenyum.
               Aku membalas senyumannya.

 Bel istirahat akhirnya berbunyi. Aku sudah tak sabar untuk pergi menghajar si Ella tolol itu. Aku bersama Tom bergegas menuju kantin. Aku meminta Tom untuk membawakanku jatah makanan sementara aku mencari Ella.
Mataku mencari Ella diantara orang-orang yang berlalu lalang kesana-kemari, dan, fuck yeah! Aku menemukannya sedang berjalan membawa nampan.
 Aku menghampirinya dengan cepat dari belakang, aku membalikkan tubuhnya dengan kasar dan mendorongnya sampai jatuh dan terkena tumpahan makanan dan minuman dari nampannya. Semua orang mengalihkan perhatiannya padaku dalam sekejap.
               “Helena, kau jahat!” Darnlia mendorong perutku, walau sebenarnya aku tak terdorong sama sekali.
               “Diam!” Aku membentaknya, dan dia kembali mundur bersama Giena.
               “Dasar gelandangan!” Ella bangkit dan membersihkan sisa-sisa makanan di bajunya.
               “Apa kau bilang?!” Aku menarik kerah bajunya.
“Hey!” Seseorang berteriak diantara kehiningan.
                Ternyata Chrisani Dinistiina Siniatinin, gadis berpostur tubuh sempurna, karena dia seorang atlit lari, memiliku kulit coklat matang yang sempurna, dia sangat seksi menurtku.
               “Hentikan! Apa-apaan kau ini?!” Dia melepaskan tanganku dari Ella.
               “Apa masalahmu?!” Aku membentaknya.
               “Tunggu, ada apa ini, Helena?” Jasy Nidranes, teman satu kelasku, dia menghampiriku dengan sepatu rodanya, dia sering diejek karena tubuhnya yang gemuk.
               “Dia, si Ella tolol ini, memanggilku gelandangan karena aku suka memakai jeans robekku!” Aku menunjuk-nunjuk wajah Ella.
               “Apa?!” Jasy tertawa terbahak-bahak, “Dia kampungan sekali!” Jasy meneruskan.
               “Diam kau gendut!” Chrisani memotong tawanya.
               “Apa kau hitam?!” Jasy balas mengejek.
Tak kusadari, kini orang-orang di kantin telah memisahkan diri menjadi dua kubu. Sebagian ada yang menaikki meja dan kursi. Aku menaikki meja di belakangku.
“Teman-teman, mereka adalah sekumpulan remaja yang tidak tahu gaya hidup!” Aku berteriak memimpin.
               “YA!” mereka mengiya-kan dengan serempak.
“Kalian hanya sekumpulan gelandangan, hanya bisa mempermalukan diri sendiri!” Ella berteriak memprovokasi kubunya. “YA!” Kubunya pun serentak meng-iyakan.
               “Diam kau Ella tolol!” Aku menunjuknya.
               “Apa kau gelandangan?!” Ella membalas.
               “Kalian semua kampungan!” Jasy berteriak.
               “Diam kau gendut!” Chrisani membalas.
               “Apa kau hitam?!” Teriak Jassy.
Kami semua saling mengejek satu sama lain, hingga menghasilkan kegaduhan di seluruh sudut kantin.
“Diam kau!” Tom berteriak dan berdiri di sampingku.
                Aku mengatai Ella dengan kata-kata kasar, kami semua saling menghina kepada kubu yang berbeda.
Seseorang membuka pintu, kami semua serentak menutup mulut, kami takut Bu Hera mendatangi kantin. Kami melirik ke arah pintu. Ternyata dia adalahSaner  Dunivinger, dia mengendarai skateboardnya.
               Dia berhenti di antara kedua kubu, dia menaikkan skateboardnya. “Hey, ada apa?!” Dia mengerutkan keningnya kebingungan.
              “Wow, satu lagi gelandangan berskateboard.” Ella mengejek Saner, dan teman-teman di belakangnya menertawakan Saner.
                Siapa yang tidak tahu Saner, dia selalu membawa skateboardnya kemana-mana, dia berpakaian sama sepertiku, bedanya, dia selalu memakai kemeja.
               “Kepada siapa dia berkata?” Saner bertanya padaku.
               “Kepadamu.” Aku menjawab dengan menaikkan kedua alisku.
Saner menaikkan alis kanannya, dia melirik nampan berisi jatah makanan yang masih utuh di samping kakiku. Dia berjalan dan mengambil beefburger lalu melemparkannya plak! tepat mengenai wajah Ella. Aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Chrisani melemparkan kotak susu pada Jasy. Jasy menghampiri Chrisani lalu menyundul perutnya.
 Aku berlari meninju Ella sampai dia terjatuh. Aku menyiraminya dengan kotak susu. Setelah itu, aku mencari keberadaan Tom, aku masih tak melihatnya. Yang kulihat adalah, Jasy yang sedang lihai berlari dengan sepatu rodanya, mengambil beefburger dari nampan-nampan di atas meja, dan melemparnya pada orang-orang yang sedang menyerangi kubu kami. Darnilia dan Giena hanya berdiri berpegangan tangan di atas meja dan menangis. Aku melihat Saner meninju Federick dan sesekali menggunakan skateboardnya untuk memukul orang yang tiba-tiba menyerangnya. Aw! Seseorang meninjuku, aku menendangnya dengan kaki kananku tanpa melihat wajahnya sampai dia terjatuh.
Aku melihat Tom! Dia sedang meninju.. aku tak tahu siapa,
             “Tom!” Aku berteriak memanggilnya.
             “Helena!” Tom menyaut.
              Aku dan dia sama-sama berlari untuk mendekat. Jasy berlari menghalangi jalanku, lalu dikejar oleh Chrisani dengan cepat. Aku kembali berlari menghampiri Tom.
             “Helena! Apa kau tidak apa-apa?!” Tom memegangi wajahku.
             “Ya, hanya terkena tinju satu kali oleh..aku tak tahu siapa, tapi aku sudah membereskannya, juga Ella.” Nafasku terengah-engah.
Saner berjalan menggunakan skateboardnya, melayangkannya untuk menendang orang-orang dari kubu Ella.
              “Tom! Ayo kita tolong Jasy!” aku berlari menghampir Jasy yang sedang dikepung oleh Chrisani dan dua temannya.
Aku menarik baju temannya dan meninjunya dengan keras, sementara Tom mendorong temannya yang satu lagi hingga jatuh. Chrisani meninju Jasy hingga hidungnya berdarah, Jasy balas mendorongnya dan menendang perutnya dengan sepatu rodanya hingga Chrisani terjatuh dan kesakitan.
              “Rasakan itu, hitam!” Teriak Jasy puas.
“DIAM!” Seseorang berteriak dengan volume seperti Brian, kami semua diam. Itu adalah Bu Hera, oh sial!
Aku melihat kubu kami yang menang, karena aku melihat kubu Ella yang kebanyakan tergeletak di lantai.
“KALIAN SEMUA DALAM MASALAH!” Teriak Bu Hera dengan matanya yang menyeramkan. []