11. Trio 16 Tahun di Dalam Kereta Api
Aku tak
perlu lama menunggu Tom di stasiun, karena tak lama setelah aku sampai di
stasiun, Tom sudah datang menemuiku. Dia selalu tepat waktu.
Kami
memutuskan untuk pergi menuju Hutan Nasional Akirema di Kota Losakirema Timur.
Tom
tidak bisa mengendarai mobil, itu kenapa kami memutuskan untuk pergi naik
kereta api. Meskipun dia mempunyai mobil pemberian Ayahnya, tetapi dia sama
sekali tak pernah mengendarainya. Aku pernah meminta Tom untuk mencobanya,
tetapi dia menolak setengah-mati. Aku tak tahu kenapa, terkadang dia bersikap
keras kepala dan sulit ditebak.
“Tom, aku terkena skors selama satu minggu.” Aku memulai percakapan di dalam kereta.
“Apa?!” Tom mengerutkan dahinya seolah tak percaya, atau mungkin memang benar dia tak percaya. “Itu menyebalkan sekali!” Dia menambahkan.
“Ya, memang menyebalkan. Tapi, mau bagaimana lagi?” Kataku, “Aku anggap saja sebagai liburan. Mungkin akan sedikit terdengar lebih baik daripada dikatakan sebagai hukuman atas tragedi ‘Pertempuran Kantin’. Iya, kan?” Aku menambahkan.
Tom menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela kereta. “Itu artinya kau tidak akan masuk sekolah selama satu minggu.”
“Ya, seperti itulah persisnya.” Aku menyandarkan diri.
Tom
hanya memfokuskan pandangannya pada dunia di luar jendela, tanpa mengalihkannya
sama sekali. Aku tidak tahu kenapa. Ah, sudahlah, sudah kubilang, dia itu
terkadang sulit ditebak. Biarkan saja.
“Helena?”
Seseorang mengejutkan lamunanku. Aku tidak menyangka, Jassy berada dalam satu kereta denganku!
“Hey, Jassy!” Aku berdiri dan memeluknya.
Jassy membalas pelukanku. “Helena! Aku tak menyangka kita berada dalam satu kereta!”
“Sama persis denganku!” Aku membalas.
“Hey Tom.” Jassy melambaikan tangannya.
Tanpa kusadari Tom sedang berdiri dan tersenyum menyambut Jassy. Semoga saja kali ini dia tidak bersikap dingin kepadaku.
“Hey Jassy.” Tom menyeringai.
“Oh, ya, duduklah bersama kami.” Aku mengajaknya duduk di sisiku.
“Ya, tentu, terimakasih.” Jassy bergabung bersama aku dan Tom.
“Jadi, apakah kau sendirian?” Tanyaku pada Jassy.
“Ya, aku akan mengunjungi rumah Bibi Rose. Setiap hari libur aku sering berkunjung kesana. Jika kau mau, kau bisa ikut denganku.” Kata Jassy.
Aku tertawa, “Sebenarnya aku ingin ikut denganmu, tetapi aku dengan Tom memiliki daftar kegiatan yang sangat penting, kurang-lebih.” Aku melirik Tom yang sedang menyeringai setiap kali aku dan Jassy bercakap-cakap.
“Ya, mungkin minggu-minggu selanjutnya kami bisa ikut berkunjung.” Balas Tom.
“Hebat! Bibi Rose pasti senang jika aku mengajak teman-temanku ke rumahnya.” Jassy terlihat lebih riang dari biasanya.
Aku dan Tom menyeringai. (Semoga saja aku dan Tom tak terlihat seperti sepasang kambing yang bodoh).
“Jassy, apakah bekas pukulan Chrisani masih terasa sakit?” Aku bertanya dibumbui keraguanku.
Jassy tertawa terbahak-bahak yang mengejutkanku tiba-tiba. “Tidak, sama sekali tidak.” Jassy tersenyum.
“Ya, itu adalah berita yang baik.” Aku tersenyum kepada Jassy.
Seseorang mengejutkan lamunanku. Aku tidak menyangka, Jassy berada dalam satu kereta denganku!
“Hey, Jassy!” Aku berdiri dan memeluknya.
Jassy membalas pelukanku. “Helena! Aku tak menyangka kita berada dalam satu kereta!”
“Sama persis denganku!” Aku membalas.
“Hey Tom.” Jassy melambaikan tangannya.
Tanpa kusadari Tom sedang berdiri dan tersenyum menyambut Jassy. Semoga saja kali ini dia tidak bersikap dingin kepadaku.
“Hey Jassy.” Tom menyeringai.
“Oh, ya, duduklah bersama kami.” Aku mengajaknya duduk di sisiku.
“Ya, tentu, terimakasih.” Jassy bergabung bersama aku dan Tom.
“Jadi, apakah kau sendirian?” Tanyaku pada Jassy.
“Ya, aku akan mengunjungi rumah Bibi Rose. Setiap hari libur aku sering berkunjung kesana. Jika kau mau, kau bisa ikut denganku.” Kata Jassy.
Aku tertawa, “Sebenarnya aku ingin ikut denganmu, tetapi aku dengan Tom memiliki daftar kegiatan yang sangat penting, kurang-lebih.” Aku melirik Tom yang sedang menyeringai setiap kali aku dan Jassy bercakap-cakap.
“Ya, mungkin minggu-minggu selanjutnya kami bisa ikut berkunjung.” Balas Tom.
“Hebat! Bibi Rose pasti senang jika aku mengajak teman-temanku ke rumahnya.” Jassy terlihat lebih riang dari biasanya.
Aku dan Tom menyeringai. (Semoga saja aku dan Tom tak terlihat seperti sepasang kambing yang bodoh).
“Jassy, apakah bekas pukulan Chrisani masih terasa sakit?” Aku bertanya dibumbui keraguanku.
Jassy tertawa terbahak-bahak yang mengejutkanku tiba-tiba. “Tidak, sama sekali tidak.” Jassy tersenyum.
“Ya, itu adalah berita yang baik.” Aku tersenyum kepada Jassy.
Jassy
mengeluarkan satu batang coklat dari tasnya, lalu dia mulai mengupas
bungkusnya.
Gadis yang gemar bermain sepatu roda itu menyodorkan coklat-nya padaku dan Tom. “Kalian mau? Jangan khawatir, aku tidak keberatan jika aku membaginya dengan kalian.”
“Tidak, Jassy. Aku sedang diet.” Aku menyeringai.
Tiba-tiba saja mata Jassy mengarah pada seluruh tubuhku, tetapi dia mengarahkan pandangannya kembali pada wajahku dengan segera. “Oh, baiklah.” Katanya menyeringai.
Gadis yang gemar bermain sepatu roda itu menyodorkan coklat-nya padaku dan Tom. “Kalian mau? Jangan khawatir, aku tidak keberatan jika aku membaginya dengan kalian.”
“Tidak, Jassy. Aku sedang diet.” Aku menyeringai.
Tiba-tiba saja mata Jassy mengarah pada seluruh tubuhku, tetapi dia mengarahkan pandangannya kembali pada wajahku dengan segera. “Oh, baiklah.” Katanya menyeringai.
Jika kau ingin tahu, badanku ini
sudah cukup kurus. Mungkin jika benar aku sedang menjalani diet, aku sedang
berencana untuk melamar pekerjaan sebagai kerangka manusia di lab biologi
sekolahku.
“Ya, mungkin Tom agak sedikit lapar.”Kataku pada Jassy .
Aku melirik Tom yang sedang menaikkan alisnya dan membelalakkan matanya, mungkin dia sedang kebingungan.
“Apa? Oh, tidak, Jassy. Sungguh, aku sudah memakan roti isi daging asap pagi ini.” Tom terlihat sibuk dengan tangannya yang tak bisa diam.
“Baiklah-baiklah, kalau tidak mau juga tidak apa-apa.” Jassy akhirnya memakan coklatnya, tanpa kehilangan satu gigitanpun.
“Ya, mungkin Tom agak sedikit lapar.”Kataku pada Jassy .
Aku melirik Tom yang sedang menaikkan alisnya dan membelalakkan matanya, mungkin dia sedang kebingungan.
“Apa? Oh, tidak, Jassy. Sungguh, aku sudah memakan roti isi daging asap pagi ini.” Tom terlihat sibuk dengan tangannya yang tak bisa diam.
“Baiklah-baiklah, kalau tidak mau juga tidak apa-apa.” Jassy akhirnya memakan coklatnya, tanpa kehilangan satu gigitanpun.
Asal kau tahu saja, dua minggu
yang lalu, Lauren si anak perpustakaan menerima sepotong coklat yang di
tawarkan Jassy, dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Jassy merobek-robek
buku yang sedang di pegang Lauren, dan berkata “Beraninya kau mengambil bagian dari coklatku, aku hanya ingin terlihat
tidak pelit, bukannya bersungguh-sungguh ingin membaginya denganmu!”
Jika kali ini aku dan Tom mengambil sepotong coklat miliknya, mungkin saja wajah kami berdua yang akan Jassy robek-robek, karena kami sedang tidak memegang apa-apa di tangan kami. Bukannya aku dan Tom takut padanya, tetapi kami tidak mau membuat keributan di dalam kereta api, sangat tidak elegan. Aku juga tidak tertarik dengan coklat yang sedang dimakannya itu. Walaupun.. uh, coklatnya terlihat enak dengan kacang almond di dalamnya.. OH TIDAK! Jangan memaksaku, oke?
Jika kali ini aku dan Tom mengambil sepotong coklat miliknya, mungkin saja wajah kami berdua yang akan Jassy robek-robek, karena kami sedang tidak memegang apa-apa di tangan kami. Bukannya aku dan Tom takut padanya, tetapi kami tidak mau membuat keributan di dalam kereta api, sangat tidak elegan. Aku juga tidak tertarik dengan coklat yang sedang dimakannya itu. Walaupun.. uh, coklatnya terlihat enak dengan kacang almond di dalamnya.. OH TIDAK! Jangan memaksaku, oke?
“Oh, ya!” Jassy berbicara dengan
mulutnya yang masih penuh dengan coklat yang mencair. “Bicara soal kabar baik,
aku memiliki kabar yang sangat baik.” Katanya menambahkan.
“Nah, jika kau meu membaginya dengan aku dan Tom, kami akan menerimanya.” Kataku.
“Ella terkena skors selama satu minggu!” Jassy menelan coklat yang tadi dikunyahnya, lalu tertawa.
“Nah, jika kau meu membaginya dengan aku dan Tom, kami akan menerimanya.” Kataku.
“Ella terkena skors selama satu minggu!” Jassy menelan coklat yang tadi dikunyahnya, lalu tertawa.
Wow, ternyata aku dan Ella mendapatkan hukuman yang sama. Sangat mengecewakan, tadinya aku berharap Ella akan dikeluarkan dari West High School.
Tom mengehela nafas. “Sayangnya Helena juga mendapat hukuman yang sama.”
Jassy mengerutkan keningnya, “Tiduk sangat tidak adil!” Jassy menggigit coklatnya dengan ganas.
“Ya, aku tahu itu. Sangat menyebalkan.” Aku membalas.
Kereta telah berhenti. Tidak
kusadari kami sudah sampai di Stasiun Kereta Api Losakirema Timur.
“Apa kalian yakin tidak akan ikut
denganku?” Jassy mengulangi tawarannya kepadaku dan Tom, sebelum kami berpisah.
“Tidak, Jassy. Terimakasih.” Aku tersenyum meyakinkan.
“Baiklah, sampai bertemu lagi, Dah!” Dengan sepatu rodanya Jassy meninggalkan aku dan Tom di stasiun.
“Tidak, Jassy. Terimakasih.” Aku tersenyum meyakinkan.
“Baiklah, sampai bertemu lagi, Dah!” Dengan sepatu rodanya Jassy meninggalkan aku dan Tom di stasiun.
“Tom, apa kau tahu kendaraan
seperti apa yang bisa mengantarkan kita menuju hutan?” Aku melirik Tom ragu sebelum
berjalan meninggalkan stasiun.
Tom memutar bola matanya. “Tidak.”[]
Tom memutar bola matanya. “Tidak.”[]