5. Aku Berbicara Dengan Binatang
“Halo,
Helena.” Aku membalikkan badanku dengan cepat. Aku melihat seekor singa yang
baru saja keluar dari Gamebotku, tetapi aku tak tahu siapa yang baru saja
menyapaku.
Apa singa ini yang menyapaku?
“Siapa yang tadi menyapaku?” Aku bertanya dengan mataku yang mencari kesana kesini.
“Aku, Nyonya.” Aku melangkah mundur dan manarik nafasku agar tak berteriak karena melihat seekor binatang berbicara bahasa manusia. Singa itu yang memanggilku tadi!
“Tidak perlu takut, aku takkan menyakitimu, Nyonya.” Singa itu menekukkan kakinya lalu menundukkan kepalanya.
Wow, hebat, aku merasa seperti Ratu Inggris yang di hormati. Bedanya aku di hormati oleh binatang buas yang terkenal sebagai ‘Raja Hutan’. Aku lebih hebat, kurasa.
“Siapa kau? Dan sedang berada dimana aku?” Aku menengokkan kepalaku kesana dan kemari.
Apa singa ini yang menyapaku?
“Siapa yang tadi menyapaku?” Aku bertanya dengan mataku yang mencari kesana kesini.
“Aku, Nyonya.” Aku melangkah mundur dan manarik nafasku agar tak berteriak karena melihat seekor binatang berbicara bahasa manusia. Singa itu yang memanggilku tadi!
“Tidak perlu takut, aku takkan menyakitimu, Nyonya.” Singa itu menekukkan kakinya lalu menundukkan kepalanya.
Wow, hebat, aku merasa seperti Ratu Inggris yang di hormati. Bedanya aku di hormati oleh binatang buas yang terkenal sebagai ‘Raja Hutan’. Aku lebih hebat, kurasa.
“Siapa kau? Dan sedang berada dimana aku?” Aku menengokkan kepalaku kesana dan kemari.
Aku sedang berada di hutan,
dengan sungai yang mengalir membelahnya. Aku sedang berdiri membelakangi sungai
tersebut. Aku masih mengenakan pakaian yang sama, cro- top hitam polosku, high
waisted jeans berwarna jeans yang pudar dan terdapat robekan
di bagian paha, dan black-white converse
high canvas tanpa kaos kaki.
“Kau sedang berada di hutan, Nyonya. Tepatnya
kau sedang berada di kawasan hidup kami, daratan.” Sang singa menjawab, masih
menundukkan diri.
Aku mengerutkan keningku, aku kebingungan dengan apa yang dia bicarakan. “Apa yang kau maksud? Dan kenapa kau memanggilku nyonya?”
“Izinkan aku untuk memanggil teman-teman daratanku yang lainnya, Nyonya.” Singa itu masih saja menundukkan diri, membuatku malu saja. “Baiklah, panggil teman-temanmu, asalkan mereka takkan memakanku.”
Aku mengerutkan keningku, aku kebingungan dengan apa yang dia bicarakan. “Apa yang kau maksud? Dan kenapa kau memanggilku nyonya?”
“Izinkan aku untuk memanggil teman-teman daratanku yang lainnya, Nyonya.” Singa itu masih saja menundukkan diri, membuatku malu saja. “Baiklah, panggil teman-temanmu, asalkan mereka takkan memakanku.”
Sebenarnya aku tak punya cukup
nyali untuk mempersilahkannya memanggil binatang buas lainnya, mengingat bahwa
sebagian dari mereka adalah karnivora, baiklah, aku baik-baik saja. Oh, tidak!
Aku tidak baik-baik saja, seluruh tubuhku bergemetar! Seseorang, tolong aku!
“Perkenalkan, Nyonya.” Singa itu
mulai berdiri dan mengaum.
Oh tidak! Tolong aku, Tom tolong aku! Aku berjanji tidak akan mengacaukan Ella
lagi jika seseorang dapat menyelamatkanku dari sisni! Tarzan, tolong aku!
Aku berteriak meminta tolong di dalam hati. Ya, semoga saja ada orang tidak
waras yang mau memasuki hutan liar seperti ini hanya untuk menyelamatkan seorang
gadis yang tengil dan menyedihkan. Mungkin benar juga keputusan mereka untuk
lebih memilih tidak menyelamatkanku disini.
Semak-semak, dan pohon-pohon di sekelilingku mulai bergerak
dan berisik. Baiklah, aku harus bersiap-siap dengan menerima 2 kemungkinan: 1.
Aku akan mati sebagai Sushi Helena, 2. Atau aku akan mati sebagai gadis yang
belum menemukan bakatnya selama hidup di dunia. Sama sekali tidak ada yang
menguntungkan.
Sekarang aku melihat beberapa
ekor zebra, jerapah, gajah, harimau, komodo, kucing, beruang besar berwarna
cokelat, haina, jaguar berwarna hitam, dan binatang darat lainnya, yang
tentunya termasuk ke dalam kategori buas, mereka keluar dari balik pohon-pohon
itu. Binatang-binatang itu memadati lahan kosong yang berjarak 17 meter dari
hutan yang padat akan pepohonan, kurang-lebih.
Aku mulai berkeringat dan sesak
nafas, aku tak bisa bergerak sedikitpun, aku sangat takut.
“Jangan khawatir, Nyonya. Kami
takkan menyakitimu.” Kata sang singa. Singa itu lalu mengaum lagi, kali ini,
bukan hanya dia yang menundukkan badan, tetapi semua binatang yang ada di
hadapanku.
Wow, mereka ini sedang apa?!
“Tidak, bisakah kalian tidak menundukukkan badan seperti itu? Ya, kalian tahu, aku sedikit risih, aku sedikit merasa sendirian jika berdiri seperti ini.” Aku menyeringai. (Aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Tutup mulutmu, oke?)
“Tentu, Nyonya.” Sang singa berdiri, lalu diikuti oleh semua binatang lainnya.
“Nah, seperti ini lebih baik, kurasa, walaupun aku sedikit terlihat sangat pendek.” Aku menyeringai kembali, sambil melipat-lipat kedua telapak tanganku gugup.
“Aku Brian, Nyonya. Aku pemimpin dari semua binatang daratan” Singa itu menundukkan diri lalu berdiri lagi.
“Oh, Hai, Brian.” Aku menyeringai dan melambaikan tangan kananku padanya. Apa caraku melambaikan tangan sudah seperti Ratu Inggris? Semoga saja iya.
“Aku Bella,”
“Dan aku Darwin, Nyonya.” Sepasang monyet berteriak bergelantungan di pohon.
“Oh, Hai Bella dan Darwin.” Aku berteriak agar mereka bisa mendengarku dari pohon sana.
“Apa kau butuh tumpangan, Nyonya?”
Aku mencari siapa yang bertanya dengan suara yang sangat berat tadi.
“Disini, Nyonya.”
Aku melihat sisi kananku,
“Aku Troy, satu dari Gajah Afrika yang sudah hampir punah.” Gajah itu menunduk lalu berdiri lagi.
Oh, ternyata seekor Gajah. Tunggu, seekor Gajah?!
Aku terdiam sejenak mencerna pertanyaan Troy si gajah, dan kemudian aku menyadari bahwa Troy menawarkanku untuk menaikki punggungnya. “Oh, tidak, Troy. Maksudku, ya. Oh tidak, tidak.” Aku menyeringai.
“Kenapa, Nyonya?” Troy bertanya.
“Aku takut jika kalian keberatan, lagi pula, aku tak pernah menaikki seekor gajah yang besar sepertimu.” Aku menyeringai lagi. Duh, aku tak tahu harus bersikap apa lagi selain menyeringai. Aku harus bersikap manis agar aku tak diterkam oleh pasukan binatang-binatang ini.
“Tentu saja tidak, Nyonya.” Sang singa menjawab.
Wow, mereka ini sedang apa?!
“Tidak, bisakah kalian tidak menundukukkan badan seperti itu? Ya, kalian tahu, aku sedikit risih, aku sedikit merasa sendirian jika berdiri seperti ini.” Aku menyeringai. (Aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Tutup mulutmu, oke?)
“Tentu, Nyonya.” Sang singa berdiri, lalu diikuti oleh semua binatang lainnya.
“Nah, seperti ini lebih baik, kurasa, walaupun aku sedikit terlihat sangat pendek.” Aku menyeringai kembali, sambil melipat-lipat kedua telapak tanganku gugup.
“Aku Brian, Nyonya. Aku pemimpin dari semua binatang daratan” Singa itu menundukkan diri lalu berdiri lagi.
“Oh, Hai, Brian.” Aku menyeringai dan melambaikan tangan kananku padanya. Apa caraku melambaikan tangan sudah seperti Ratu Inggris? Semoga saja iya.
“Aku Bella,”
“Dan aku Darwin, Nyonya.” Sepasang monyet berteriak bergelantungan di pohon.
“Oh, Hai Bella dan Darwin.” Aku berteriak agar mereka bisa mendengarku dari pohon sana.
“Apa kau butuh tumpangan, Nyonya?”
Aku mencari siapa yang bertanya dengan suara yang sangat berat tadi.
“Disini, Nyonya.”
Aku melihat sisi kananku,
“Aku Troy, satu dari Gajah Afrika yang sudah hampir punah.” Gajah itu menunduk lalu berdiri lagi.
Oh, ternyata seekor Gajah. Tunggu, seekor Gajah?!
Aku terdiam sejenak mencerna pertanyaan Troy si gajah, dan kemudian aku menyadari bahwa Troy menawarkanku untuk menaikki punggungnya. “Oh, tidak, Troy. Maksudku, ya. Oh tidak, tidak.” Aku menyeringai.
“Kenapa, Nyonya?” Troy bertanya.
“Aku takut jika kalian keberatan, lagi pula, aku tak pernah menaikki seekor gajah yang besar sepertimu.” Aku menyeringai lagi. Duh, aku tak tahu harus bersikap apa lagi selain menyeringai. Aku harus bersikap manis agar aku tak diterkam oleh pasukan binatang-binatang ini.
“Tentu saja tidak, Nyonya.” Sang singa menjawab.
Aku melihat Troy berjalan
menghampiriku, belalainya berusaha meraihku dan melingkarkannya pada tubuhku.
“Oh, tidak Troy, pelan-pelan. Ah!” Aku berteriak.
Dalam hitungan detik aku sudah duduk menunggangi seekor gajah yang sangat besar. Aku menghadap pada ratusan binatang di depanku.
“Wow, sangat tinggi.” Aku melihat tanah di bawahku. Aku kembali melihat para binatang di depanku lagi, “Baiklah, jelaskan padaku mengapa Brian, kau serigala, beruang, jaguar, dan komodo bisa keluar dari Gamebotku.” Aku melantangkan suaraku dan menunjuk kelima binatang tersebut.
Baiklah, kurasa sekarang aku sudah tidak terlalu merasa ketakutan.
“Biarkan aku memperkenalkan diriku, Nyonya. Aku Sam, seekor jaguar hitam yang paling cepat dalam berlari.” Sam si jaguar menundukkan diri dan berdiri lagi.
“Aku Frank, si beruang kutub. Aku tidak tinggal di sini setiap saat, aku hanya akan datang jika kau membutuhkanku, Nyonya.” Frank si beruang menundukkan diri dan berdiri lagi.
“Aku Sally, komodo dari Pulau Komodo di Indonesia.” Sally si komodo menundukkan kepalanya lalu menaikkannya lagi.
“Wow, jauh sekali.” Komentarku.
“Dan aku Gary, serigala abu-abu.” Gary si serigala menundukkan diri dan berdiri lagi.
“Oh, tidak Troy, pelan-pelan. Ah!” Aku berteriak.
Dalam hitungan detik aku sudah duduk menunggangi seekor gajah yang sangat besar. Aku menghadap pada ratusan binatang di depanku.
“Wow, sangat tinggi.” Aku melihat tanah di bawahku. Aku kembali melihat para binatang di depanku lagi, “Baiklah, jelaskan padaku mengapa Brian, kau serigala, beruang, jaguar, dan komodo bisa keluar dari Gamebotku.” Aku melantangkan suaraku dan menunjuk kelima binatang tersebut.
Baiklah, kurasa sekarang aku sudah tidak terlalu merasa ketakutan.
“Biarkan aku memperkenalkan diriku, Nyonya. Aku Sam, seekor jaguar hitam yang paling cepat dalam berlari.” Sam si jaguar menundukkan diri dan berdiri lagi.
“Aku Frank, si beruang kutub. Aku tidak tinggal di sini setiap saat, aku hanya akan datang jika kau membutuhkanku, Nyonya.” Frank si beruang menundukkan diri dan berdiri lagi.
“Aku Sally, komodo dari Pulau Komodo di Indonesia.” Sally si komodo menundukkan kepalanya lalu menaikkannya lagi.
“Wow, jauh sekali.” Komentarku.
“Dan aku Gary, serigala abu-abu.” Gary si serigala menundukkan diri dan berdiri lagi.
“Baiklah, halo untuk semuanya.”
Aku menyeringai. “Brian, bisakah kau
jelaskan kepadaku?”
Brian menundukkan diri. “Baik, Nyonya. Di negara ini telah tersebar empat Gamebot Ajaib, masing-masing Gamebot memiliki binatang di dalamnya. Binatang Darat, Laut, Udara, dan Serangga. Dan kau, memiliki Gamebot yang memiliki binatang darat di dalamnya. Kami, akan menuruti segala apa yang kau perintah, karena kau adalah majikan kami. Jika Gamebot itu berpindah tangan, maka kau bukan majikan kami lagi. Kami bergantung pada pemilik Gamebot. Kami tak bisa berbicara di dunia nyata, tetapi kami bisa berbicara di dalam mimpi. Kami akan muncul jika kau memilih dua diantara kami pada menu awal, tetapi jika kau membutuhkan lebih dari dua, kau harus memainkan salah satu dari ke-12 permainan yang ada di dalam Gamebot milikmu dan menyelesaikan satu level untuk menambah dua binatang lagi. Begitupun seterusnya. Jika kau ingin kami pergi, tekan tombol ON/OFF.” Brian menjelaskan.
Wow, fantastis.
“Tetapi, kenapa bisa ada Gamebot seperti itu di dunia ini?” Tanyaku lagi.
“Pada 18 tahun yang lalu, ada seorang kakak-adik bersaudara bernama Kevin dan Sandra. Mereka sangat suka bermain dengan mainan mereka masing-masing. Suatu hari, mereka bermain Gamebot, dan berlomba meraih level dan score yang lebih tinggi. Saat itu sedang terjadi gerhana matahari total yang membuat seluruh kota gelap. Tetapi mereka tetap bersaing meraih angka yang lebih tinggi dari satu sama lain. Sampai mereka bertengkar, dan berteriak satu sama lain. Kevin berteriak bahwa 2 Gamebot yang dimilikinya bisa mengeluarkan binatang-binatang buas, dan bisa menggulung kakaknya, Sandra, dengan jaring laba-laba. Sementara Sandra berteriak bahwa 2 Gamebot miliknya juga bisa mengeluarkan burung elang yang bisa memangsa adiknya, Kevin, dan juga bisa merobek-robek tubuh Kevin dengan gigi seekor ikan hiu. Mereka bertengkar, sehingga kedua orangtuanya melarang mereka untuk bermain Gamebot lagi. Tanpa disadari dan diduga, kata-kata yang di ucapkan Kevin dan Sandrapun menjadi kenyataan. Kami sudah berada dalam benda yang disebut Gamebot selama 18 tahun dengan atas nama keajaiban. Sudah 18 tahun Gamebot milik Kevin dan Sandra tersimpan dalam sebuah kardus barang bekas di gudang. Sampai Sandra membuka kembali kardus tersebut, dan memberikannya kepada pabrik mainan, dengan permintaan agar di perbaiki lagi dan dijual kembali. Dari situlah, Gamebot yang dimiliki Sandra dan Kevin terjual secara terpisah di 4 kota yang berbeda.” Jelas Brian tanpa ada suara yang memotong.
“Wow. Keajaiban. Ajaib.” Kataku menympulkan. “Baiklah, aku mengerti sekarang. Lalu mengapa hanya kalian saja yang muncul di kamarku?” Aku melirik Brian, Sam, Frank, Sally, dan Gary.
“Karena sebelumnya kami sudah merunding dan kami sepakat agar kita berlima yang menunjukkan diri kepadamu, Nyonya.” Balas Sam.
“Baiklah para binatang darat, jika kalian akan menuruti perintahku, aku akan memerintah kalian sekarang. Pertama, jangan memanggilku Nyonya, panggil aku Helena. Kedua, anggaplah aku sebagai teman kalian sendiri, bukan sebagai manjikan. Dan ketiga, jangan melukai orang-orang terdekatku. Mengerti?” Aku mengangkat alis kananku layaknya seorang gadis yang memiliki satu juta bakat.
Semua binatang mengaum, dan bersorak. “Ayolah, teman-teman, bawa aku mengelilingi kawasan daratan ini.”
Brian menundukkan diri. “Baik, Nyonya. Di negara ini telah tersebar empat Gamebot Ajaib, masing-masing Gamebot memiliki binatang di dalamnya. Binatang Darat, Laut, Udara, dan Serangga. Dan kau, memiliki Gamebot yang memiliki binatang darat di dalamnya. Kami, akan menuruti segala apa yang kau perintah, karena kau adalah majikan kami. Jika Gamebot itu berpindah tangan, maka kau bukan majikan kami lagi. Kami bergantung pada pemilik Gamebot. Kami tak bisa berbicara di dunia nyata, tetapi kami bisa berbicara di dalam mimpi. Kami akan muncul jika kau memilih dua diantara kami pada menu awal, tetapi jika kau membutuhkan lebih dari dua, kau harus memainkan salah satu dari ke-12 permainan yang ada di dalam Gamebot milikmu dan menyelesaikan satu level untuk menambah dua binatang lagi. Begitupun seterusnya. Jika kau ingin kami pergi, tekan tombol ON/OFF.” Brian menjelaskan.
Wow, fantastis.
“Tetapi, kenapa bisa ada Gamebot seperti itu di dunia ini?” Tanyaku lagi.
“Pada 18 tahun yang lalu, ada seorang kakak-adik bersaudara bernama Kevin dan Sandra. Mereka sangat suka bermain dengan mainan mereka masing-masing. Suatu hari, mereka bermain Gamebot, dan berlomba meraih level dan score yang lebih tinggi. Saat itu sedang terjadi gerhana matahari total yang membuat seluruh kota gelap. Tetapi mereka tetap bersaing meraih angka yang lebih tinggi dari satu sama lain. Sampai mereka bertengkar, dan berteriak satu sama lain. Kevin berteriak bahwa 2 Gamebot yang dimilikinya bisa mengeluarkan binatang-binatang buas, dan bisa menggulung kakaknya, Sandra, dengan jaring laba-laba. Sementara Sandra berteriak bahwa 2 Gamebot miliknya juga bisa mengeluarkan burung elang yang bisa memangsa adiknya, Kevin, dan juga bisa merobek-robek tubuh Kevin dengan gigi seekor ikan hiu. Mereka bertengkar, sehingga kedua orangtuanya melarang mereka untuk bermain Gamebot lagi. Tanpa disadari dan diduga, kata-kata yang di ucapkan Kevin dan Sandrapun menjadi kenyataan. Kami sudah berada dalam benda yang disebut Gamebot selama 18 tahun dengan atas nama keajaiban. Sudah 18 tahun Gamebot milik Kevin dan Sandra tersimpan dalam sebuah kardus barang bekas di gudang. Sampai Sandra membuka kembali kardus tersebut, dan memberikannya kepada pabrik mainan, dengan permintaan agar di perbaiki lagi dan dijual kembali. Dari situlah, Gamebot yang dimiliki Sandra dan Kevin terjual secara terpisah di 4 kota yang berbeda.” Jelas Brian tanpa ada suara yang memotong.
“Wow. Keajaiban. Ajaib.” Kataku menympulkan. “Baiklah, aku mengerti sekarang. Lalu mengapa hanya kalian saja yang muncul di kamarku?” Aku melirik Brian, Sam, Frank, Sally, dan Gary.
“Karena sebelumnya kami sudah merunding dan kami sepakat agar kita berlima yang menunjukkan diri kepadamu, Nyonya.” Balas Sam.
“Baiklah para binatang darat, jika kalian akan menuruti perintahku, aku akan memerintah kalian sekarang. Pertama, jangan memanggilku Nyonya, panggil aku Helena. Kedua, anggaplah aku sebagai teman kalian sendiri, bukan sebagai manjikan. Dan ketiga, jangan melukai orang-orang terdekatku. Mengerti?” Aku mengangkat alis kananku layaknya seorang gadis yang memiliki satu juta bakat.
Semua binatang mengaum, dan bersorak. “Ayolah, teman-teman, bawa aku mengelilingi kawasan daratan ini.”
Aku tiba-tiba terbangun dengan
keadaan tengkurap. Aku melihat jam wekerku, ternyata masih jam 11 malam.
Aku menarik nafasku dalam dan
kembali menghembuskannya.
Apakah yang tadi itu nyata? Apakah benar mereka berbicara denganku?
Sial, ini membuatku berpikir keras lagi. Aku melirik laci dimana aku menyimpan Gamebotku. Sebenarnya aku ingin mencoba membuktikan apa perkataan Brian si singa, tetapi, tidak, biar nanti aku coba bersama Tom.
Apakah yang tadi itu nyata? Apakah benar mereka berbicara denganku?
Sial, ini membuatku berpikir keras lagi. Aku melirik laci dimana aku menyimpan Gamebotku. Sebenarnya aku ingin mencoba membuktikan apa perkataan Brian si singa, tetapi, tidak, biar nanti aku coba bersama Tom.
Oh ya, kenapa aku tidak
menghubungi Tom saja?
Aku mengambil ponselku di balik bantal, dan mulai menghubungi Tom. Aku menunggu Tom mengangkat Teleponku, Tom belum juga mengangkatnya, aku putuskan untuk mengakhirinya. Mungkin dia sudah terlelap. Aku putuskan untuk kembali tidur.
Aku mengambil ponselku di balik bantal, dan mulai menghubungi Tom. Aku menunggu Tom mengangkat Teleponku, Tom belum juga mengangkatnya, aku putuskan untuk mengakhirinya. Mungkin dia sudah terlelap. Aku putuskan untuk kembali tidur.
Dret..Dret, ponselku bergetar! Aku mengambilnya kembali, Tom
meneleponku, aku segera mengangkatnya.
“Hai, Tom.”
“Hey Helena ada apa
kau menghubungiku? Aku tadi sudah teridur, aku mendengar ponselku berdering,
aku tak sempat mengangkatnya, maafkan aku.” Suara tom terdengar sangat
parau.
“Ya, tak perlu kau meminta maaf. Aku hanya terbangun, dan
ingin menceritakan sesuatu kepadamu tentang Gamebot itu, tetapi kupikir, biar
kuceritakan besok saja, setuju?”
“Lalu mengapa kau
menghubungiku jika kau akan menceritakannya besok?”
“Baiklah, aku meminta maaf.”
“Tak masalah.”
“Tom, aku ingin tidur kembali, bisakah kau menyanyikan lagu
kesukaan kita agar aku dapat tertidur?”
“Oh ya, tentu saja
jika itu akan membuatmu terdidur. Kau ingin ikut bernyanyi?”
“Biar kau saja yang memulai, saat bagian chorus, baru aku
mengikuti.”
“Baiklah,”
Aku dan Tom memang meiliki lagu kesukaan bersama, lagu ini
menceritakan tentang kami berdua, kurang-lebih, itu kenapa aku dan dia
menyukainya. Lagu ini berjudul “Summertime”
dari My Chemical Romance.
“When the lights go
out,
Will you take me with
you?
And carry all this
broken bone,
Through six years down
in crowded rooms.
And highways I call
home?
Something I can't know
'til now.
'Til you pick me off
the ground,
With a brick in hand,
your lip-gloss smile,
Your scraped-up
knees.”
Aku mulai mengikuti Tom bernyanyi,
“And if you stay I
would even wait all night,
Or until my heart
explodes.
How long?
'Til we, find our way
in the dark and out of harm,
You can run away with
me,
Anytime you want.”
Aku tertawa kecil dan mulai menguap, mataku mulai berat, aku
mulai memejamkan mataku sementara Tom tetap bernyanyi.[]
Awesome, I can't wait for chapter9
BalasHapus