Summertime

Jumat, 07 Februari 2014

The Best and The Bad Things In My Life!

1. Club Manusia Repot-Repot



Penonton bersorak-sorai, sekitar 10.000 penonton memenuhi stadion , sangat berantusias, menunjukan ekspresi tanpa beban, lepas, bebas, kami semua merasa bahagia tak terkendali. Ya, aku salah satu dari mereka yang berbahagia. Kami sedang menonton konser “Blink-182”. Teriakan, Jeritan histeris, kami semua merasa benar-benar bahagia. Aku menjadi salah satu dari mereka yang menjerit-jerit histeris dan menangis bahagia, terlalu bahagia. Tentu saja, aku mencintai band ini, dengan teramat sangat. Kami melompat, bernyanyi mengikuti setiap lagu yang dibawakan. Aku juga merasakan bahwa tanganku basah dengan keringat, hangat dan nyaman rasanya. Aku sedang bergandengan tangan dengan Dia.Dia melihatku sambil sambil tersenyum yang membuatku merasa bagaikan anak perempuannya yang sedang bermain pasir di pantai. Dia terlihat puas dan bangga melalui senyumannya itu. Aku tertawa, menangis, dan menjerit dihadapannya. Dia menggengam tangan kananku erat. Dia melihat kea rah tangan kiriku, lalu menggenggamnya. Jadi, sekarang dia menggenggam kedua tanganku. Kita saling berhadapan dan bertemu pandang, saling menatap mata satu sama lain. Aku masih menyengir bahagia dan menangis, dia mengusap air mataku dengan lembut, dan mengecup keningku. Aku memeluknya erat setelah itu. Aku mendongkakkan kepalaku ke arah wajahnya yang teramat ganteng itu. Lalu dia menatap mataku dalam, kita saling bertatapan mata, dengan lambat dia semakin mendekatkan wajahnya ke kepalaku, nafasnya pun bisa kurasakan sekarang, semakin dekat, dan akhirnya dia menciumku dengan lembut…
                “ZARA! ZARA!” teriakan sorak sorai penonton berubah menjadi teriakan mengerikan dalam seketika, membuat telinga sakit. Ya, itu suara tanteku, Tante Elli sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Setiap pagi memang aku dibangunkan oleh Tante Elli karena dia masih menumpang hidup dirumah Ayahku. Jangan Tanya kenapa bukan Ibuku atau Ayahku yang membangunkanku, tentu saja mereka terlampau sibuk dengan pekerjaan mereka. Waktu menunjukan pukul 06:00. Ya, ini saatnya sekolah. Salah satu hal yang paling ku benci sepanjang hidup, bangun dipagi hari, terlalu pagi. Mengusik setiap mimpi yang teramat indah. Iya, yang tadi itu hanya mimpi.
                “Ya, aku udah bangun ko tan!” teriakku dari dalam kamar. Aku beranjak dari surga empuk milikku, lalu mempersiapkan diri untuk ‘sekolah’. Aku memerlukan waktu 30 menit untuk melakukan itu, kurang lebih. Aku melakukan sarapan terlebih dahulu, ya… Jadi menambah waktu 5 menit kira-kira. Sementara bel masuk sekolahku tepat pukul 07:00. Aku rasa 25 menit cukup untuk sampai di sekolah. “Zara! Tante kan udah bilang, kalo pintu kamar itu gausah dikunci! Jadi tante bisa membangunkanmu lebih cepat daripada tante harus ngetuk-ngetuk pintu kamar kamu lebih dari setengah jam cuman buat ngebangunin kamu yang tidurnya kaya kerbau itu!” omel tanteku saat aku mengunyah roti isi selai kacangku. “Terus, tante bisa ngeliat hal-hal pribadi aku seenaknya gitu?” kataku dengan tenang. “Tutup mulut kamu! Dikasih tau malah ngelawan! Pantes aja Ayah dan Ibu kamu ga peduli!” Dia menjawab seperti itu hingga membuat dadaku terasa sangat panas. “Cukup! Ga usah tante ngurusin hidup aku!” bentakku yang membuatnya cukup tercengang. “Oh ya ampun, maafin aku Tante Elli, mungkin tugas tante cuman harus membangunkanku aja, nggak sama yang lain.” Kataku dengan nada rendah. Tante Elli hanya diam mematung menatapku seperti orang yang sedang menyerukan tanda ‘perang’ tanpa suara. Aku pergi meninggalkan rumahku.
             Tepat pukul 06:40, aku sudah dalam perjalanan menuju sekolahku. 20 menit untuk jarak sekolah 10 kilometer, kurang lebih. Aku duduk berdesakkan didalam angkutan umum. Aku sudah terbiasa mengalaminya setiap pagi, setiap Senin sampai Jum’at. Inilah salah satu hal yang kusukai dalam hidupku, melihat para manusia repot-repot keluar rumah meninggalkan kasur dan selimut mereka yang hangat.. Nyaman… Sungguh seperti surga. Aku melihat kesekelilingku, ada 16 orang dalam angkutan umum ini, beserta sang supir. 2 orang mengenakan kemeja berwarna biru, dan hijau. 3 orang menggunakan gincu merah dan pewarna lainnya yang membuat wajah mereka terlihat konyol. 2 Ibu yang menjingjing kantong plastic berisi sayur-sayuran, barangkali. Sepasang anak kembar berumur kira-kira 6 tahun bersama dengan ibunya. 3 orang mengenakan putih biru.  Satu supir dengan mata berkantung, dan sisanya orang mengenakan putih abu-abu yang sangat terlihat bodoh. Ya, tepatnya sepertiku sekarang.  Lalu melihat keluar jendela, ada puluhan manusia berkendara sejauh mata memandang. Dan ada yang menyusuri trotoar, menyebrang jalan, dan ada juga yang berdiam diri ditengah jalan raya mengganggu kendaraan melintas. Oh, itu Orang Gila.
            Hal terbaik dalam hidupku yang lainnya adalah, melihat ekspresi mereka. Ada yang terlihat tenang-tenang saja, Ada yang mengantuk, ada yang memasang ekspresi datar, ada yang memasang mata tajam dan berwajah judes seakan-akan dia sedang mengatakan “seandainya aktivitas bodoh ini adalah seorang makhluk hidup, mungkin sudah kubunuh dari kemarin.” Ada yang resah melihat ke arah jam tangannya setiap satu menit sekali, kurang lebih. Dan ada juga yang senyum-senyum sendiri melihat kearah mereka, itu adalah aku. Dan ada juga yang melihat ke arahku dengan tatapan sinis sekan dia telah menyimpulkan bawa aku ‘gadis terganggu’. Alasan aku menyukai hal ini adalah, mereka sama sebalnya seperti aku. Telah tersimpulkanlah bahwa kami adalah anggota Club Manusia Repot-Repot.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar