12. Tamasnya di Hari Sabtu
“Baiklah, Tom. Kita akan lihat,
bagaimana benda ajaib ini bekerja.” Aku menghela nafas dan menatapi Gamebot
ditanganku.
Aku dan Tom telah sampai di
tengah-tengah hutan, kurasa.
Aku telah mencari kendaraan yang
bisa mengantarkan aku dan Tom menuju hutan, tetapi tidak ada yang memiliki
tujuan satu arah dengan kami. Akhirnya aku dengan ragu bertanya pada seorang
pria berkemeja kotak-kotak dan hijau merah dan sepatu boots di dekat restroran
khas Cina sedang meneguk minuman kalengnya. Aku bertanya apakah aku bisa
menumpang pada mobilnya, dan pria tersebut bertanya kemana aku akan pergi, aku
berkata bahwa aku akan pergi menuju hutan nasional, dan dengan mengejutkan
sekaligus membuatku senang pria tersebut berkata bahwa dia juga akan pergi
menuju tempat yang sama untuk mengambil beberapa kayu yang sudah harus
ditebang.
Aku dan Tom duduk di belakang bersama angin-angin yang berhembus kencang meniupi tubuh kami selama dalam perjalanan.
Pria tersebut sempat bertanya kebingungan padaku dan Tom apa yang akan kami lakukan di sebuah hutan. Aku mengklarifikasi dengan cepat bahwa aku dan Tom bukan sepasang kekasih dan kami tidak memiliki niat untuk melakukan seks di sebuah hutan. Sungguh jawaban yang bodoh. Tidakkah aku bisa menjawabnya dengan alasan yang normal saja?
Aku dan Tom duduk di belakang bersama angin-angin yang berhembus kencang meniupi tubuh kami selama dalam perjalanan.
Pria tersebut sempat bertanya kebingungan padaku dan Tom apa yang akan kami lakukan di sebuah hutan. Aku mengklarifikasi dengan cepat bahwa aku dan Tom bukan sepasang kekasih dan kami tidak memiliki niat untuk melakukan seks di sebuah hutan. Sungguh jawaban yang bodoh. Tidakkah aku bisa menjawabnya dengan alasan yang normal saja?
Lalu Tom berkata bahwa kami
memiliki tugas penelitian dari sekolah, dan pria tersebut mengangguk dan tak
banyak bertanya lagi.
Aku dan Tom berterimakasih pada pria
yang memberikan kami tumpangan tadi tetapi pria itu tersenyum geli pada kami
berdua lalu meninggalkan kami. Dasar pria tua aneh.
Aku dan Tom berjalan memasuki
hutan dan mencari tempat yang tidak banyak dikunjungi para wisatawan ataupun
para pekemah.
“Helena, apa kau yakin?” Tanya
Tom saat kami berdua sudah berada di tempat yang jauh dari para wisatawan dan
pekemah.
Dia terlihat ragu, sepertinya.
Dia terlihat ragu, sepertinya.
Aku menghela nafas dan mulai menekan
tombol ON/OFF Gamebotku. Dilayar
kecil Gamebot ini terdapat menu, ya bisa kubilang begitu.
Ada 3 pilihan, yaitu:
Ada 3 pilihan, yaitu:
- MAMALIA
- REPTILIA
- UNGGAS
Lalu kupilih MAMALIA. Setelah
itu, muncul kalimat “Please Choose A
Category”. Beberapa huruf alphabet muncul. Oh, mungkin huruf-huruf ini
menunjukan huruf pertama dari nama-nama binatang. Aku memilih huruf G untuk ‘Giraffe’. Karena hanya ada 3 jerapah, maka sudah jelas
kupilih Franky.
“Choose Another One” perintah Gamebot ini. Lalu aku melakukan hal
yang sama, hayna saja aku memilih huruf H untuk ‘Horse’ dan memilih Gwen.
Bagian kepala dari Gamebotku lalu
terbuka.
“BersiapTom!” Aku tersenyum
menggoda Tom.
Jaring-jaring matriks keluar dari
kepala Gamebotku seperti pertama kali aku melihatnya. Jaring-jaring matriks ini
menggambarkan kerangka tubuh Franky dan Gwen dengan matriks sebelum akhirnya
menjadi seperti nyata.
“Wow, Helena.” Mata Tom
membelalak memandangi Franky dan Gwen.
Tom mendekati kedua binatang yang
sedang berdiam diri itu perlahan. Dia mulai menyentuh Gwen lalu mengusap
rambutnya.
“Ini, nyata.” Tom tersenyum
kagum.
Aku tersenyum padanya.
“Franky, Gwen, bersikap biasalah.
Kalian bisa memakan rumput-rumput ini jika kalian mau.” Aku mulai memerintah.
Benar! Franky dan Gwen bergerak
seperti hewan-hewan nyata pada umumnya.
“Indah sekali!” Tom tak
henti-hentinya mengagumi Franky dan Gwen.
“Lalu, apa lagi?” Tanyaku.
Tom menaikkan alis kirinya dan
tersenyum padaku. “Menurutmu?”
Aku diam berusaha membaca senyum
sarkatisnya.
Aku memandangi Franky dan Gwen,
lalu mengalihkannya pada Tom, berharap aku bisa membaca maksud Tom. Tunggu…
mengapa kita tidak menunggangi mereka saja? Maksudku, Franky dan Gwen! Oh
mengapa aku terlalu lamban berpikir!
“Ya Tom, aku mengerti!” Aku
bekata dengan penuh semangat.
Aku berjalan cepat menghampiri
Gwen.
“Baiklah, aku menunggangi Gwen,
dan kau Franky. Setuju?” Aku berkata selagi aku mengusap-usap rambut Gwen.
“Setuju!” Tom sepakat.
“Franky, duduklah.” Aku
memerintah.
“Hebat!” Tom berlari meninggalkan
aku dan Gwen lalu kemudian menunggangi Franky.
Aku menunggangi Gwen dengan
kakiku yang tak berpijak.
“Franky, berdirilah.” Aku
memerintahnya lagi, “Gwen, Franky, mari kita berjalan mengelilingi hutan!”
Aku dan
Tom bersama Franky dan Gwen berkeliling hutan dan berlari sesekali jika kita
melihat ada seorang manusia. Kami berfoto bersama, dan tertawa dengan semua
tipuan matriks ini.
Kupustukan
untuk berhenti di antara pepohonan yang menyembunyikan keberadaan kami untuk
beristirahat sejenak. Aku dan Tom duduk dan menyandarkan tubuh kami pada sebuah
pohon yang kami tak ketahui jenisnya.
Aku
menangkap sebotol air mineral yang Tom lemparkan padaku. Aku meneguk minuman
itu sampai habis lalu membuang botolnya ke sembarang tempat.
“Helena,
ini sangat menyenangkan!” Tom tertawa.
“Sudah kupastikan kali ini kau tak meragukan Gamebot itu lagi.” Kataku.
“Lalu kenapa kau tidak coba keluarkan lebih banyak binatang saja?” Tom mengelap kacamatanya dengan bajunya.
“Kau kira aku ingin menciptakan sebuah kebun binatang?” Aku tertawa, “Dua tunggangan saja sudah cukup jika hanya untuk melakukan tamasya keliling hutan.”
Tom memakai kacamatanya kembali, “Masuk di akal.”
“Sudah kupastikan kali ini kau tak meragukan Gamebot itu lagi.” Kataku.
“Lalu kenapa kau tidak coba keluarkan lebih banyak binatang saja?” Tom mengelap kacamatanya dengan bajunya.
“Kau kira aku ingin menciptakan sebuah kebun binatang?” Aku tertawa, “Dua tunggangan saja sudah cukup jika hanya untuk melakukan tamasya keliling hutan.”
Tom memakai kacamatanya kembali, “Masuk di akal.”
Aku
memandangi langit biru dari celah-celah daun yang bersingunggan, mendengar
kicauan burung-burung, dan juga bunyi daun-daun yang tertiup oleh angin.
Tiba-tiba
saja ponselku bergetar di dalam ranselku, memecahkan kesunyian. Nama dan foto
Papa tertera di layar ponselku. Aku langsung mengangkatnya dengan cepat.
“Helena, sedang dimana kau?!” Suara Papa
terdengar keras hingga Tom dapat mendengarnya.
Tom
mendekatkan dirinya di sisiku.
Aku
mencoba menenangkan diriku agar tak terdengar panik oleh Papa. “Aku sedang bersama
Tom, Papa.”
“Ini sudah hampir larut malam!” Katanya dengan nada tinggi, “Sedang apa kau hingga tak mengangkat telepon dariku?!” Tambahnya.
“Papa, aku sedang melakukan penelitian bersama Tom di Akirema. Aku tak sempat mengecek ponselku.” Kataku dengan tenang.
“PULANG!” Papa membentakkan suaranya.
“Berikan ponselnya padaku! Bukan seperti itu caranya berbicara pada putrimu!” Aku mendengarkan suara Mama, yang sepertinya sedang berada di belakang Papa.
“Mama?” Aku memanggil Mama.
“Helena, ya, ini Mama.” Mama menyaut, “Pulanglah sekarang juga, ada hal penting yang harus Mama sampaikan.” Lanjutnya.
“Menyampaikan hal penting seperti apa?” Aku bertanya.
Tiba-tiba terdengar suara isakan tangis. Sementara Mama masih diam tak membalas.
“Mama?! Ada apa?!” Aku berkata lebih keras dan dengan refleks menegakkan tubuhku.
“Pulang cepat, hati-hati selama kau dalam perjalanan. Mama menunggumu. Aku sayang padamu.”
Mama menutup percakapan dengan cepat.
“Ini sudah hampir larut malam!” Katanya dengan nada tinggi, “Sedang apa kau hingga tak mengangkat telepon dariku?!” Tambahnya.
“Papa, aku sedang melakukan penelitian bersama Tom di Akirema. Aku tak sempat mengecek ponselku.” Kataku dengan tenang.
“PULANG!” Papa membentakkan suaranya.
“Berikan ponselnya padaku! Bukan seperti itu caranya berbicara pada putrimu!” Aku mendengarkan suara Mama, yang sepertinya sedang berada di belakang Papa.
“Mama?” Aku memanggil Mama.
“Helena, ya, ini Mama.” Mama menyaut, “Pulanglah sekarang juga, ada hal penting yang harus Mama sampaikan.” Lanjutnya.
“Menyampaikan hal penting seperti apa?” Aku bertanya.
Tiba-tiba terdengar suara isakan tangis. Sementara Mama masih diam tak membalas.
“Mama?! Ada apa?!” Aku berkata lebih keras dan dengan refleks menegakkan tubuhku.
“Pulang cepat, hati-hati selama kau dalam perjalanan. Mama menunggumu. Aku sayang padamu.”
Mama menutup percakapan dengan cepat.
Aku
mulai panik, pikiranku tak karuan. Nafasku terengah-engah.
“Helena, tenanglah!” Tom memengangi pundakku.
“Tom, kita harus pulang sekarang juga. Hal yang buruk sedang terjadi pada Mama.” Aku berdiri dan menghampiri Gwen.
“Baiklah.” Tom menyusul langkahku.
“Helena, tenanglah!” Tom memengangi pundakku.
“Tom, kita harus pulang sekarang juga. Hal yang buruk sedang terjadi pada Mama.” Aku berdiri dan menghampiri Gwen.
“Baiklah.” Tom menyusul langkahku.
Membutuhkan
waktu 15 menit, kurang-lebih, untuk sampai di dekat mulut jalanan.
“Baiklah,
jalan-jalan hari ini sudah selesai.” Kataku, “Terimakasih Franky, Gwen.” Aku
mengakhiri.
Aku
lalu menekan tombol ON/OFF.
Bagian
kepala Gamebot terbuka, dan keluarlah kembali jaring-jaring matriks meyedot
Franky dan Gwen menjadi kerangka matriks lalu bersatu menjadi jaring-jaring
matriks ke dalam Gamebot.
“Wow,
keren.” Tom berkata tanpa ekspresi.
Aku memasukan Gamebot ke dalam
ranselku.
“Tom, kita harus pulang dengan
cepat!” Aku menarik lengan Tom dan berlari.
Aku tak memiliki waktu untuk
menanggapi kekagumannya pada Gamebot pemberian Ibunya. Kau mau aku bilang apa
lagi? Gamebot ini lebih keren dari apapun yang kau akan sebut keren. Percayalah
padaku.
“Aku membawa uangku yang sengaja
aku kumpulkan untuk hari ini.” Tom berkata selagi kami berlari mengejar waktu.
“Lalu?” Aku bertanya.
“Uangnya masih tersisa, mungkin kita bisa naik taksi, Helena.” Katanya.
“Lalu?” Aku bertanya.
“Uangnya masih tersisa, mungkin kita bisa naik taksi, Helena.” Katanya.
Aku berhenti mendadak sehingga
tubuh Tom terhentikan olehku.
Aku menyeringai padanya. Aku
menghampirinya lalu mencium pipinya.
“Kau jenius!” Aku menarik lengannya dan menyeretnya lagi untuk berlari.
Tetapi, Tom menahan langkahnya dengan kuat yang membuatku berhenti juga.
“Kau jenius!” Aku menarik lengannya dan menyeretnya lagi untuk berlari.
Tetapi, Tom menahan langkahnya dengan kuat yang membuatku berhenti juga.
Tom tersenyum dan tertawa kecil
tanpa aku tahu apa yang dia tertawakan.
“Berlari lebih cepat!” Tom menarik lenganku dan memimpin langkah kami berdua. []
“Berlari lebih cepat!” Tom menarik lenganku dan memimpin langkah kami berdua. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar