Summertime

Kamis, 21 Agustus 2014

The Magic of Gamebots



12. Tamasnya di Hari Sabtu


“Baiklah, Tom. Kita akan lihat, bagaimana benda ajaib ini bekerja.” Aku menghela nafas dan menatapi Gamebot ditanganku.
Aku dan Tom telah sampai di tengah-tengah hutan, kurasa.
Aku telah mencari kendaraan yang bisa mengantarkan aku dan Tom menuju hutan, tetapi tidak ada yang memiliki tujuan satu arah dengan kami. Akhirnya aku dengan ragu bertanya pada seorang pria berkemeja kotak-kotak dan hijau merah dan sepatu boots di dekat restroran khas Cina sedang meneguk minuman kalengnya. Aku bertanya apakah aku bisa menumpang pada mobilnya, dan pria tersebut bertanya kemana aku akan pergi, aku berkata bahwa aku akan pergi menuju hutan nasional, dan dengan mengejutkan sekaligus membuatku senang pria tersebut berkata bahwa dia juga akan pergi menuju tempat yang sama untuk mengambil beberapa kayu yang sudah harus ditebang.
                Aku dan Tom duduk di belakang bersama angin-angin yang berhembus kencang meniupi tubuh kami selama dalam perjalanan.
                Pria tersebut sempat bertanya kebingungan padaku dan Tom apa yang akan kami lakukan di sebuah hutan. Aku mengklarifikasi dengan cepat bahwa aku dan Tom bukan sepasang kekasih dan kami tidak memiliki niat untuk melakukan seks di sebuah hutan. Sungguh jawaban yang bodoh. Tidakkah aku bisa menjawabnya dengan alasan yang normal saja?
Lalu Tom berkata bahwa kami memiliki tugas penelitian dari sekolah, dan pria tersebut mengangguk dan tak banyak bertanya lagi.
Aku dan Tom berterimakasih pada pria yang memberikan kami tumpangan tadi tetapi pria itu tersenyum geli pada kami berdua lalu meninggalkan kami. Dasar pria tua aneh.
Aku dan Tom berjalan memasuki hutan dan mencari tempat yang tidak banyak dikunjungi para wisatawan ataupun para pekemah.

“Helena, apa kau yakin?” Tanya Tom saat kami berdua sudah berada di tempat yang jauh dari para wisatawan dan pekemah.
                Dia terlihat ragu, sepertinya.
Aku menghela nafas dan mulai menekan tombol ON/OFF Gamebotku. Dilayar kecil Gamebot ini terdapat menu, ya bisa kubilang begitu.
                Ada 3 pilihan, yaitu:
- MAMALIA
- REPTILIA
- UNGGAS
Lalu kupilih MAMALIA. Setelah itu, muncul kalimat “Please Choose A Category”. Beberapa huruf alphabet muncul. Oh, mungkin huruf-huruf ini menunjukan huruf pertama dari nama-nama binatang. Aku memilih huruf G untuk ‘Giraffe’.  Karena hanya ada 3 jerapah, maka sudah jelas kupilih Franky.
Choose Another One” perintah Gamebot ini. Lalu aku melakukan hal yang sama, hayna saja aku memilih huruf H untuk ‘Horse’ dan memilih Gwen.
Bagian kepala dari Gamebotku lalu terbuka.
“BersiapTom!” Aku tersenyum menggoda Tom.
Jaring-jaring matriks keluar dari kepala Gamebotku seperti pertama kali aku melihatnya. Jaring-jaring matriks ini menggambarkan kerangka tubuh Franky dan Gwen dengan matriks sebelum akhirnya menjadi seperti nyata.
“Wow, Helena.” Mata Tom membelalak memandangi Franky dan Gwen.
Tom mendekati kedua binatang yang sedang berdiam diri itu perlahan. Dia mulai menyentuh Gwen lalu mengusap rambutnya.
“Ini, nyata.” Tom tersenyum kagum.
Aku tersenyum padanya.
“Franky, Gwen, bersikap biasalah. Kalian bisa memakan rumput-rumput ini jika kalian mau.” Aku mulai memerintah.
Benar! Franky dan Gwen bergerak seperti hewan-hewan nyata pada umumnya.
“Indah sekali!” Tom tak henti-hentinya mengagumi Franky dan Gwen.
“Lalu, apa lagi?” Tanyaku.
Tom menaikkan alis kirinya dan tersenyum padaku. “Menurutmu?”
Aku diam berusaha membaca senyum sarkatisnya.
Aku memandangi Franky dan Gwen, lalu mengalihkannya pada Tom, berharap aku bisa membaca maksud Tom. Tunggu… mengapa kita tidak menunggangi mereka saja? Maksudku, Franky dan Gwen! Oh mengapa aku terlalu lamban berpikir!
“Ya Tom, aku mengerti!” Aku bekata dengan penuh semangat.
Aku berjalan cepat menghampiri Gwen.
“Baiklah, aku menunggangi Gwen, dan kau Franky. Setuju?” Aku berkata selagi aku mengusap-usap rambut Gwen.
“Setuju!” Tom sepakat.
“Franky, duduklah.” Aku memerintah.
“Hebat!” Tom berlari meninggalkan aku dan Gwen lalu kemudian menunggangi Franky.
Aku menunggangi Gwen dengan kakiku yang tak berpijak.
“Franky, berdirilah.” Aku memerintahnya lagi, “Gwen, Franky, mari kita berjalan mengelilingi hutan!”


                Aku dan Tom bersama Franky dan Gwen berkeliling hutan dan berlari sesekali jika kita melihat ada seorang manusia. Kami berfoto bersama, dan tertawa dengan semua tipuan matriks ini.


                Kupustukan untuk berhenti di antara pepohonan yang menyembunyikan keberadaan kami untuk beristirahat sejenak. Aku dan Tom duduk dan menyandarkan tubuh kami pada sebuah pohon yang kami tak ketahui jenisnya.

                Aku menangkap sebotol air mineral yang Tom lemparkan padaku. Aku meneguk minuman itu sampai habis lalu membuang botolnya ke sembarang tempat.
                “Helena, ini sangat menyenangkan!” Tom tertawa.
                “Sudah kupastikan kali ini kau tak meragukan Gamebot itu lagi.” Kataku.
                “Lalu kenapa kau tidak coba keluarkan lebih banyak binatang saja?” Tom mengelap kacamatanya dengan bajunya.
                “Kau kira aku ingin menciptakan sebuah kebun binatang?” Aku tertawa, “Dua tunggangan saja sudah cukup jika hanya untuk melakukan tamasya keliling hutan.”
                Tom memakai kacamatanya kembali, “Masuk di akal.”

                Aku memandangi langit biru dari celah-celah daun yang bersingunggan, mendengar kicauan burung-burung, dan juga bunyi daun-daun yang tertiup oleh angin.
 
                Tiba-tiba saja ponselku bergetar di dalam ranselku, memecahkan kesunyian. Nama dan foto Papa tertera di layar ponselku. Aku langsung mengangkatnya dengan cepat.
                Helena, sedang dimana kau?!” Suara Papa terdengar keras hingga Tom dapat mendengarnya.
                Tom mendekatkan dirinya di sisiku.
                Aku mencoba menenangkan diriku agar tak terdengar panik oleh Papa. “Aku sedang bersama Tom, Papa.”
                “Ini sudah hampir larut malam!”  Katanya dengan nada tinggi, “Sedang apa kau hingga tak mengangkat telepon dariku?!” Tambahnya.
                Papa, aku sedang melakukan penelitian bersama Tom di Akirema. Aku tak sempat mengecek ponselku.” Kataku dengan tenang.
                PULANG!” Papa membentakkan suaranya.
                Berikan ponselnya padaku! Bukan seperti itu caranya berbicara pada putrimu!” Aku mendengarkan suara Mama, yang sepertinya sedang berada di belakang Papa.
                “Mama?” Aku memanggil Mama.
                Helena, ya, ini Mama.” Mama menyaut, “Pulanglah sekarang juga, ada hal penting yang harus Mama sampaikan.” Lanjutnya.
                “Menyampaikan hal penting seperti apa?” Aku bertanya.
                Tiba-tiba terdengar suara isakan tangis. Sementara Mama masih diam tak membalas.
                “Mama?! Ada apa?!” Aku berkata lebih keras dan dengan refleks menegakkan tubuhku.
                Pulang cepat, hati-hati selama kau dalam perjalanan. Mama menunggumu. Aku sayang padamu.”
                Mama menutup percakapan dengan cepat.
                Aku mulai panik, pikiranku tak karuan. Nafasku terengah-engah.
                “Helena, tenanglah!” Tom memengangi pundakku.
                “Tom, kita harus pulang sekarang juga. Hal yang buruk sedang terjadi pada Mama.” Aku berdiri dan menghampiri Gwen.
                “Baiklah.” Tom menyusul langkahku.


                Membutuhkan waktu 15 menit, kurang-lebih, untuk sampai di dekat mulut jalanan.

                “Baiklah, jalan-jalan hari ini sudah selesai.” Kataku, “Terimakasih Franky, Gwen.” Aku mengakhiri.
                Aku lalu menekan tombol ON/OFF.
                Bagian kepala Gamebot terbuka, dan keluarlah kembali jaring-jaring matriks meyedot Franky dan Gwen menjadi kerangka matriks lalu bersatu menjadi jaring-jaring matriks ke dalam Gamebot.
                “Wow, keren.” Tom berkata tanpa ekspresi.
Aku memasukan Gamebot ke dalam ranselku.
“Tom, kita harus pulang dengan cepat!” Aku menarik lengan Tom dan berlari.
Aku tak memiliki waktu untuk menanggapi kekagumannya pada Gamebot pemberian Ibunya. Kau mau aku bilang apa lagi? Gamebot ini lebih keren dari apapun yang kau akan sebut keren. Percayalah padaku.


“Aku membawa uangku yang sengaja aku kumpulkan untuk hari ini.” Tom berkata selagi kami berlari mengejar waktu.
                “Lalu?” Aku bertanya.
                “Uangnya masih tersisa, mungkin kita bisa naik taksi, Helena.” Katanya.
Aku berhenti mendadak sehingga tubuh Tom terhentikan olehku.
Aku menyeringai padanya. Aku menghampirinya lalu mencium pipinya.
                “Kau jenius!” Aku menarik lengannya dan menyeretnya lagi untuk berlari.
                Tetapi, Tom menahan langkahnya dengan kuat yang membuatku berhenti juga.
Tom tersenyum dan tertawa kecil tanpa aku tahu apa yang dia tertawakan.
                “Berlari lebih cepat!” Tom menarik lenganku dan memimpin langkah kami berdua. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar